Bidak Catur Sang Adik
“Lagipula tadi siang, waktu aku mengintip dari celah pintu, kakak ipar bukan hanya nggak melawan, tapi sangking semangatnya sampai kakimu lemas, ‘kan?”
“Nggak… bukan begitu….”
Aku bergumam membela diri dengan suara yang tak jelas.
Namun, rasa malu karena seluruh diriku telah terbaca langsung menjalar ke seluruh tubuh.
“Karena tadi siang dia belum bisa memuaskanmu, bagaimana kalau malam ini biar adiknya yang baik ini memberikan kompensasi untukmu?”
Jeff sama sekali tak memberiku kesempatan untuk melawan, gerakannya berubah menjadi sangat liar dan penuh dominasi.