PLAYER
Lama-lama ia seperti orang bodoh, setiap malam datang ke café yang sama hanya untuk mencari keberadaan seorang pria.
Dia tidak menafikan makanan di café itu yang memang enak, tapi ia juga tidak perlu berkendara dari Jakarta Pusat menuju Jakarta Barat kemudian pulang ke Jakarta Timur untuk sekadar makan malam.
Risma pun hanya kuat menemaninya di malam pertama, setelah itu Risma melambaikan bendera putih karena menurutnya pecel ayam di dekat apartemen lebih masuk akal untuk ia nikmati setiap malam—enak, tidak membosankan, murah, dan tinggal sepelemparan batu dari apartemen.