Ada satu pengalaman pribadi yang membuatku tersadar betapa novel bisa jadi senjata melawan bullying. Dulu, waktu masih sekolah, aku sering baca 'Wonder' karya R.J. Palacio – kisah Auggie yang menghadapi intimidasi karena penampilannya. Novel itu nggak cuma menghibur, tapi juga membuka mataku tentang pentingnya empati. Aku mulai meminjamkan buku itu ke teman-teman, bahkan ke beberapa pelaku bullying, dan perlahan suasana kelas berubah.
Cerita fiksi punya kekuatan unik: mereka membawa pembaca masuk ke sudut pandang korban tanpa merasa dihakimi. Menurutku, memilih novel dengan tema serupa dan mendiskusikannya dalam kelompok bisa menjadi 'terapi literasi' yang ampuh. Kita bisa ajak semua pihak – korban, saksi, bahkan pelaku – untuk memahami dampak bullying melalui cerita yang relatable, bukan ceramah yang bikin defensif.