Ada satu novel romansa kontroversial yang endingnya bikin geleng-geleng kepala. Tokoh utamanya, setelah putus dari tunangannya, malah dijodohkan sama mantan calon mertua sendiri. Awalnya hubungan mereka penuh ketegangan dan rasa canggung karena latar belakang perpisahan yang pahit. Tapi lambat laun, justru dari situ muncul chemistry tak terduga. Mereka berdua akhirnya menyadari bahwa cinta bisa tumbuh di tempat yang paling gak nyaman sekalipun. Endingnya manis tapi tetep bikin deg-degan, apalagi pas mantan tunangan muncul lagi dan harus nerima kenyataan pahit ini.
Yang bikin menarik, novel ini berhasil membalikkan stereotip tentang hubungan age gap dengan cara yang surprisingly wholesome. Karakter calon mertua ini digambarkan bukan sebagai figure yang creepy, tapi justru sosok matang yang memahami kompleksitas emosi sang tokoh utama. Ending pernikahan mereka dihadirkan sebagai fresh start, bukan sekadar 'happy ending' klise.