LOGINSuamiku pulang membawa seorang anak, tepat di perayaan ulang tahun putri kami. Anak perempuan itu memanggil papa pada suamiku. Siapa dia?
View Moreในบ้านหลังเล็กๆเก่าๆท้ายซอย 2พ่อลูกที่อยู่กันตามลำพังน้ำหนึ่งหญิงสาวอายุแค่22ปี ผู้ที่มีใบหน้าคมเข้ม จมูกโด่งชี้งอนซึ่งถ่ายทอดมาจากพ่อของเขา รูปปากที่อวบอิ่ม กำลังยืนร้องไห้ต่อหน้าพ่อของเขา ตาศรีชายวัย64 พ่อเพียงคนเดียวของน้ำหนึ่ง
"พ่อทำไมไม่บอกหนึ่งเลยต้องรอให้เขามาทำร้ายพ่อก่อนใช่ไหมถึงจะยอมบอกหนึ่ง"
คนเป็นลูกไม่อาจทนมองสภาพบ้านที่มันพังโดยที่ข้าวของกระจัดกระจายเช่นนี้ และที่โมโหคือกลัวพ่อตัวเองจะโดนทำร้ายเพราะ น้ำหนึ่งมีพ่อเพียงคนเดียว
""พ่อขอโทษนะหนึ่งพ่อไม่อยากให้ลูกไม่สบายใจ และพ่ออยากให้หนึ่งสนใจการเรียนให้เต็มที่ ส่วนเรื่องเงินพ่อจะหามาให้""
ทั้งโมโหและเสียใจตอนนี้ในหัวของน้ำหนึ่งมีหลายเรื่องที่ต้องสะสาง มันอึดอัดไปหมด จนต้องการความเงียบเพื่อสงบสติอารมณ์ น้ำหนึ่งเดินกลับเข้าห้องตัวเองด้วยความเสียใจที่เป็นต้นเหตุของเรื่องนี้
ในคฤหาสน์หลังใหญ่ล้อมรอบไปด้วยบริวารนับร้อยคน ปกครองด้วย "ปกรณ์" ทายาทวัย29ปี เพียงคนเดียวของตระกูล กิตติธนปกร์ ซึ่งสืบทอดธุรกิจทุกอย่างที่พ่อของเขาได้ฝากไว้ให้ก่อนจากไป เหลือเพียงแค่แม่คนเดียวของเขาที่ยังเป็นผู้ป่วยติดเตียงเนื่องจากตรอมใจที่สามีได้จากไปเมื่อ4ปีที่แล้ว
"เรื่องที่ให้ทำไปถึงไหนแล้วว่ะ!!"
น้ำเสียงอันดุดันที่เปล่งออกมาจากสีหน้าที่นิ่งเฉยผู้ที่ได้รับ"ฉายาเจ้าพ่อน้ำแข็ง"ผู้ที่เย็นชากับทุกสิ่งยกเว้นแม่ของเขา กำลังคิ้วขมวดเป็นโบว์หลังจากที่ธุรกิจของเขาถูกตำรวจเล่นงาน ปกรณ์รับช่วงต่อธุรกิจของพ่อเขาโดยธุรกิจนั้น มีทั้งถูกกฎหมายและผิดกฎหมาย แต่ที่ยังไปต่อได้ขนาดนี้เพราะเขานั้นได้จ่ายส่วยให้ตลอด แต่ประเด็นตอนนี้เขามีคู่แข่ง ที่พยายามทำให้เขานั้นจมดิน แต่ไม่มีทางที่ใครหน้าไหนจะทำให้ ปกรณ์คนนี้ตกเหวได้หรอก เพราะเขานั้นขึ้นมาสูงกว่าใครๆ ที่คนพวกนั้นเล่นงานเขาก็ทำได้แค่เศษงานส่วนหนึ่งเท่านั้นแต่ถึงอย่างไรเขาก็หงุดหงิดอยู่ดี
"ผะ..ผมไปจัดการงานเกือบจะเก็บได้ครบทุกรายแล้วครับมีไอ้แก่รายหนึ่งมันไม่ยอมใช้หนี้ที่ติดค้างไว้หลายเดือน..พวกผมพยายามทำลายข้าวของหวังจะข่มขู่มันแต่จู่ๆตำรวจก็มาตรวจแถวนั้นพอดีพวกผมเลยรีบกลับมาครับ"
ปกรณ์หยิบหลักฐานการกู้เงินของตาแก่คนที่ลูกน้องบอกเมื่อครู่มาดูเขาเปิดกระดาษไปได้หน้าที่สอง กลับต้องสดุดเข้ากับใบหน้านวลไข่ที่ฉีกยิ้มให้กลับเขา นทีแรกทำเขาใจสั่นที่เดียว เขาต้องรีบสบัดหน้าเพื่อไม่ให้ลูกน้องจับสังเกตุได้ ปกรณ์มีความคิดแวบแรกเข้ามาในหัว เรื่องนี้ต้องสนุกแน่ๆ เขามีอะไรให้ทำแก้เครียดแล้วละ "เตรียมตัวไว้แม่สาวน้อย"
Pov Arif"Kenapa kamu bohongi aku, Rif? Katanya motret ... gak taunya mau kawin lagi. Apa aku kurang?"Aku diam, tak lagi menjawab ucapan Sasa. Pikiranku justru melayang, membayangkan wajah Karina.Bodoh, satu kata yang pantas menggambarkan diriku. Melepas berlian hanya untuk perak semata. Ingin kembali tapi nyatanya tak bisa. "Diem terus! Diem terus! Ngomong, Rif!" hardik Sasa. "Maaf, Sa ... maaf."Dari ribuan kata, hanya itu yang terlintas di kepala. Maaf ... maaf karena aku membuka pintu hingga kisah lama kembali berseru. Berharap rangakaiannya akan indah dan sempurna, tapi nyatanya berbeda. Sasa mendengus kesal, memiih diam sepanjang perjalanan Boyolali sampai Jakarta. Aku sendiri tenggelam dalam bayangan penyesalan yang tak bertepi. Sasa duduk di samping Cintya, tepat berhadapan denganku. Beruntung anak itu terlelap saat perdebatan terjadi di antara kami. Kini aku memilih memejamkan mata, menikmati jalannya kereta hingga sampai kota tujuan. ***"Aku berangkat dulu, Rin!" uca
"Sa--Sasa...," panggilnya terbata. Mas Arif gelagapan, wajahnya seketika menegang. Ada gurat ketakutan di sana. Entah ke mana tampang penuh percaya diri itu? Sasa mendekat, tanpa diminta dia duduk tepat di samping Mas Arif. Kedatangan Sasa membuat bapak dan ibu kebingungan. Sementara Talita meremas pakaianku dengan kencang. “Ini siapa, Nak Arif?”Bapak menatap tanda tanya pada perempuan yang duduk di samping mantan suamiku. Aku diam, memberi ruang dua orang itu untuk bicara. Saatnya menyaksikan pertunjukan.“Jelaskan, Nak Arif.” Ibu ikut menanyakan hal yang sama. Mereka sangat penasaran.“I-Ini ....”“Saya Sasa, istri Mas Arif. Lebih tepatnya istri di bawah tangan.”Spontan kedua mata mereka melotot. Wajah bapak pun menegang dengan mata menatap tajam dua insan di hadapan kami. Kaget kan, pak? Ya, seperti itu sikap menantu kesayangan kalian.“Istri Arif?”“Iya, Tante. Saya istri baru Arif. Kemarin dia bilang akan melakukan pemotretan, tapi malah datang kemari untuk melamar Karina.
"Bapak bicara dengan siapa?" "Bukan dengan siapa-siapa." Bapak pun mematikan sambungan teleponnya. "Sudah beli baksonya? Enak, to?"Aku mengangguk. Tidak lama bapak pergi menjauh. Meninggalkan tanda tanya yang kucoba tutupi. Lebih tepatnya menepis prasangka yang ada. Dering ponsel membangunkan diriku dari lelapnya tidur siang. Sudut bibir tertarik ke atas kala melihat gambar Talita di layar ponsel. "Kamu baik-baik saja, Rin?" tanya Fajar dari sambungan telepon. Entah kenapa kali ini ada bunga yang bermekaran. Padahal lelaki itu hanya menanyakan kabar. Apa sudah ada rasa untuknya? "Baik, Jar. Maaf, aku belum menjelaskan kepada orang tuaku. Aku masih menunggu waktu yang tepat. Setidaknya hingga marahnya mereda.""Aku menanyakan kabarmu, bukan masalah itu."Kami mulai mengobrol, tak hanya masalah pernikahan ... hal kocak lainnya menjadi topik pembicaraan. Bersama dia aku seperti memilki sahabat. Bukan sekedar calon suami. Benar kata orang, menikah itu sepenuhnya mengobrol. Bukan ha
“Kamu yakin, Jar?”Lelaki di hadapanku menoleh, meletakkan koper kemudian menatapku lekat. Sebuah lengkungan tergambar jelas di wajahnya. Tanpa ragu dia mengatakan iya. Fajar akan melamarku di hadapan kedua orang tuaku.Sejenak aku menghela napas, menghilangkan rasa sesak yang memenuhi rongga dada. Dalam diam hatiku bergejolak. Benarkah apa yang aku lakukan saat ini? Benarkah keputusan untuk menerima lamaran Fajar?“Semua akan baik-baik saja,Rin.” Fajar mengelus pelan pundakku. Dia seolah tahu apa yang tengah kupikirkan saat ini.Semua barang sudah kami masukkan ke mobil. Talita pun sudah anteng duduk di jok belakang. Kami siap berangkat ke Boyolali, kota kelahiranku.Perjalanan menuju kota kelahiran membutuhkan waktu sekitar tujuh sampai delapan jam. Perjalanan panjang untuk kami dalam kecanggungan. Jujur saja ... hatiku belum sepenuhnya terbuka untuk Fajar. Masih ada luka masa lalu yang membekas. Entah kapan sakit itu akan hilang sepenuhnya.Belum setengah perjalanan kami berhenti d
"Memang Talita mau jadi anak Om?"Mata membola, mulut terbuka lebar, nyaris es krim salah masuk jalur. Apa lagi yang Fajar inginkan? Haruskah secepat ini, saat luka dalam dada masih menganga. Meminta Talita memanggil papa di saat keadaan seperti ini bukan hal yang bagus. Fajar seolah memaksakan kehen
Malam kian larut, tapi rasa kantuk tak jua datang. Bayangan Mas Arif datang membawa paksa Talita kian menari dalam angan. Aku takut, ucapannya akan menjadi nyata. Bagaimana jika ia benar-benar mengambil Talita dariku? Denting jam memecah keheningan malam. Memaksa tubuhku terbangun lalu melangkah men
"Benar itu, Rin?, Kalian akan segera menikah?""Iya, Mas. Kami akan segera menikah, secepatnya."Mas Arif mengusap wajah kasar. Tanpa berpamitan ia pergi meninggalkan ruang rawat inapku. Sebongkah batu yang memenuhi dadaku seketika hilang. Bersamaan dengan perginya lelaki bergelar mantan suami. Lega k
"Bagaimana nasib Talita, Jar?"Aku kian khawatir. Menunggu lelaki itu bicara, tapi tak sepatah kata keluar dari mulutnya. "Talita gak kenapa-kenapa, Rin. Dia baik-baik saja.""Tapi tadi ....""Talita bersama Cantika di rumahnya. Ada yang usil sama kamu. Dia bilang Talita kecelakaan, kan? Padahal putri






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews