PERMAISURI YIN
Liu Zeng menggigit bibirnya, matanya memindai ruangan dan mencari celah untuk lolos.
"Kau tidak mengerti, Nona. Jika aku berbicara, aku akan mati."
"Kau lebih baik takut padaku sekarang daripada pada Nona Fang nanti. Sebab jika kau tetap diam, kau akan terlibat dalam pembunuhan berantai dan tidak akan pernah melihat cahaya matahari lagi."
Liu Zeng mengusap wajahnya dengan gemetar.
"Selendang merah itu bukan sekadar tanda, itu peringatan. Nona Fang, dia selalu meninggalkan selendang merah di tempat di mana sesuatu akan terjadi. Itu semacam ritual."