Dinikahi Mas Pandu
Zita berfikir sejenak, lalu ia tersenyum mengangguk.
"Boleh deh, bagus kalau nama tengah." Zita cengengesan. "Nama depannya yang keren dong, yang kekinian," rengek Zita.
Semua kembali berpikir. Lagi-lagi Ageng nyeletuk. "Namanya, sisatu, sidua, sitiga, aja. Gampang di ingat."
Kali ini ibu yang melempar Ageng dengan bantal kecil. "Usulmu, Geng... Geng, untuk anakmu aja nanti." Omel Ibu.