Gairah Liar Perselingkuhan
Aku bisa merasakan kehadirannya di sini, di keharuman mawar, di kehangatan matahari sore.
“Ayah?”
Sebuah suara kecil menyentakku. Aku membuka mata. Aira, putriku bersama Livia, berdiri di sampingku, memegang sebuah bunga mawar putih di tangannya. Di belakangnya, perlahan, semua anak-anakku dan keenam ibu mereka berjalan mendekat. Ini adalah ritual tak terucapkan kami.
Aira meletakkan bunga mawar itu di kaki patung. “Untuk Bunda Ika,” bisiknya.