Ada sebuah kisah yang sering diceritakan turun-temurun di Tanjung Segara tentang dua nelayan muda, Surya dan Lintang. Mereka tumbuh bersama di desa kecil itu, menjalin ikatan sejak kecil saat membantu orang tua mereka memperbaiki jaring. Konon, setiap matahari terbenam, mereka duduk di batu karang sambil berbagi impian—Surya ingin mengarungi samudera, Lintang berharap mempertahankan warisan keluarga sebagai pembuat perahu.
Tragedi datang ketika Surya hilang dalam badai saat mencari ikan di laut lepas. Lintang menolak percaya dia telah tiada. Selama tujuh tahun, dia melabuhkan perahu baru setiap bulan purnama, menghiasi haluannya dengan ukiran bunga kamboja—lambang kesetiaan dalam budaya mereka. Suatu pagi, kabin perahu itu ditemukan penuh dengan mutiara dan karang langka, jejak Surya yang ternyata terdampar di pulau terpencil. Reuni mereka di dermaga menjadi legenda, diiringi nyanyian para nelayan tentang cinta yang mengalahkan jarak dan waktu.