Katamu Uang Tak Kenal Saudara
Mas Bambang ikut berkomentar.
Aku kembali dengan tangisku, terisak, menunduk, memendam gejolak emosi yang kini seakan menggelegak memenuhi dada, bahkan darah ini seakan mendidih setelah tahu semua ini telah direncanakan. Fitnah itu, penganiayaan itu, kepalaku rasanya pusing sekali memikirkan semua ini. Aku terus beristighfar dalam hati, berharap mendapatkan ketenangan.
"Kopi, dan kuenya, sampai lupa! Monggo disambi!" Suara Mas Rahman terdengar menawarkan suguhan yang tersaji.
Capítulos Populares