Di Balik Tirai
Tetapi suara napas berat yang sama terdengar dari voicemail yang ditinggalkan, diiringi oleh sebuah kalimat singkat yang membuat darahnya membeku: “Kami melihatmu, Maria. Dan kami semakin dekat.”
Maria duduk di sofa ruang tamu, ponselnya tergeletak di meja di depannya seperti benda asing yang menatap balik padanya. Ruangan itu redup, hanya diterangi oleh lampu kecil di sudut, memberikan cahaya yang terasa lebih seperti bayangan daripada terang. Pesan voicemail yang ia terima beberapa jam sebelumnya masih terngiang di telinganya—napas berat yang tidak terburu-buru, tidak gugup, tetapi penuh ancaman. Dan kalimat itu, “Kami melihatmu, Maria. Dan kami semakin dekat,” terus memutar di kepalanya,