Saat Aku Salah Membencimu
Atau justru menangis?
Tenggorokan Hazel terasa sakit. Ia memiringkan wajah ke arah jendela, berusaha menahan air matanya tapi terasa percuma. Beberapa detik kemudian, air mata itu jatuh lagi, diam-diam, membasahi pipinya. Hazel buru-buru mengusapnya sebelum ada orang yang melihat. Ia lelah, selama sepuluh minggu terakhir, ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia kuat, bahwa ia bisa menghadapi semuanya sendiri, bahwa ia bisa tetap kuliah, tetap tersenyum, tetap menjadi Hazel yang biasa, yang terjadi justru sebaliknya. Ia tidak sekuat itu dan untuk pertama kalinya, Hazel membiarkan dirinya pulang. Pulang bukan karena libur, bukan karena rindu rumah, tapi karena ia sudah tidak sanggup lagi.
•
Sikat na Kabanata