Jika Tak Bisa Dipertahankan
Suamiku, sang komandan berjanji padaku bahwa dia hanya akan menemani cinta pertamanya yang depresi sebanyak sembilan puluh sembilan kali.
Namun, tepat saat aku selesai mencatat kali kesembilan puluh sembilan itu, aku malah melihatnya sedang memeluk cinta pertamanya erat-erat.
Setelah itu, aku tak lagi menangis atau menahannya setiap kali dia ingin pergi menemui cinta pertamanya itu.
Aku hanya meminta sebuah liontin kalung darinya, sebagai hadiah untuk anak kami yang akan segera lahir.
Begitu membahas soal anak, ekspresi suamiku langsung melembut, “Tunggu aku pulang, ya. Aku akan menemanimu untuk cek kehamilan di rumah sakit.”
Aku hanya menjawab dengan patuh.
Aku tak memberitahunya bahwa sepuluh hari yang lalu, aku sudah mengajukan permohonan cerai.
Sekarang, sebenarnya status kami sudah resmi bercerai.