로그인Pernikahan tanpa cinta, dendam tersembunyi, dan luka terdalam. Glen membenci Aruna karena wasiat sang kakek. Bagi Glen, Aruna adalah simbol paksaan. Tapi di balik senyum Aruna, tersembunyi luka yang tak pernah disuarakan. Ketika Aruna memilih mengakhiri hidupnya tepat di hadapan Glen, segalanya berubah—termasuk hatinya.
더 보기Hari itu, matahari menyinari ruang tamu rumah mereka dengan lembut. Tirai berwarna krem terbuka setengah, membiarkan cahaya hangat menari di dinding. Aruna duduk di sofa, menggendong Aira yang baru saja selesai menyusu. Wajah kecil itu tampak damai, matanya terpejam, bibir mungilnya masih basah, dan jemari mungilnya menggenggam erat jari Aruna.“Aira, kamu tahu nggak? Dunia mama dulu rasanya gelap sekali. Tapi sekarang, dengan senyummu… semuanya berubah jadi terang.” Aruna berbisik, suaranya bergetar lembut.Glen yang baru keluar dari dapur membawa secangkir teh hangat ikut duduk di sampingnya. Ia menatap bayi kecil itu dengan campuran rasa kagum dan takut. “Dia kelihatan rapuh sekali, Run. Kadang aku takut… kalau aku nggak cukup kuat untuk jadi ayah yang baik buatnya.”Aruna menoleh, tersenyum meski matanya lelah. “Kita belajar sama-sama, Glen. Aku juga masih sering merasa nggak bisa. Tapi lihat… Aira tetap tumbuh. Dia percaya sama kita.”Glen mengusap kepala Aruna, lalu menunduk men
Hari-hari setelah kepulangan dari rumah sakit berjalan bagai putaran roda yang tak pernah berhenti. Malam berganti pagi tanpa jeda, dan bagi Aruna, waktu seakan tak lagi linear. Semua terasa berputar di sekitar bayi kecil mereka—menangis, menyusu, tertidur, lalu kembali menangis lagi.Aruna duduk di kursi goyang di kamar bayi, rambutnya sedikit berantakan, matanya sembab karena kurang tidur. Namun di pangkuannya, bayi mungil itu tertidur pulas setelah perjuangan panjang menyusu. Nafas kecil yang teratur, dada yang naik turun begitu halus, membuat Aruna ingin menangis haru.“Tidurlah, sayang. Mama di sini … Papa juga di sini,” bisiknya lembut, mencium dahi mungil itu.Glen berdiri di ambang pintu, memperhatikan pemandangan itu dengan hati yang campur aduk. Ia sudah terbiasa menghadapi rapat besar, memimpin ratusan karyawan, membuat keputusan yang menentukan nasib banyak orang. Tapi di hadapannya kini, ada satu makhluk kecil yang seluruh kehidupannya bergantung pada mereka. Dan untuk pe
Matahari pagi menyapa jendela kamar mereka dengan cahaya hangat. Suara burung di kejauhan dan gemerisik angin dari sela-sela daun membuat suasana pagi itu terasa damai. Namun di dalam kamar sederhana yang kini berubah menjadi ruang penuh cinta dan tanggung jawab baru, Aruna duduk di pinggir tempat tidur dengan mata sembab dan tubuh yang terlihat kelelahan.Bayinya, yang baru saja tertidur setelah tangis panjang semalaman, meringkuk dalam selimut kecil di boks kayu di samping ranjang. Glen baru saja datang dari dapur dengan secangkir teh hangat dan sepotong roti bakar yang sudah mulai dingin.“Sayang... kamu udah makan belum?” Glen mendekat dengan hati-hati.Aruna hanya menggeleng pelan. Air matanya tak sengaja menetes lagi. “Aku... aku takut aku nggak cukup baik buat dia.”Glen meletakkan cangkir itu di meja kecil, lalu berjongkok di hadapan istrinya. Ia mengangkat wajah Aruna dengan lembut, menatap mata kelelahan itu dengan penuh cinta. “Aruna, kamu ibu yang hebat. Aku tahu ini nggak
Pagi itu matahari bersinar lembut, seolah ikut menyambut dua jiwa yang kini pulang dengan satu jiwa baru di pelukan mereka. Mobil hitam milik Glen berhenti perlahan di depan rumah. Glen turun terlebih dahulu, membuka pintu mobil untuk Aruna, yang duduk dengan hati-hati sambil memangku bayi kecil mereka yang tertidur pulas di dalam gendongan.“Pelan-pelan,” bisik Glen lembut, tangannya sigap menahan lengan Aruna.“Glen, aku bukan orang sakit. Aku baik-baik saja,” ucap Aruna sambil tersenyum, tapi tetap menggenggam erat lengannya. Di balik tawanya, tubuhnya masih lemah setelah proses persalinan yang begitu melelahkan.Glen tidak menjawab. Ia hanya menunduk dan mencium puncak kepala Aruna sebelum meraih tas bayi dan pintu rumah. Ketika pintu terbuka, rumah itu terasa berbeda. Ada aroma manis dari bunga lily di meja, suara lembut musik instrumental yang sudah diputar Glen sejak semalam, dan kehangatan yang sulit dijelaskan—sebuah energi baru, energi kehidupan.“Selamat datang di rumahmu,
Hari-hari di rumah sakit berubah menjadi rutinitas yang tak pernah Glen bayangkan sebelumnya. Ia—CEO muda yang biasanya hanya peduli pada laporan bisnis dan rapat penting—kini terbiasa datang pagi-pagi ke ruang rawat Aruna, menggantikan selimutnya, menyuapi sarapan, bahkan mengajak Aruna berbicara
Suara mesin monitor detak jantung terus berdetak dengan irama tenang. Suara itu menjadi satu-satunya penanda bahwa kehidupan masih menggantung di tubuh Aruna. Glen masih duduk di kursi yang sama, tubuhnya sedikit condong ke depan, tangan kanan menggenggam jemari Aruna. Ia belum bergeser sedikit pu
Sudah tiga hari sejak Aruna koma. Selama itu pula Glen tidak pulang ke apartemen maupun kantornya. Ia memilih tinggal di ruang tunggu rumah sakit, tidur di kursi, makan seadanya, dan menolak semua panggilan dari kolega maupun asistennya.Yang ia butuhkan saat ini bukan rapat direksi atau laporan ke
Sirene ambulans meraung memecah keheningan kota Paris, menggema di antara gedung-gedung tinggi yang menyimpan sejuta rahasia dan luka. Di depan gedung Armand Corporation, kerumunan orang mulai berkumpul, sebagian menutup mulut, sebagian lagi memotret dengan ponsel—tapi tak ada yang benar-benar mema






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.