Se connecterในขณะที่นาฬิกาเดินไปตามเข็มของมันจากกลางวันเป็นกลางคืน เช่นเดียวกับวันและเดือนที่เดินผ่านไปอย่างรวดเร็ว หลายคนอาจจะไม่รู้สึกอะไรเพราะมันคงเป็นเรื่องปกติของโลกจนไม่ได้สนใจว่าอันที่จริงแล้วเวลาพวกนี้มันเดินช้ามาก ยิ่งถ้าคุณมีความสุขกับมันมากเท่าไหร่เวลาที่หมุนรอบตัวก็จะไวขึ้น และเช่นเดียวกับสิ่งตรงกันข้าม เมื่อไหร่ที่คุณมีความทุกข์เวลาที่ว่าไวมันก็จะเดินช้าลงมากขึ้น และมากขึ้น จนคุณทนไม่ไหวว่าทำไมคุณถึงยังไม่หลุดพ้นจากความทุกข์นี้ไปสักที... ฉันเองก็เป็นหนึ่งในนั้นเพราะฉันกำลังเป็นทุกข์ “พ่อคะ พ่อตอบมิราหน่อย ฮือ ๆ” ฉันลูบคราบเลือดออกจากหน้าพ่อพลางเช็ดน้ำตาตัวเองที่หยดลงบนหน้าพ่อไปด้วย ตอนนี้ฉันเหมือนกำลังจะเป็นบ้า รู้ทั้งรู้ตรงหน้าว่าพ่อไม่รอดแล้ว รอยกระสุนเจาะลงที่หน้าผากขนาดนี้แต่ฉันก็ยังคงหลอกตัวเองอยู่ว่าพ่อจะต้องรอด และสิ่งที่คุณกำลังเห็นคือความทุกข์ที่ฉันมีมาตลอดในช่วงระยะเวลา 4 ปี “แกมั่นใจแล้วใช่ไหมว่าการแก้แค้นมันจะทำให้ทุกอย่างดีขึ้นมาจริง ๆ ฉันไม่อยากเห็นแกมาเสียใจทีหลังกับสิ่งที่ทำนะมิรา”
Voir plus#1
"Zam, lekaslah nikah! Mama sudah pengen nimang cucu!" Azam Malik menghela napas panjang. Sudah berapa kali ia mendengar tuntutan dari mamanya? Lebih dari sepuluh kali, mungkin. "Ma," katanya dengan nada lelah, "semua wanita yang kukenalkan ke Mama kenapa ditolak?" Bu Sandra, hanya mengangkat bahu. "Itu karena Mama nggak suka," jawabnya ringan. Azam mendesah. Begitulah selalu. Setiap wanita yang ia bawa pulang, entah itu dokter, pengusaha, dosen, bahkan model, tidak ada satu pun yang lolos dari seleksi ketat mamanya. Ada yang kurang cantik, kurang berpendidikan, kurang sopan, ataupun kurang kaya. Semua selalu ada kurangnya. "Ya sudah," ucap Azam akhirnya, memutuskan menyerah, "Mama aja yang cariin." Seulas senyum kemenangan terlihat di wajah wanita paruh baya itu. "Oke, mulai hari ini, Mama akan berburu calon menantu!" Sebagai istri konglomerat sukses, Bu Sandra tentu harus menjaga nama baik keluarga. Menantu yang dipilihnya harus memiliki kecantikan, kepintaran, serta keanggunan. Namun, sejauh ini, tak ada satu pun wanita dari kalangan menengah ke atas yang cocok dengan kriterianya itu. Tiba-tiba, ia teringat percakapan dengan teman lamanya saat reuni SMA bulan lalu. "Menantu terbaik kadang datang dari tempat yang tak terduga, Sandra. Jangan hanya cari dari kalangan atas. Kadang, justru yang sederhana lebih tulus." Bu Sandra mendengkus saat itu. "Sama aja, Mel. Orang miskin itu lebih gampang silau lihat kemewahan." Sudah belasan wanita pilihannya dari kalangan atas ditolak Azam. Apa memang benar kata temannya? Mungkin, kali ini, ia harus menurunkan standar dan mencoba mencari menantu dari kalangan menengah ke bawah. *** Pagi itu, Bu Sandra berdiri di depan cermin, menatap bayangannya sendiri. Biasanya, ia selalu mengenakan pakaian mahal dengan perhiasan berkilauan. Namun, kali ini ia melepas semua itu. Ia hanya mengenakan kaos oblong longgar dan celana kulot hitam. Rambutnya disanggul sederhana, wajahnya polos tanpa make-up. Bi Arum, asisten rumah tangganya, mengerutkan kening. "Bu, mau ke mana pakai baju seperti itu?" "Tolong suruh Mang Asep siapkan mobil, Bi!" titah Bu Sandra tanpa menjelaskan lebih lanjut. Saat mobil berjalan, Mang Asep sempat melirik dari kaca spion. "Bu, kita mau ke mana?" "Pasar." Mang Asep mengerjapkan mata, terkejut. "Lho, biasanya Bi Arum yang belanja, Bu." "Bi Arum lagi sibuk, Mang," kilahnya. Bu Sandra tidak tahu pasti di mana harus mencari calon menantu dari kalangan menengah ke bawah. Ia yakin, di pasar tradisional ada banyak orang dari kalangan itu. Mungkin ia akan menemukan seseorang yang menarik perhatiannya. Siapa tahu? Setibanya di sana, Bu Sandra membaur dengan ibu-ibu yang berdesakan saat melewati lorong pasar yang sempit. Aroma tak sedap terhidu saat ia melewati los tempat penjualan daging dan ikan yang becek. Lalu, matanya menangkap antrean panjang di sebuah gerobak soto. Aroma kuah yang kaya rempah menguar di udara. Perutnya mendadak keroncongan. Tanpa pikir panjang, ia pun ikut antre. Dua puluh menit berlalu, akhirnya ia duduk dengan semangkuk soto di hadapannya. Begitu sendok pertama menyentuh lidahnya, ia terkejut. Rasanya luar biasa! Gurih, hangat, dan penuh cita rasa. Tak butuh waktu lama baginya untuk menghabiskan seluruh isi mangkuk. Namun, ketika hendak membayar, ia merogoh tasnya dan menemukan kenyataan yang mengejutkan. Dompet dan ponselnya tidak ada! "Maaf, Mas," ucap Bu Sandra dengan panik, "dompet saya ketinggalan." Seorang ibu ber-make-up tebal yang duduk di sebelahnya langsung mencibir. "Ah, modus! Orang miskin memang banyak akal!" Bu Sandra membelalak. Miskin? Dia dibilang miskin? Ibu-ibu itu tertawa sinis. "Udah deh, kalau nggak bisa bayar, sana cuci piring!" Bu Sandra mengepalkan tangan. Emosinya sudah meluap. "Enak saja! Seumur hidup saya nggak pernah cuci piring, ya!" "Udah miskin belagu!" Emosi Bu Sandra meluah tak tertahankan. "Seluruh isi pasar juga saya sanggup beli!" Ibu itu tertawa kencang, meremehkan, Bu Sandra makin emosi. Di saat situasi memanas, sebuah tangan menyodorkan selembar uang lima puluh ribu kepada penjual soto. "Buat bayar soto Ibu ini, Mas," ucap seorang gadis dengan suara lembut. Bu Sandra spontan menoleh. Seorang gadis berhijab berdiri di belakangnya, tersenyum ramah. Mata sendunya dinaungi alis tebal dengan bulu mata lentik alami. Hidungnya mancung, wajahnya bersih tanpa polesan make-up. Wanita paruh baya itu tertegun. Bagaimana mungkin di pasar becek dia bisa menemukan gadis cantik berspek bidadari? "Kamu siapa?" Bu Sandra bertanya, masih terkejut. Ia memindai penampilan gadis itu dari ujung kaki yang bersandal jepit hingga ujung kepala yang tertutup hijab lusuh Gadis itu tersenyum manis. "Saya Vio, Bu." Seorang penjual jamu gendong datang menyela, "Vio, tumben belum pulang? Kamu nggak jemput Rosi?" "Aku jualan donat dulu, Mbok. Dikit lagi abis. " Gadis itu mengangkat keranjang plastik yang dibawanya. Bu Sandra menatap keranjang yang penuh dengan donat bertopping warna-warni menggugah seleranya. "Ibu mau coba?" Vio mengambil tiga donat dan menyodorkannya. Bu Sandra terlihat canggung. "Tapi saya nggak bawa dompet." Gadis itu memasukkan tiga buah donat ke dalam kantong plastik, lalu menyodorkannya. "Ini gratis buat Ibu," ujar gadis itu ringan. Belum sempat Bu Sandra mengucapkan terima kasih, gadis itu keburu pergi. Wanita berusia setengah abad itu tersenyum tipis. Pertemuan itu sangat berkesan di hatinya. Seumur hidupnya, ia belum pernah bertemu orang setulus gadis penjual donat itu dalam menolong orang. Gadis itu cantik, sederhana, baik hati, dan suka menolong. Bu Sandra sedang mempertimbangkan untuk menjadikan gadis itu kandidat menantu idamannya. Keesokan harinya, Bu Sandra kembali ke pasar. Ia ingin menemui gadis penjual donat itu untuk membayar utang sotonya. Namun, setelah berkeliling pasar cukup lama, ia tak berhasil menemukan gadis itu. "Bu, lihat gadis penjual donat?" tanyanya kepada wanita tua penjual jamu gendong. "Sudah pulang, Bu. Donatnya sudah habis." Bu Sandra menghela napas kecewa. Rupanya, ia datang kesiangan. Ia pun berbalik menuju mobil. Pikirannya masih melayang-layang pada gadis penjual donat itu. Di seberang jalan, Mang Asep sudah menunggu di samping mobil. Bu Sandra melangkah ke tepi jalan, mencari celah di antara padatnya lalu lalang kendaraan yang melintas. Ketika dirasa jalanan cukup aman, ia pun mulai menyeberang. Tiba-tiba bunyi klakson nyaring terdengar memekakkan telinga. Matanya membelalak saat melihat sepeda motor melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Kakinya kaku. Napasnya tercekat. Ia tidak tahu harus mundur atau maju. Saat ia sudah pasrah, sebuah tangan menarik lengannya dengan kuat ke belakang. Bruk!!! Sepeda motor itu melesat nyaris menyenggol tubuhnya. Bu Sandra jatuh ke pelukan seseorang. Napasnya memburu. "Ibu nggak apa-apa?" Suara itu terdengar lembut, penuh kekhawatiran. Bu Sandra menoleh, dan matanya membulat. Orang yang sudah menyelamatkan nyawanya ternyata ....“อย่าลืมทำให้พี่ด้วยสิครับ อืมม” พี่เขาเองก็จับแขนฉันให้เอามือไปจับยังส่วนลูกชายของเขาเช่นกันนานหลายนาทีที่เราทำแบบนี้ให้กันจนฉันและเขาปลดปล่อยออกมา“พะ...พี่แดน” ฉันเรียกชื่อพี่เขาที่นั่งอยู่ตรงระหว่างขาของฉัน“จะให้พี่หยุดไหม?” พี่เขาพูดพร้อมกับใช้น้องชายถูส่วนนั้นของฉันอยู่ แล้วแบบนี้จะถามเพื่ออะไรกัน“…” ฉันเงียบแทนและหันหน้าไปมองทางอื่น พอฉันทำแบบนี้พี่เขาก็หัวเราะออกมาเสียงเบาหลังจากที่แกล้งฉันสำเร็จ“ผ่อนคลายไว้นะครับ เจ็บแป๊บเดียว”ปึก!“อื้อ!” ฉันร้องออกมาเสียงดังด้วยความเจ็บปวดที่พี่เขากระแทกเข้ามาทีเดียวโดยที่ฉันยังไม่ทันได้ตั้งตัวเลย แถมเขายังมาจูบฉันเอาไว้ด้วยเพื่อไม่ให้ฉันร้องออกมาเสียงดังจนคนข้างนอกได้ยิน“อืม มิรา ~” พี่เขาเริ่มขยับส่วนตรงนั้นพลางเอ่ยเรียกชื่อฉันไปด้วย“อื้ออ อ๊า ~ บะ...เบาหน่อยพะ...พี่แดน” ฉันพูดออกไปไม่เป็นภาษาเมื่อแรงกระแทกของพี่เขามันรุนแรงมากขึ้นจนฉันต้องใช้มือจับที่ท้องน้อยของตัวเองด้วยความจุก“รัดพี่ขนาดนี้จะให้พี่ทำเบาได้ยังไง!” เราสองคนหอบหายใจเข้าออกอย่างแรงเหมือนกันหลายนาทีที่พี่เขาทำแบบนี้โดยเปลี่ยนท่าทางไปมา มีเพียงแค่เสียงหอบหายใจเสียงเ
“ครับแม่ ถ้าที่นู้นคงที่แล้วเมื่อไหร่ ผมก็จะกลับมาช่วยงานพ่อที่ไทยต่อครับ” ฉันยิ้มให้กับคำพูดของเขา“จริงเหรอลูก!” แม่ของเขาดูดีใจมาก เรื่องนี้ฉันรู้มาจากคุณปู่แล้วว่าพี่แดนเพื่อไปควบคุมคนและไปจัดการเรื่องการรับตำแหน่งนิดหน่อยนอกนั้นเขาก็สามารถไปกลับระหว่างไทยกับรัสเซียไทยถ้าเขาไม่เหนื่อยก่อนนะ“พ่อครับ...” รอบนี้เป็นพ่อของพี่แดนเองที่หันไปเรียกคุณปู่ที่นั่งทำหน้านิ่งอยู่ ฉันรู้ว่าปู่คงดีใจที่ลูกชายตัวเองหันมาเรียกพ่อแบบนั้นแต่แค่ปั้นหน้าเหมือนหลานตัวเองไม่มีผิดและที่พ่อของพี่แดนต้องหันไปหาปู่เพราะคงกำลังอยากรู้ว่าปู่จะปล่อยพี่แดนให้กลับมาได้จริงเหรอ“อะแฮ่ม! เออก็ตามที่มันพูดนั้นแหละ” ฉันได้แต่ยิ้มและส่ายหน้าออกไป“แม่ทานนี้หน่อยนะครับ” และพี่แดนก็เริ่มทำให้สิ่งที่ฉันไม่ได้ขอเอาไว้ นี่คงเป็นการทลายกำแพงที่เขามีแต่ครอบครัวของตัวเอง เขากำลังทำด้วยตัวเองโดยที่ฉันไม่ได้ขอก่อนหน้านั้นฉันขอให้เขาช่วยแสดงออกให้มากกว่านี้หน่อย อย่างน้อยเรียกคำว่าแม่ด้วยใบหน้าที่เต็มใจและหันกลับมาคุยและสนใจท่านบ้างได้ไหม ฉันไม่ได้บังคับว่าพี่แดนจะต้องทำแต่ฉันแค่อยากให้พี่แดนแสดงมันออกมาเท่าที่พี่แดนทำได้ก็
การที่ปู่ของเขาเรียกฉันไปคุยมันเกี่ยวอะไรกับการที่ฉันจะต้องไปจากเขากันเพราะสิ่งที่ทำให้ฉันเสียใจและเศร้าคือเรื่องสมัยเด็กของเขาต่างหากที่ปู่ได้ทำผิดกับพ่อแม่เขาโดยการพรากเขาไปจากพ่อแม่ของตัวเองปู่ของเขาเล่าเรื่องที่ตัวท่านเองทำผิดทั้งหมดให้ฉันฟังเพื่อหวังระบายมันออกมาและปู่ก็อยากทำเพื่อหลานของตัวเองด้วยการที่อยากจะให้ฉันดูแลเขาให้ดีที่สุดเท่าที่ฉันทำได้แต่เมื่อไหร่ถ้าหลานของท่านนอกใจหรือทำให้ฉันเสียใจปู่ก็บอกว่าฉันสามารถฟ้องท่านได้เลย เพราะท่านจะจัดการให้อย่างสาสมแต่ขอแค่ฉันรักหลานของท่านจริง ๆ เพราะเรื่องราววัยเด็กของเขามันช่างแตกต่างจากคนอื่นมากอีกอย่างฉันก็ต้องรับให้ได้ด้วยว่าเขาจะต้องกลับรัสเซียเพื่อไปรับตำแหน่ง มันจะทำให้เวลาของฉันกับพี่แดนมีน้อยลงมาก แต่ปู่ท่านเองก็บอกว่าฉันสามารถไปอยู่ที่นั้นได้ถ้าฉันต้องการเพราะแบบนี้สินะถึงได้ทำให้แม่ของเขามีสีหน้าแบบนั้นและสิ่งที่เขาทำกับแม่แบบห่างเหินเขาไม่ได้ตั้งใจทำ แต่แค่เขาไม่รู้ว่าควรจะปฏิบัติตัวยังไงกับมารดาของตัวเองมากกว่าเพราะตั้งแต่เด็กเขาอยู่กับปู่ที่เลี้ยงเขามาโดยตลอดเลยทำให้ความสัมพันธ์เขากับพ่อแม่ห่างหายไปเหมือนเป็นแค่คนแ
หรือปู่ท่านจะมาคุยกับฉันเรื่องที่ฉันทำกับหลานรักของตัวเองไว้งั้นเหรอ อย่าบอกนะว่าพี่แดนไปฟ้องปู่เขาอะ“หลานข้าเป็นยังไงในความคิดของแม่หนู” ฉันมองคนตรงหน้าพร้อมกับตั้งคำถามภายในใจว่าคนคนนี้จะมาไม้ไหนทำไมถึงได้ถามแบบนี้ออกมาแถมท่าทีก็เปลี่ยนไปจากข้างนอกเวลาอยู่ต่อหน้าสามคนข้างนอกปู่จะวางมาดน่ากลัวตลอด แต่ตอนนี้กับกำลังทำหน้าตาดีใจพร้อมกับถามฉันเรื่องของพี่แดนออกมา“ว่าไงล่ะเอ๊ะอย่าเงียบสิข้าถาม” ฉันละความคิดออกจากตัวเองที่เอาแต่ตั้งคำถามแล้วหันกลับมาตั้งสติตอบคนตรงหน้าที่เริ่มโมโหออกมาแล้วปู่กับหลานอารมณ์พอกันเลย“พี่เขาก็ขยันทำงานดีค่ะ” ฉันที่ไม่กล้าตอบด้านลบ ๆ ออกไปก็เลยพูดเรื่องดีแทน“แค่นี้? พูดมาสิข้อเสียมันมีอะไรบ้างไอ้เรื่องทำงานข้าเลี้ยงมันมาข้าก็ต้องสั่งสอนเรื่องนี้มาดีอยู่แล้ว” ปู่แกพูดด้วยใบหน้าไม่สบอารมณ์ที่ฉันเอาแต่พูดชมหลานของเขาฉันเดาทางไม่ถูกละนะ“ให้หนูพูดข้อเสียเหรอคะ?” ฉันถามย้ำอีกครั้ง นี่เราไม่ได้ฟังผิดไปใช่ไหม“ก็เออสิวะ!” ปู่เองก็ตอบออกมาด้วยเสียงที่ดังเหมือนกับกำลังโมโห“ถ้าข้อเสียก็คง...บ้างานไปหน่อยไม่สนใจความรู้สึกคนรอบข้างทำอะไรเกินตัวตลอดอย่างกับตัวเองเป็