Heavenly Rift
Ia menoleh sekilas: Hana juga bangun, menatap ke luar jendela dengan tatapan yang lebih tenang dibanding kemarin, tangannya mengusap punggung Lumi yang kadang-kadang berubah rona lembut.
Ingatan yang belum lama berlalu perlahan menapak kembali. Sore tadi—di kediaman Tarin—segalanya bergerak cepat. Pelayan menyiapkan bekal tanpa banyak suara: roti padat, air dalam kantong kulit, perban, serta lampu kristal yang diselipkan di peti kecil. Di ruang utama, peta terbentang di meja bundar. Titik-titik merah menggambar alur yang nyaris terlupakan di bagian selatan, menelusuri sisi sungai dan jalur hijau yang jarang dipakai. Tarin menelusuri peta dengan ujung jarinya, suaranya rendah namun jelas. “In
Sikat na Kabanata