Upacara Terakhir untuk Cinta yang Telah Pergi
Di hari ulang tahunku, aku dan adik angkatku mengalami kecelakaan mobil.
Saat api mulai mengoyak tubuhku, tunanganku justru menunjuk ke kursi penumpang dan berseru, "Selamatkan Julia dulu, dia punya penyakit jantung!"
Saat terbangun, wajahku hancur sepenuhnya, dan hidupku divonis tinggal satu bulan lagi.
Demi kepentingan bisnis kedua keluarga, orang tuaku memutuskan agar adik angkatku menggantikanku untuk menikah.
Tunanganku membelai perban di wajahku dengan penuh simpati, lalu berjanji, "Setelah kamu sembuh, posisi Nyonya Rivano tetap akan menjadi milikmu."
Aku tersenyum dan menyetujuinya.
Bahkan, aku memberikan semua saham, aset properti, hingga karya lukisanku yang belum dipublikasikan sebagai hadiah pernikahan untuk adikku.
Bermodalkan lukisanku, dia menjadi seniman besar yang dipuja banyak orang.
Saat diwawancarai wartawan, ibuku menangis haru. "Syukurlah dulu bukan dia yang celaka. Kalau nggak, keluarga kami pasti akan kehilangan sosok genius seperti dia!"
Tunanganku pun mengumumkan dengan bangga bahwa adikku akan menjadi satu-satunya nyonya di Keluarga Rivano.
Akan tetapi, mereka tidak tahu bahwa sang genius yang asli sedang memperhatikan mereka dengan dingin dari sudut ruangan.
Dan segala hal yang kuberikan dengan tanganku sendiri itu ....
Sejak awal hanyalah tumbal yang kusiapkan untuk membalas dendam.