Mag-log inSeika dan Kama saling mencintai bahkan sejak pandangan pertama di Real Publishing, tempat mereka bekerja. Sayang, Papa tidak merestui hubungan mereka karena posisi Kama yang dianggap rendah. Seika berkeras dengan cintanya hingga suatu hari, dia keluar dari pekerjaannya sebagai editor di Real Publishing yang notabene milik Papa. Bersama Kama, Seika merintis perusahaan penerbitan sendiri. Semua berjalan lancar, sampai di tahun ke tiga Seikamara Publishing berhasil membuka cabang di beberapa kota besar di Tanah Air. Tentu saja, Seika merahasiakan usahanya dari Papa. Mengapa? Dia ingin Kama menjadi orang berhasil dulu baru kemudian melamarnya. "Kita harus terus bersabar ya, Kama? Kita harus terus berjuang. Pantang menyerah, demi cinta kita." "Ya, Seika. Atas nama cinta, aku nggak akan pernah menyerah. Kita pasti bisa mendapatkan restu Papa. Aku yakin itu." "Ya, Kama. Semoga Tuhan merestui cinta kita, ya?" "Ya, Seika. Jangan pernah lelah untuk melangitkan doa-doa." Sayang, Derya (staf keuangan di Real Publishing) memergoki usahanya. Tak urung jua, dia melancarkan banyak intrik demi bisa mendapatkan cinta Seika yang selama ini didambakan dalam diam. Jahatnya, Derya melaporkan hubungan Seika dan Kama pada Papa. "Asal kamu tahu saja ya, Seika? Kalau aku nggak bisa mendapatkan kamu, maka tak seorang pun bisa. Tanpa kecuali, termasuk si Supir sialan itu, Kama! Kamu paham?" Apa yang akan terjadi setelah Papa tahu sepak terjang Seika? Siapakah yang akhirnya berhasil mendapatkan cinta Seika, Kama si Baik Hati atau Derya si Jahat? #jatuhbangunkejarrestu
view moreChapter 1: You're Marrying My Ex?
“I'm getting married!” I blinked. “Huh? You were dating?” “Of course I was, dummy. You know I love being in love.” My sister, Chloe laughed. She was glowing. That was the first red flag. “Is it to the guy named Zane with a silent G? The one you met at the three-month yoga retreat in LA?” “Ew no. Zane was an asshole.” She snapped. “Umm, congrats I guess… but who's the lucky guy?” Unlucky, if I was free to be honest. Chloe held out a crisp, green and cream-colored envelope with silver calligraphy. I took the wedding invitation and unfolded it, dread already settling in at the back of my head. “You are cordially invited to the wedding of Chloe Hart and Dean Archer.” My heart didn’t just sink, it free-fell through my stomach and straight out my body. “Dean Archer,” I said slowly. “My Dean?” Chloe swiftly snatched her wedding invite from my trembling fingers. “MY Dean,” Chloe chirped. “Isn’t it crazy? It all just… clicked. He came back to New Hope last Christmas, we reconnected, and—boom. Instant.” I stared at my sister like she was speaking in tongues. Dean Archer was my college ex. The one who left me without a real explanation. Dumped me via text on my birthday. The ex I never got over. The one who knew all the right buttons to push and disappeared just when I’d started to believe in him. “You're marrying my ex?” Chloe rolled her eyes. “Your ex? Was that actually a relationship? That old fling? C'mon sis.” My mouth went dry. Chloe rose from the couch and stepped forward as if to greet me, then stopped abruptly, her nose wrinkled in delicate horror. "Oh. No, I don’t think I can hug you. You’ve got ink on your hands, and I just had this sweater dry-cleaned." She wore a pastel-pink cable-knit sweater over a white satin tank top, paired with pressed cream linen pants and ballet flats that had never seen a scuff. Her blonde hair was tucked into a perfect low bun. Every part of her screamed effortless grace. Me, in contrast, stood in the doorway in a rumpled button-down, a charcoal skirt that barely grazed my thighs, one heel hanging on for dear life, and black ink smudged across my three fingers. I stared at her, stunned into silence. Chloe sipped her wine. "You okay? You look a little pale. Is it the vertigo again? Maybe skip the champagne toast at the wedding. I’d hate for you to go down during the vows. That'd be embarrassing, Sav. Anyway, you’re gonna be my maid of honor. Fingers crossed, you catch the bouquet. My fiancé has good looking friends you could manage to impress.” I stared at her. “I left the office in a hurry, broke my freaking stiletto, ran three red-lights, fought with drunk drivers and nearly crashed my Audi, just to get home to you, Chloe. You said it was an emergency!” She paused mid-sip. “Oh… I'm sorry I had no idea. I just thought you were late because you got distracted by a Zara window again.” She giggled. “Nope.” “Well, if you did though it'd come in handy now because you know I'm quite particular about colours, shades and fabrics.” She rambled on. It was my turn to roll my eyes, “Let me hear it.” “It's green. But not the basic one… it's a bit more intense.” She describes. “You mean emerald green?” I asked flatly. “It’s not just emerald green, okay? God, do I look like someone who wears something off-the-rack? No. It’s more like… if envy and royalty had a scandalous love child. Think deep forest glimmering with silent judgment. Rich. Regal. But also don’t-touch-me sharp. Not teal. Not moss. Not jade. And absolutely not that murky mall-green you find in discount bins where your OOTD comes from. This shade says, ‘Yes, I’ve arrived, and no, I don’t care that you’re staring’.” My mouth hung up. “That's emerald, Chlo.” I argued. “No, it's not. That shit is basic. For the fabric? Silk. Rich silk. Can you afford that, Sav? You're gonna be my maid of honor, you have to look presentable enough to play the part. Don’t bring your Walmart thrifts to my event.” Something snapped within me. If this is how you wanna play, then let's play, baby sis. “Can I bring a date?” She glanced up from her phone. “You haven't had a decent relationship in years. Who could you possibly be bringing?” I lifted my chin. "Actually, I've got big news to share too… wanted to keep it a secret but now? Not so much." “You got promoted at work?” “I'm engaged.” Chloe choked on her sip. "You?" I beamed, “Yes, I'm getting married too.” Chloe made a face as if her wine had suddenly turned bitter. “That's huge. And who's the brave guy?” "Roman Blackwood. You know, my best friend. He works in finance." I lied without blinking. Chloe's brows shot up. "Roman? The one who always texts you during family dinners and sends Dad cigars at Christmas? That Roman?" I forced a smile. "The very one. We’ve kept it quiet. Didn’t want to steal anyone’s thunder." Chloe blinked. "Hmm. I mean... good for you. I didn’t think you were the relationship type, but here we are. Must be something in the air." “Must be." I turned toward the kitchen to grab a glass of water, my fingers trembling just enough to clink the glass against the tap. "But, uh, let’s not tell the family just yet. We’re still figuring out the timing. You know Roman is always busy and only gets to take two vacations in twelve months and I'm always busy booking meetings and controlling schedules. We don't want to get overwhelmed with the whole process. You understand, right?" Chloe rose and grabbed her purse, that same serene smile on her face as she headed for the door. “Crystal," she said in a voice like a sugar cube melting in tea. "I've got you. Love you, sis." And then she was gone. Leaving behind her perfume… and chaos. Immediately, my phone started vibrating in my bag. After rummaging for minutes, I finally found it and nearly dropped it instantly with a shriek. Chloe had opened her big mouth and told literally everyone from our genepool that I was getting married. The family group chat was heating up. Mom, dad, our older sister, Alyssa, Aunt Janice, Aunt Thelma, Uncle Jace…. Literally everybody that saw me in diapers! Shit! I've got to warn Roman."Jadi kan, Kak Seika, Mbak Welas ngasih kabar ke kami kalau Kakak hilang. Nah, terus Kakak minta tolong Leon untuk pergi ke rumah kalian. Siapa tahu kalian butuh bantuan. Eh, ternyata kosong rumahnya." Sekar mengawali ceritanya, sementara Leon masih merangkul dari samping kanan, menguatkan. "Akhirnya kami ke Real Publishing. Eh, Bang Kama juga nggak ada di sana. Nah, terus Leon tanya ke bagian resepsionis. Iya kan, Leon?"Leon mengangguk, tersenyum sedih. "Iya, benar. Aku tanya, Kama berangkat ke kantor apa nggak? Katanya berangkat, setengah hari. Kembali sebentar menitipkan Firdaus ke Vivi, pegawai di bagian administrasi. Terus pergi lagi. Nah, nggak berapa lama dari itu, si Vivi itu tadi pergi juga, membawa Firdaus.""Dari itulah kami mulai curiga, ada yang nggak beres pasti!"Leon membenarkan kesimpulan yang dibuat Sekar. "Aku memberanikan diri masuk ke ruang kerja Bang Kama. Mana tahu ada sesuatu yang bisa dijadikan petunjuk." lanjut Sekar sambil melepaskan diri dari rangkulan Le
"Oh, Leon, terima kasih!" Seika tak mampu menutupi perasaan haru yang menyergap. "Aku nggak tahu gimana ceritanya kalau nggak ada kamu!" Sungguh, Seika merasa baru saja diselamatkan dari bencana alam yang begitu besar. Lebih besar dari tenggelamnya kapal Titanic, baginya. Bayangkanlah!Saat Leon berhasil menyusup masuk ke dalam rumah, Derya sedang bersiap-siap untuk menikahinya. Sudah duduk berhadapan dengan penghulu, dikelilingi oleh para saksi.Seumur hidup, baru kali itu Seika terlibat dalam sandiwara paling gila. Drama paling menguras emosi, tenaga jiwa dan raga. Bukan hanya melibatkan orang dewasa, Derya juga melibatkan Firdaus, seolah-olah penculikan itu adalah sebuah permainan anak-anak. "Serius, aku bahkan sudah berpikir untuk membawa Firdaus juga. Biar kami sama-sama nggak selamat, karena kasihan sekali kalau sampai dia jatuh ke tangan Derya untuk selamanya. Oh, dia tuh terlalu kejam untuk ukuran manusia. Terlalu jahat."Leon tersenyum simpul, menarik napas lega. "Sama-sam
Bencana!Mamak video call. Kama pun tertindih buah fiktif bernama simalakama seketika. Diangkat, tidak tahu harus berkata apa? Tidak diangkat, Mamak pasti curiga. "Ha, jangan-jangan Mamak telepon El tadi?" tanya hatinya begitu kuat. "Gawat!"Kama baru saja berpikir untuk mematikan ponsel ketika tiba-tiba ada panggilan masuk dari nomor tak dikenal. Sempat ragu tetapi akhirnya diangkat juga, dengan harapan itu adalah seseorang yang telah menculik Seika. Bahkan, Kama tidak memikirkan segala resiko yang mungkin terjadi. Terpenting Seika dapat ditemukan dalam keadaan sehat dan selamat tak kurang satu apa pun. "Ha---Halo!" sapa Kama gugup sambil mengurangi kecepatan laju mobil, menepi. Sekarang mereka sudah sampai di Jalan Parangtritis KM 5. Menurut alamat yang tertera di denah, sebentar lagi akan sampai di tempat persembunyian Derya. "Ini dengan siapa?""Ini Mamak, Kama! Pakai nomor abangmu yang baru. Kalian lagi di mana ini, Mamak telepon dari tadi kok, nggak diangkat?"Dug! Sekeras it
"Eh, jangan asal, ya?" Kama mulai tersebut amarah. "Aku nggak kenal siapa kamu. Jangankan gula-gula, tebu atau apa pun itu yang kamu bilang tadi. Dengar baik-baik, ya? Selain istriku, aku nggak pernah menyentuh yang namanya perempuan." tandas Kama emosional. "Minggir kamu, buang-buang waktu saja!" "Ya ampun, Kama … Beneran kamu nggak inget sama aku?" Adiva, tentu saja tak sudi melepaskan Kama. Hanya dia satu-satunya jalan untuk tetap bersama Derya. "Ternyata benar ya, kata teman-temanku, selain sampah kamu juga laki-laki gila!"Braaak! Dengan sangat kasar, Kama menutup pintu mobil kembali. Bisa-bisanya wanita yang tak dikenalnya ini bersikap lancang, merendahkan? "Hei, apa-apaan kamu? Apa yang kamu bilang tadi? Woi, sadar, woi! Bukan aku yang sampah, gila atau apa pun itu yang kamu tuduhkan tapi kamu. Buktinya? Kamu datang dengan cara misterius dan membuat masalah denganku. Sampah sekali kan, itu? Gila!""Eh, santai dong, Kama? Kok, malah jadi semeledak ini, sih? Ya ampun, malu don
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
RebyuMore