Sketsa Hujan
Aroma tanah basah—petrichor—terasa begitu kuat, memenuhi rongga dada.
Mereka hanya diam, mendengarkan simfoni air yang menghantam atap seng. Di tengah kesunyian itu, Elang sempat menoleh dan tersenyum tipis, sebuah senyuman yang entah mengapa membuat dunia Aksara terasa berhenti berputar sesaat. Mungkin, sejak hari itulah, benih perasaan itu mulai tumbuh diam-diam di hati Aksara, seperti lumut yang tumbuh perlahan di sela batu, tak terlihat namun mengakar kuat.