Sisa Rasa
Dika yang berdiri di sisi lain ranjang dengan mata berkaca kaca tak kuasa melihat adiknya yang biasanya ceria kini terbaring lemah tak berdaya.
Selin, yang masih setengah sadar akibat obat penghilang rasa sakit, merasakan ada tangan hangat menggenggamnya. Ia membuka mata perlahan. Bayangan kabur perlahan membentuk wajah yang sangat ia kenali.
“Ma. . . ma ?” bisiknya lemah. Mama Sekar tersenyum di antara air mata.
“Iya sayang, mama disini.” Jawab Mama Sekar pelan.