Terjebak Asmara Bersama Istri Bos
Setelah dimohon oleh bosku terus-menerus, akhirnya aku menyetujui permintaannya untuk ‘meminjamkan benihku’.
Di atas ranjang besar kamar utama, istri bos yang biasanya selalu bersikap angkuh, hanya memakai gaun tidur.
Air mata penghinaan menggantung di sudut matanya, tapi sepasang kakinya yang putih mulus dan jenjang malah gemetar tak terkendali di bawah kendaliku.
“Awas… berani-beraninya kamu menyentuhku….” ujarnya sambil berusaha menahan tangisan, masih mencoba mempertahankan kesombongannya yang konyol itu.
Aku tertawa dingin, lalu tanpa ragu membuka kain terakhir yang menutupi tubuhnya.
“Nyonya, jangan buru-buru. Pak Zafri yang bilang sendiri, demi meningkatkan peluang keberhasilannya, ak