Usai Bercerai
Meira tidak sendirian.
"Mei, pernikahan itu layaknya sebuah perjalanan yang sangat jauh," tutur papa Meira. "Kita butuh partner yang se-frekwensi, partner yang asyik, nyambung, bisa menguatkan ketika salah satu lelah, saling mendukung, dan sebagainya. Jadi, perjalanan yang kamu tempuh walaupun melelahkan, setidaknya kamu tetap happy, karena partner kamu tidak membosankan. Tetap menggenggam tangan kamu dengan erat saat kamu ingin menyerah."
Meira tidak mampu lagi membendung air matanya. Papanya benar. Kini ia merasakan akibat dari obsesinya yang tidak terkendali dulu.