Karma Sang Penggoda
aku menyodorkan lima lembar uang pecahan seratus ribuan pada anak buah Papah yang bernama Hendra.
"Baik Nyonya," Hendra mengangguk tegas. Aku tersenyum tipis, lalu kembali masuk. Mamah paling suka masakan seafood, semoga saja Mamah ada selera untuk memakannya.
Mengambil alih, aku duduk dikursi samping ranjang tempat Mas Mahesa berbaring. Hatiku sakit melihat wajah yang dulu selalu aku rindukan, kini tergolek tak berdaya. Wajah yang selalu bugar dan sedap dipandang mata, kini terlihat kusam tak terawat. Mata elang yang dulu selalu berhasil membuat aku merunduk malu, terlihat cekung dengan lingkaran hitam yang begitu ketara.
Hot Chapters