Aku selalu tertarik melihat bagaimana satu keluarga primer dalam kitab-kitab suci berkembang jadi garis panjang umat manusia, dan kalau ditanya siapa saja keturunan utama Nabi Adam, aku suka menjelaskan dari beberapa sudut yang sering muncul.
Pertama-tama, yang paling akrab pastinya anak-anak langsung Adam yang disebut di banyak tradisi: Qabil (Kain), Habil (Abel), dan Sêth (Seth atau Syits dalam beberapa tulis). Qabil dan Habil sering muncul dalam kisah konflik pertama manusia, sedangkan Sêth dianggap sebagai penerus garis yang membawa perilaku saleh setelah tragedi itu. Dari garis Sêth inilah, menurut tradisi Yahudi-Kristen, muncul nama-nama seperti Enos (Enosh), Kenan, Mahalaleel, Yared (Jared), Henokh (Enoch), Metusalah (Methuselah), Lamekh, lalu Nuh (Noah).
Kalau dilihat dari perspektif Islam, garis keturunan Nabi yang diakui kemudian—seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, Isa, sampai Nabi Muhammad—semua dianggap bagian dari umat manusia yang bermula dari Adam, dan banyak ulama menelusuri rantai keturunan moral/spiritual kembali ke Sêth. Perlu diingat juga bahwa teks-teks lama kadang tidak mencantumkan semua putri atau anak lain Adam, jadi catatan nama lebih fokus pada tokoh-tokoh sentral dan para nabi yang muncul kemudian. Aku selalu merasa menarik bagaimana satu kisah keluarga sederhana bisa menjelma jadi pohon silsilah yang luas dan penuh makna.