Pungguk Merindukan Bulan
Bukan malah sibuk mengejar Seika yang waktu itu bisa dikatakan ragu.
"Maafkan aku, Ti!" jerit batin Kama. "Aku yang salah. Aku janji akan terus jaga Firdaus sampai dia dewasa nanti. Kau baik-baik di sana ya, Ti? Kau yang tenang, sudah ada Seika yang mengurus dia. Ah, siapa sangka ya Ti, kalau Firdaus akan seberuntung ini? Punya Bunda sekaligus Mommy yang sama-sama hebat." lanjutnya sambil membersihkan air maya dengan sapu tangan kuning kamboja peninggalan Siti Hapsari. Dia lupa, kalau masih terhubung dengan Mamak di sambungan telepon.
"Oh, iya … Sudah hampir lima bulan dia ya, Kama?" suara Mamak berubah menjadi sedih. "Sudah pandai apa dia sekarang? Sudah lasak, ya?"
Sikat na Kabanata