Ada sesuatu yang tragis sekaligus indah tentang mencoba melupakan seseorang yang pernah berarti. Aku pernah menghabiskan berjam-jam menulis diari, menuangkan semua rasa sakit itu ke dalam kertas sampai tanganku pegal. Ternyata, prosesnya tidak sesederhana menghapus kenangan atau membakar foto-foto lama.
Yang paling membantu justru ketika aku mulai menulis tentang orang itu dengan sudut pandang ketiga, seolah menceritakan karakter fiksi. Perlahan-lahan, jarak emosional itu terbentuk. Aku juga membuat daftar 'alasan untuk melanjutkan' - bukan daftar keburukannya, tapi hal-hal baru yang ingin kujajaki. Lima bulan kemudian, barulah aku menyadari bahwa lukanya sudah tidak perih lagi ketika kubaca kembali tulisan-tulisan itu.