Pernikahan Penuh Luka
suaranya rendah, “aku nggak tahu masa depan bakal gimana. Tapi aku tahu satu hal.”
“Apa?”
“Aku nggak mau bangun suatu hari dan sadar aku kehilangan kamu lagi.”
“Kehilangan bisa terjadi meski tinggal serumah,” kataku pelan.
“Iya. Makanya aku mau tetap hadir.”
Aku menatap langit gelap.
“Aku juga nggak mau hidup dalam bayangan masa lalu terus,” kataku akhirnya. “Capek.”
“Jadi?”
“Jadi kalau aku mulai overthinking, kamu jangan marah.”