LOGINYudhistira mengecup kening Nirmala lama dan dalam. Seolah-olah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya untuk meyakinkan Nirmala bahwa semuanya akan baik-baik saja.Perempuan itu memejamkan mata, membiarkan kehangatan itu mengikis rasa dingin yang selama ini mendekam di hatinya. Untuk sesaat, ia merasa benar-benar diinginkan tanpa harus merasa tertekan.Yudhistira menjauhkan wajahnya perlahan, lalu menatap Nirmala dengan binar mata yang penuh harapan. “Terima kasih karena sudah memberiku kesempatan, Nirmala. Aku berjanji, mulai hari ini, aku akan berusaha membuatmu bahagia.Nirmala hanya bisa tersenyum tipis, meski jauh di lubuk hatinya masih ada ganjalan yang belum sepenuhnya sirna. Melihat kesungguhan di mata Yudhistira, ia merasa tidak adil jika terus menutup diri. Setidaknya, ia harus mencoba demi masa depan bayi yang dikandungnya.“Aku juga akan berusaha menjadi istri yang baik untukmu, Jenderal,” sahut Nirmala pelan.“Setelah pulang dari istana, aku akan mempersiapkan pernikahan k
Yudhistira terpaku sejenak. Senyum yang semula tipis kini merekah lebar di wajahnya, memancarkan kelegaan dan juga kebahagiaan. Ia melangkah maju, nyaris ingin meraih tangan Nirmala, tetapi ditahannya demi menghormati batas yang masih ada.“Tapi … seperti yang Anda tahu, kalau aku adalah mantan istri Pangeran Arya. Meskipun pernikahan kami sangat singkat, di dalam lubuk hatiku masih ada namanya.” Nirmala berkata jujur. Matanya masih menatap Yudhistira.Perlahan, Yudhistira mengangguk, ia tidak menunjukkan raut kecewa sedikit pun. Sebaliknya, tatapannya justru semakin melembut. “Aku tahu, Putri. Aku tidak memintamu untuk mencintaiku dalam semalam. Biarkan waktu yang bekerja untuk itu. Bagiku, bisa memilikimu di sisiku dan memastikanmu tetap aman adalah hal yang lebih dari cukup.”Kata-kata Yudhistira membuat Nirmala lega. Ia tidak ingin lelaki itu merasakan posisinya dulu saat tahu Arya masih mencintai Anindiya. Selain itu, Nirmala juga berjanji akan mencoba menerima Yudhistira sepenuh
Seketika, Nirmala terdiam. Keheningan menyelimuti suasana di sekitar gazebo itu, hanya suara angin yang sesekali berembus. Ia tak pernah membayangkan kalau akan dilamar secara mendadak oleh seorang jenderal besar.“A-apa maksud Anda, Jenderal?” tanyanya dengan suara terbata. Berharap bahwa pendengarannya salah.Yudhistira menarik napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang kian berdebar kencang. “Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal dan terlalu cepat. Tapi, ada beberapa alasan aku ingin menikahimu, Putri. Pertama, aku sudah tertarik padamu sejak kita pertama bertemu di Amartapura. Aku nyaris saja membawamu ke sini sebelum akhirnya tahu kalau dirimu sudah menikah dengan Pangeran Arya.”Napas Nirmala tercekat. Ia benar-benar tak menyangka dengan apa yang diucapkan Yudhistira.“Kedua …,” lanjut Yudhistira sambil menatap perempuan di hadapannya, “dua pekan lagi, aku harus berangkat ke perbatasan. Tugasku adalah menjaga keamanan negeri ini dari serangan musuh. Dalam setahun, bisa
Suasana aula langsung hening. Apa yang dikatakan Arya ada benarnya. Kalau Ratu tidak bersalah, seharusnya tidak usah takut dengan sumpah api. Namun, penolakan Ratu dan pembelaan Yasa membuat menteri yang hadir mulai meragukan ucapan Ratu.Sementara itu, Ratu mengepalkan kedua tangannya. Arya telah membuatnya dicurigai dan seperti tak dihormati. Ia menarik napas dalam, mencoba meredam amarah di dadanya. Sebisa mungkin, Ratu bersikap tenang dan tak terkesan menolak keinginan Arya. Jika ia terus menunjukkan amarah, Ratu hanya akan terlihat semakin bersalah di mata para menteri.“Pangeran Arya, kamu sungguh pandai bersilat lidah,” ucap Ratu dengan suara yang dibuat sedatar mungkin, tetapi matanya menatap Arya dengan kebencian yang mendalam. “Namun, aku tidak akan membiarkan diriku dipermainkan oleh laporan tanpa nama yang belum tentu kebenarannya. Sepertinya pengirim laporan ini hanya ingin menjelekkan namaku saja tanpa tahu kebenarannya.”Tak ingin masalah ini semakin menimbulkan perdeb
Di Amartapura, Raja sedang kurang sehat sehingga tidak bisa pergi ke aula. Rapat dengan para menteri sementara dipimpin oleh Putra Mahkota. Namun, petisi dan laporan tidak dibacakan, menunggu Raja kembali sehat.Mengetahui itu, Arya sedikit kecewa. Padahal, ia sudah ingin membalas dendam pada Ratu. Akan tetapi, ia berusaha untuk tampak biasa saja agar tidak ada yang curiga.Arya melangkah keluar dari aula pertemuan dengan rahang yang mengeras. Rencana yang sudah ia susun sedemikian rapi harus tertunda karena kondisi kesehatan ayahnya. Padahal, ia sudah tidak sabar ingin melihat wajah Ratu yang pucat pasi saat laporan tentang racun Selir Indhira dibacakan di depan umum.“Sabar, Pangeran. Raja hanya butuh istirahat satu atau dua hari. Laporan itu tidak akan lari ke mana pun,” bisik Prama yang berjalan di belakangnya, mencoba meredam gejolak amarah tuannya.“Justru aku yang tidak punya banyak waktu, Prama,” sahut Arya dingin. “Semakin lama laporan ini tertunda, semakin lama aku mencari Ni
“Silakan istirahat di ruangan ini, Jenderal Yudhistira sedang di istana, kemungkinan tiba larut malam. Mungkin, Tuan bisa bertemu dengan Jenderal esok pagi,” ucap seorang pelayan membuka pintu sebuah kamar.Nirmala dan Tara baru saja tiba di kediaman Yudhistira dengan diantar seorang petugas. Tempatnya tidak terlalu jauh dari pelabuhan. Namun, sayangnya, sang jenderal sedang pergi menemui Raja.“Terima kasih,” sahut Tara sambil memasuki ruangan yang lebih mirip kamar penginapan itu. Ia sangat terkesan dengan pelayanan di kediaman Yudhistira yang sangat ramah dan menghormati tamu yang datang.Setelah pelayan itu pergi, Tara meminta Nirmala untuk istirahat. Perempuan itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang jauh lebih empuk daripada papan kayu di kapal. Meski tubuhnya sangat lelah, pikirannya tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong, mencoba mencerna kenyataan bahwa ia kini berada jauh dari Amartapura.“Beristirahatlah, Nirmala. Aku akan berjaga di depan,
Pagi-pagi, aula pertemuan sudah dipenuhi para pejabat. Ratu meminta Raja untuk memutuskan beberapa hal, termasuk tentang hukuman Nirmala.Arya dan Putra Mahkota sudah datang dan menempati posisinya masing-masing. Selain itu, Nirmala dan Anindiya pun ikut dalam pertemuan kali ini. Para menteri yang
Ratu memerintahkan para pengawal untuk menjaga kediaman Arya dan memastikan Nirmala tidak kabur. Ia memanfaatkan ketidakberadaan Arya untuk menekan Nirmala.Prama dan Anila tidak bisa melawan Ratu meskipun mereka sudah mengatakan kalau Putri Nirmala sama sekali tidak mendorong Anindiya. Namun, Ratu
Putra Mahkota merasa perkataan Arya sudah keterlaluan. Ia pun bersuara, “Kamu salah paham, Pangeran Arya. beberapa hari ini aku memang sering ke sini, untuk menenangkan pikiran. Aku tidak tahu kalau hari ini Putri Nirmala akan berlatih. Kami hanya bicara hal biasa, tidak ada yang perlu kamu curigai
“Aku akan mengusut kasus kematian ibuku dan menghukum Ratu,” ujar Arya penuh keyakinan.Apa yang dilakukan Ratu adalah kejahatan besar. Tidak bisa dibiarkan begitu saja. Arya tidak takut berhadapan dengan fraksi kanan atau pun Raja. Ia sudah sampai di titik ini dan harus menyelesaikan semuanya.Raj







