Candu Dekapan Kakak Ipar
Jantung pria itu berdebar sangat cepat, tak siap mendengar jawaban kakak tertuanya.
“Sangat maksimal,” Radja menjawabnya datar tanpa ekspresi. “Tidak salah saya memilih dia menjadi sekretaris saya.”
Sekar mengangguk kecil. Tapi raut wajah wanita paruh baya itu terlihat dingin, seolah tak senang dengan jawaban sang anak tertua.
“Baguslah, Mami ikut senang mendengarnya,” Sekar tersenyum kecil, senyum yang terlihat dipaksakan. “Akhirnya, menantu bungsu kita yang sebelumnya diremehkan, sangat berguna.”