로그인6 เรื่องสั้น...ที่คุณผู้อ่านต้องแอบคิดตาม เรื่องราวความรักที่อ่านเท่าไหร่ก็ไม่มีเบื่อ รวบรวมอุปสรรคที่เกิดขึินระหว่างเส้นทางของรักเรา โลกที่เต็มไปด้วยจูบนับเป็นของขวัญที่มีค่ามากที่สุดในโลก เมื่อสิ่งนั้นมันคือความรัก 1. อยากเก็บเธอไว้ทั้งสองคน 2. ชนท้องน้องสาว 3. ผู้ชายแพร่พันธุ์ 4. เมื่อเขาต้องการ 5. ค่าคุ้มครองมาเฟีย 6. สาวใช้ห้องข้าง
더 보기01
"Papa!" teriak seorang anak laki-laki sembari berjalan cepat menuju sekumpulan orang. "Papa!" jeritnya, sambil memeluk kaki kiri pria bersetelan jas biru tua.
Atalaric Pradipta Dewawarman, menunduk. Dia kaget, karena dipanggil Papa oleh bocah yang tidak dikenalinya. Atalaric menatap lelaki kecil yang balas memandanginya penuh kerinduan, dan hal itu menyebabkan hatinya mencelos.
Alih-alih menjauh, Atalaric justru berjongkok agar bisa melihat jelas anak tersebut. Sudut bibir Atalaric mengukir senyuman, kala sang bocah memegangi pipi kirinya.
"Halo. Namamu, siapa?" tanya Atalaric dengan ramah.
"Arfan," jawab anak laki-laki tersebut. "Papa, kumisnya, mana?" tanyanya saat menyadari bila pria itu tidak memiliki kumis.
"Dicukur." Atalaric berdiri dan mengulurkan tangan kanannya. "Mau es krim?" desaknya.
Arfan Mubarak menganguk semangat. Dia menggenggam jemari pria tersebut dan mengikuti langkah Atalaric, menuju stand di ujung kanan. Seorang pria berbadan tinggi, bergegas mendahului guna mengambilkan es krim.
Pria berkemeja batik biru itu memberikan satu cup es krim pada Arfan yang menerimanya dengan sukacita. Alzam Jovan, ajudan Atalaric, memberikan cup lain pada bosnya, yang kemudian mengajak Arfan berpindah duduk ke kursi terdekat.
"Zam, kita mesti nyari orang tuanya," bisik Atalaric.
Alzam mengamati Arfan yang terlihat serius melahap desert itu. "Kupikir dia bukan anak tamu," jawabnya.
"Kenapa kamu bisa berpikiran begitu?"
"Bajunya, Pak. Standar. Bukan yang mahal."
Atalaric memerhatikan Arfan. "Aku nggak ngeh."
Alzam mengulum senyuman. "Bapak nggak pernah belanja baju yang murah. Jadinya nggak tahu."
"Memang kamu beli yang murah?"
"Hu um."
"Malu-maluin."
Senyuman Alzam melebar. "Dulu, Pak. Waktu belum jadi ajudan Bapak. Sekarang, bajuku bermerk semua."
"Belagu."
Alzam terkekeh. Namun, tawanya lenyap saat seorang perempuan menghampiri mereka, sambil memasang raut wajah tegang. Perempuan berambut panjang itu langsung memeluk Arfan, lalu dia mengomeli lelaki kecil tersebut, yang telah pergi dari tempat semula.
"Kamu, mamanya Arfan?" tanya Atalaric.
"Ya, Pak," sahut Harvitha Urfi Amani. "Maaf, anak saya sudah merepotkan Bapak," ucapnya sembari mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.
"Enggak apa-apa. Arfan nggak ngerepotin." Atalaric mengusap rambut lebat bocah itu.
"Ehm, kami harus kembali. Saya masih belum selesai bekerja."
"Kerja?"
"Ya." Harvitha menunjuk tim band. "Saya, penyanyi," jelasnya.
"Oh, oke. Silakan lanjutkan."
"Ayo, Fan," ajak Harvitha.
"Aku mau sama Papa," tolak Arfan yang mengejutkan mamanya.
"Bapak ini bukan Papa," cetus Harvitha.
"Papa!" kukuh Arfan.
"Papa itu berkumis, dan lebih pendek dari Bapak. Rambut, hidung, dan matanya juga beda."
Arfan mengawasi pria di sebelah kiri. Dia baru menyadari jika wajah Atalaric memang berbeda dengan papanya. Namun, Arfan benar-benar tidak mau mengikuti mamanya, dan dia malah menggelendot ke tangan kanan Atalaric.
"Aku mau Papa," lontar Arfan.
Harvitha mendengkus pelan. "Mama harus kerja, Fan. Yuk, kita ke sana."
"Biar dia tetap di sini. Aku yang jagain," sela Atalaric yang mengagetkan Harvitha.
"Ehm, apa tidak mengganggu, Pak?" tanya Harvitha.
"Enggak. Aku cuma tamu. Santai," cakap Atalaric.
Harvitha terlihat ragu-ragu. Namun, akhirnya dia mengalah dan membiarkan anaknya tetap di sana. Harvitha merunduk dan mengusap bibir Arfan dengan tisu.
"Jangan jauh-jauh dari Bapak, oke?" desak Harvitha yang dibalas anggukan Arfan. "Jangan nakal. Nanti Mama ke sini lagi," sambungnya sembari menegakkan badan.
"Maaf, saya merepotkan Bapak lagi," tukas Harvitha.
"Enggak apa-apa," balas Atalaric.
Harvita mengulaskan senyuman yang membuat tampilan wajahnya kian ayu. Atalaric terpana dan terus memandangi saat Harvitha jalan ke tempat kelompok band.
Selama puluhan menit berikutnya, Atalaric menonton Harvitha yang bergantian bernyanyi dengan rekannya. Suara Harvitha yang lembut dan merdu, menjadikan Atalaric memuji kepiawaian perempuan tersebut dalam mendendangkan lagu.
Harvitha melantunkan banyak lagu berbahasa Inggris dengan fasih. Nada-nada tinggi yang sanggup dicapai perempuan itu membuat penonton menyukainya. Bahkan, banyak yang mengajukan rekues lagu, yang dilaksanakan perempuan bergaun hijau itu dengan apik.
Seusai pertunjukan, Harvitha segera menyambangi anaknya, yang ternyata telah terlelap di pangkuan Atalaric. Harvitha tidak bisa menolak, kala pria itu memaksanya untuk diantarkan pulang.
Atalaric menggendong Arfan dengan tangkas. Dia jalan beriringan dengan Harvitha. Sementara Alzam telah melesat lebih dulu untuk mengambil mobil di tempat parkir.
"Kita belum kenalan," ucap Atalaric sambil mengulurkan tangan kanannya. "Atalaric," tukasnya.
"Harvitha," jawab perempuan berdagu lancip, sembari bersalaman, lalu dia menarik tangannya.
"Aku boleh nanya?"
"Silakan."
"Papanya Arfan, di mana?"
"Beliau kerja di kapal pesiar."
"Bagian apa?"
"Koki, di salah satu restoran western."
Atalaric mengangguk paham. "Apa wajah kami benar-benar mirip?"
"Sekilas, iya. Tapi Bapak lebih tinggi dan tampan."
"Terima kasih pujiannya."
Harvitha menyunggingkan senyuman. Dia hendak mengatakan sesuatu, tetapi ditunda, karena seunit mobil sedan mewah telah berhenti di depan.
Harvitha membukakan pintu belakang dan Atalaric segera masuk. Harvitha menutup pintu dan hendak berpindah ke depan, ketika Alzam memanggilnya sembari membukakan pintu kanan belakang.
Tidak berselang lama, mobil sedan hitam mengilat itu melaju keluar area gedung pertemuan di kawasan Kelapa Gading. Alzam menanyakan alamat pada Harvitha yang menerangkannya dengan lugas.
"Tadi aku dengar kamu nyanyi. Suaramu bagus, dan bahasa inggrisnya juga keren," puji Atalaric.
Harvitha tercenung sesaat, sebelum dia tersenyum malu-malu. "Makasih atas pujiannya."
"Kamu nyebut makasihnya sudah 3 kali. Aku nggak punya receh."
"Saya terima QRIS, Pak."
Keduanya serentak tersenyum. Begitu pula dengan Alzam. Percakapan itu terus berlanjut hingga mereka tiba di perumahan padat penduduk, di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat.
Harvitha mengarahkan Alzam melintasi jalan sempit berkelok-kelok, hingga mereka tiba di depan sebuah rumah sederhana. Harvitha hendak menggendong Arfan, tetapi dicegah Atalaric.
Harvitha akhirnya keluar dan menutup pintu mobil dengan pelan. Dia memutari kendaraan, lalu mendahului memasuki pekarangan yang pagarnya dalam kondisi terbuka.
Harvitha membuka pintu depan sambil mengucapkan salam. Atalaric menyusul sambil menggendong Arfan, sedangkan Alzam meneruskan mengemudi untuk mencari tempat buat memutar mobil.
"Arfan lagi tidur?" tanya seorang perempuan tua, yang keluar dari kamar terdepan.
"Ya, Bu. Dari tadi dia bobok, dan nggak ada bangun sama sekali," jelas Harvitha. Dia berbalik untuk mengambil Arfan. "Sini, Pak. Mau kupindahkan ke kamar," ungkapnya.
"Hati-hati," ujar Atalaric sembari memindahkan Arfan.
"Papa," bisik Arfan sambil mengeratkan pelukannya di leher Atalaric.
Ketiga orang itu terlihat kaget. Mereka saling menatap, sebelum Atalaric duduk di sofa panjang dan membaringkan Arfan dengan hati-hati. Dia mengusap rambut lelaki kecil itu sembari meraih ponselnya yang tengah berdering, dari saku celana.
"Ya, Zam," sapa Atalaric.
"Enggak ada putaran, Pak. Jalannya makin kecil di belakang," jelas Alzam.
"Mundur aja. Nanti mutar di depan masjid depan."
"Oke."
Atalaric memutus sambungan telepon. Dia memberikan ponselnya pada Harvitha yang tampak kebingungan.
"Simpan nomormu, lalu misscall dari ponselku. Supaya nopeku tersimpan di hapemu," ungkap Atalaric.
"Oh, oke," balas Harvitha.
"Kalau Arfan nyariin, kamu bisa chat, biar aku yang nelepon kamu," pungkas Atalaric.
“บำรุงร่างกายฮูหยินสามให้ดีๆ หลังจากนี้ฮูหยินต้องดื่มยาต้มนี้เป็นประจำ คงจะสามารถให้นางยังคงอยู่ต่อไปได้สักอย่างน้อยครึ่งปีหรือถ้าโชคดีก็อาจจะถึงหนึ่งปีขอรับ” หมอเอ่ยกับนายท่านจางและฮูหยินจาง ก่อนจะขอตัวจากไป“เขียนจดหมายส่งไปให้เหวินฉู่ เขาควรได้รู้เรื่องนี้และรีบรุดกลับมาให้เฉียวเฉี่ยวได้เห็นหน้าเป็นครั้งสุดท้าย” ฮูหยินจางพยักหน้าพร้อมซับน้ำตา ในวันนี้มีทั้งเรื่องยินดีและเรื่องไม่นายินดี นางได้หลานเพิ่มมาอีกสองคนแต่กำลังจะเสียสะใภ้เล็กไปแม้จะรู้ว่าการเสียสะใภ้ไปหนึ่งคนในสังคมนี้ไม่ใช่เรื่องใหญ่อะไร บุตรชายนางยังหนุ่มแน่นสามารถแต่งสะใภ้คนใหม่เข้าจวนได้ก็ตาม แต่สิบเดือนมานี้ เฉียวเฉี่ยวจัดว่าเป็นสะใภ้ที่ดีและน่ารักคนหนึ่ง แถมยังเป็นแม่ที่มีหัวอกความเป็นแม่เต็มเปี่ยมแม้การเลือกชีวิตครั้งนี้เฉียวเฉี่ยวจะไม่มีสิทธิ์ตัดสินใจยามเวลาความเป็นความตายว่าจะรักษาใครไว้ นายท่านจางกลับเลือกหลานๆ ทั้งสองไว้ทางด้านเหวินฉู่กับซิงซิง ทันทีที่ทั้งสองเดินทางออกพ้นประตูเมือง เหวินฉู่ก็ดึงร่างบางขึ้นสู่หลังม้าเขาควบม้าห่างประตูเมืองและกำแพงเมืองไปอย
“ฮูหยินน้อยสามอย่าโมโหนะเจ้าค่ะ ไม่ดีต่อครรภ์” ดั่งเป็นระฆังเตือนสติ ตอนนี้นางตั้งครรภ์ ทายาทของเขา ให้เขาต้องจากไปอย่างไรเขาก็ต้องกลับมา ไม่กลับมาหานางก็ต้องกลับมาหาทายาทของเขา ซึ่งเรื่องนี้เฉียวเฉี่ยวประเมิน เหวินฉู่สูงเกินไปเฉียวเฉี่ยวตัดสินใจไปหาเหวินฉู่ในที่สุด ตลอดเดือนมานี้นางอยู่อย่างสงบ วันๆ นางแถบไม่เห็นเขาเลย จะได้เจอกันอีกทีก็ยามหัวค่ำที่เขาต้องการสมสู่กับนาง ต้องการหรือเปล่าตอนนี้นางไม่เชื่อมั่นในตัวเองเสียแล้ว มีตรงไหนบ้างที่นางไม่ดีกับเขา นางตามใจเขาทุกอย่าง มีอยู่ครั้งหนึ่งที่นางเผลอตื่นมาตอนกลางดึก ทำให้นางรู้ว่าเขาไม่เคยนอนอยู่ข้างกายนางเลย เขาไปนอนที่ไหนกันซึ่งเรื่องนี้นางก็ไม่กล้าจะเอ่ยถามเขา แสร้งทำเป็นไม่รู้เรื่องไม่รู้ราวมาโดยตลอด เขาหลงใหลสาวใช้ห้องข้างของเขามากเลยเหรอไร
นางเปลี่ยนจากตื่นสายมาตื่นตอนเช้าทำงานเยี่ยงบ่าวทั้งงานหนักงานเบาไม่ปริปากบ่นสักคำ ยามกลางดึกสงัดเหวินฉู่เมื่อบำเรอดูแลฮูหยินน้อยเสร็จสมหลับใหลไปแล้ว เขาก็จะใช้ประตูเชื่อมเข้ามาในห้องสาวใช้ห้องข้างซิงซิง ก็แสนทรหด นางไม่ขัดขืนต่อความต้องการชายหนุ่มเลยสักนิด เขาต้องการให้นางทำอะไรนางก็กระทำให้อย่างไม่มีข้อแม้ซี๊ดดดด เหวินฉู่ ครางกระเซ่าเมื่อช่วงล่างของเขากำลังถูกซิงซิงใช้ปากดูดเคล้น เสียงจ๊วบจ๊าบ เนื่องจากคืนนี้ซิงซิงมีฤดู เหวินฉู่จึงไม่อาจทำอะไรนางได้ แต่เขาก็ยังต้องการใกล้ชิดนางมากกว่าแค่นอนกอดในแต่ละคืนสภาพสถานการณ์ในเรือนฉู่เป็นแบบนี้คืนแล้วคืนเล่า แม้เหวินฉู่จะไม่พอใจที่ซิงซิง ต้องทำงานหนักเยี่ยงบ่าวในตอนกลางวัน แต่ทว่าซิงซิงช่างดื้อนัก เขาสั่งห้ามนางก็ไม่ยอมฟัง เขาจึงจำใจต้องยินยอม แต่ก็เก็บความรู้สึกเคลือบแคลงไว้เช่นกันเฉียวเฉี่ยว ที่เคยรู้มาก่อนหน้านี้ว่าเหวินฉู่มีสาวใช้ห้องข้าง ซึ่งนางพยายามให้บ่าวสาวทั้งสองที่ติดตามนางมาไปสืบว่าเป็นผู้ใดบ่าวสาวทั้งสองทั้งๆ ที่รู้ว่าผู้นั้นคือใคร แต่พวกนางกลับให้คำตอบไปว่า “พวกบ่าวยังสืบหาไม่ได้เ
“ท่านต้องการอะไร!!” ซิงซิงใช้แรงกายอันน้อยนิดขัดขืนเขา ทั้งปัดมือเขาออกจากการลูบไล้ที่หยาบกระด้าง“ลองเดาดูสิ” ริมฝีปากทั้งสองบดเบียดกันอย่างบ้าคลั่ง ความรุนแรงที่เหวินฉู่กระทำกับซิงซิง สร้างความเจ็บปวดกายทรมานใจให้กับซิงซิงเป็นอย่างมากริมฝีปากทรมานนางยังไม่พอ ฝ่ามือกำยำยังกระทำชำเราเรือนกายอันบอบบางไม่หยุดหย่อน เขากระชากชุดสาวใช้ประจำเรือนจนขาดไม่เป็นชิ้นดี ซิงซิงก่นด่าเขาไม่หยุดเมื่อปากนางได้รับอิสระ แต่เพราะเสียงที่ไม่เป็นมงคลเหวินฉู่ไม่ชอบฟังเขากำจัดเสียงนั้นด้วยการอุดปากนางด้วยปากและลิ้นของเขาในทันทีเฮ่อเฮ่อ ลมหายใจหอบกระชั้นของทั้งสองเมื่อสายตาเว้นระยะห่างให้ช่องอากาศได้ผ่าน ดวงตาชายหนุ่มกวาดมองไปทั่วร่างบางใต้แสงสลัว เมื่อครู่เขาคงรุนแรงกับนางจริงๆ สินะ หลายๆ ตำแหน่งตามร่างกายนางมีรอยถลอกที่เกิดจากการเสียดสีของชิ้นผ้าที่เขากระชากออกไปอย่างบ้าคลั่งฝ่ามือหยาบกระด้างไล้สัมผัสผิวเนียนตั้งแต่แก้มไล่มาถึงลำคอเรียวเล็ก มีส่วนไหนของนางที่เขาไม่เคยแตะต้องอีกเหรอ แน่นอนย่อมไม่มีเขาสัมผัสแล้วทุกตารางนิ้วแต่เท่าไหร่ก็ไม
“เคยได้ยินมาว่านาโอะมีน้องสาว”“ถ้าไม่เห็นหน้าฉันก็คิดว่ามีน้องสาว แต่วันนี้พวกเราก็ตาสว่าง น้องสาวท้องชนกันนี่เอง”“แล้วตอนนี้น้องสาวไม่ร้องห่มร้องไห้ลั่นแล้วเหรอ”“ฉันคิดว่าไม่นะ! คิดตอนที่นายนั่นเอาแฟนมาสิมาสิ” คนที่ถูกพูดพาด
เลน่าเหมือนจะลืมตัวไปชั่วขณะ จนรับรู้ถึงสายตาที่มองเธอมา เอ่อ เลน่ามองเขา เมื่อได้เห็นหน้าชัดๆ พลันความอึดอัดที่เธอไม่เข้าใจก็พลันหายไป เขาคือเหตุผลที่เธอต้องมาที่นี่สองสายตาสบประสานกัน มาวินไม่เอ่ยอะไร เขาแค่มอง...มอง ไม่ทักทาย ไม่ถามและไม่แปลกใจ เลน่ารู้ได้ทันทีว่าเขารู้จักเธอ “พี
อินทิราถึงกับอ้าปากค้าง เธอเป็นถึงลูกสาวของคุณพ่อ มีการศึกษาที่ดี ชาติตระกูลก็ดีเป็นที่ต้องการของผู้ชายที่มีฐานะชั้นสูงทางสังคมมากมาย แต่เธอก็เลือกเขา ยอมเปลี่ยนแปลงตัวเองเพื่อเขา เป็นผู้หญิงในแบบที่เธอคิดว่าเขาจะชอบ สุดท้ายแล้วสิ่งที่ได้กลับมาไม่ต่างกับโสเภณีในสายตาของผู้ชายตรงหน้าอินทิร
อ้าร์สสสส เขากดนิ้วกลางของเขาและเธอผลุ๊บเข้าไปในร่องแคบเปียกแฉะ ทำเอาดาด้ากรีดร้องเพราะความเสียว “ชักเข้าชักออก” อาทิตย์กระซิบ เธอไม่รอช้าขยับนิ้วเป็นจังหวะเดียวกับเขา อ้าร์ส อ๊ะส์ เฮ่อเฮ่อ“มันส์มั้ย” อาทิตย์กระซิบถามที่ริมหู ดาด้าไม่มีเสียงจะตอบทำได้พยักหน้า ร่างกายเธอเร้าร้อนเหมือนอยู่ในกระทะที






리뷰