Membicarakan ending 'Kapal Van der Wijck' selalu bikin hati miris. Cerita ini bagian dari roman 'Salah Asuhan' karya Abdoel Moeis, dan endingnya sungguh tragis. Hanafi, si tokoh utama, akhirnya menyadari kesalahannya memilih jalan hidup dengan mengejar status sosial dan meninggalkan Corrie, wanita yang benar-benar mencintainya. Kapal Van der Wijck sendiri menjadi simbol kehancurannya—saat Hanafi memutuskan bunuh diri dengan terjun ke laut dari kapal itu. Ironisnya, dia justru menemukan 'pencerahan' di detik-detik terakhir hidupnya, tapi sudah terlambat. Pesannya kuat banget: jangan sampai gengsi atau ambisi buta menghancurkan hal terbaik dalam hidup.
Yang bikin greget, Moeis nggak cuma bikin Hanafi mati secara fisik, tapi juga secara moral. Sebelum loncat, Hanafi nulis surat yang isinya penyesalan mendalam. Itu kaya tamparan buat pembaca yang mungkin pernah ngelakuin hal serupa—ngejar yang keliatan mentereng, tapi abai sama yang truly matters. Ending ini nggak cuma sedih, tapi juga bikin kita mikir panjang tentang konsekuensi dari setiap pilihan.