Istri Pengganti Sang Miliarder
Kali ini pun, firasatku mengarah ke sesuatu yang lebih buruk.
Benar saja, keesokan harinya, ketika kami tiba di kantor Arlan, suasana menjadi tegang. Dia langsung diajak ke bagian administrasi kepegawaian. Seorang wanita paruh baya menyambut kami.
“Ah, Pak Arlan, ini calon istri barunya? Cantik sekali. Pantas yang kemarin kalah bersaing,” kata wanita itu, memanggil.
Sebuah pedang menyayat hatiku mendengar kata-kata itu.