Ah! Mantap Mas Ramli
Dengan berjalan cepat, Ramli buru-buru pergi ke kamarnya, ia segera mencari minyak angin, sayangnya ia tidak mendapatkannya karena minyak anginnya habis.
"Brengsek! Minyaknya habis lagi, sialan!" Ramli mulai cemas, sepertinya hanya aroma minyak angin lah yang bisa menyembuhkan rasa mualnya.
Pria itu teringat jika dirinya masih memiliki balsem otot yang biasa ia gunakan untuk dirinya sendiri di kala pegal-pegal melanda. Pekerjaan Ramli sebagai pelayan di rumah mewah Rangga, memang sangat menguras tenaga, belum lagi pekerjaannya menanam benih pada istri majikannya hampir tiap malam, sudah pasti tak kalah capeknya, karena Vina selalu menginginkannya.