Share

Bab 2

Penulis: Lucky
Gara-gara aku memeluknya, aku merasa suhu tubuh adik iparku makin panas saja.

Dia langsung menyandarkan tubuhnya di bahuku, membuat bagian dadanya yang menonjol itu tertekan ke tubuhku, rasanya jauh lebih kenyal daripada punya istriku.

Tanpa sadar aku kembali meremas kuat bokong kencangnya. Seketika itu juga tubuh adik iparku seolah lemas tak bertulang seperti lumpur yang bersandar padaku.

Mulut kecilnya mengembuskan napas panas, lalu dia berusaha keras membisikkan sesuatu tepat di telingaku.

"Kak, sebenernya ... sebenernya aku nggak demam. Aku ini masih perawan, makanya aku sensitif banget sama laki-laki. Tadi malam aku mimpi basah, terus pas Kakakku mau ke kamar mandi, aku ... pakaian dalamku udah basah kuyup dan lagi aku taruh di atas mesin cuci. Kakak ipar yang baik, masa aku biarin Kakakku lihat pakaian yang kayak gitu?"

Mendengar penjelasan lirih di telingaku, ditambah lagi saat ini tanganku bebas meremas bokongnya yang membuat dia gemetar hebat, aku pun memercayainya.

Adik iparku belum pernah bercinta dengan pria, itu sebabnya dia sangat sensitif. Begitu aku sentuh sedikit saja, tubuhnya langsung terasa lemas seperti air.

Hanya karena sebuah mimpi, dia jadi merasa malu dan melepas pakaian dalamnya untuk dicuci, tapi sialnya malah berpapasan dengan istriku yang mau ke kamar mandi.

Pantas saja di balik piyamanya dia tidak memakai apa-apa sama sekali.

Dia melarang istriku masuk ke kamar mandi karena takut rahasianya terbongkar, dia pasti merasa sangat malu kalau sampai ketahuan.

Istriku kemudian mendekat dengan wajah yang tampak panik.

"Mas, apa kita perlu cari tali buat ngiket Weni?"

Adik iparku langsung panik, dia makin menempelkan wajahnya ke wajahku sambil terus berbisik memberikan penjelasan.

"Semua yang aku omongin beneran, Kak. Pas Kakak pegang bagian belakangku, Kakak harusnya tahu aku nggak bohong, aku bahkan nggak pakai celana dalam. Buruan ... suruh Kakakku pergi. Kalau dia sampai lihat baju basah itu di kamar mandi, aku nggak bakal punya muka lagi buat hidup."

Aku langsung paham situasinya dan segera berbisik pelan padanya.

"Tenang aja Dek, serahin urusan ini sama Kakak. Sekarang kamu pura-pura pingsan aja, nanti Kakakmu pasti nggak bakal macam-macam lagi. Aku bakal ambil celana dalammu diam-diam supaya nggak dilihat sama dia."

Aku memeluk adik iparku sambil merasa menang banyak.

Adik iparku ini biasanya dijuluki primadona kampus yang dingin, dia selalu bersikap cuek pada pria termasuk kepadaku. Tapi siapa sangka ternyata alasannya karena dia terlalu sensitif terhadap laki-laki.

Persis seperti yang dia katakan, sekarang saat tanganku menyentuh bagian belakangnya yang kencang, tubuh sintalnya terus-terusan gemetar di dalam pelukanku.

Tapi, ini malah menyiksaku. Sebagai pria normal, sekarang celanaku pasti kelihatan sangat tidak keruan.

Tadi sehabis bermain dengan istri saja rasanya belum cukup, sekarang gairahku malah makin naik drastis.

Sepertinya dia menyadari ada yang tidak beres denganku, jantung adik iparku berdetak makin kencang. Tubuh lembutnya yang terlalu sensitif itu bergetar semakin hebat dan dia malah makin merapat padaku.

Aku merasa tubuhku mau meledak rasanya.

Melihat istriku yang makin mendekat, aku langsung menganggap adik iparku setuju dan segera angkat bicara.

"Sayang, adikmu pingsan nih. Kayaknya demamnya beneran parah. Kamu cepetan ke kamar, tolong rapihin tempat tidurnya, biar dia aku gendong ke sana sekarang."

"Hah? Dia pingsan? Mas, apa nggak sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit aja?"

"Biar dia baring dulu sebentar, kita lihat kondisinya. Udah, buruan kamu siapin kasurnya."

"Iya, aku ke sana sekarang. Dek, jangan bikin Kakak takut dong, huhuhu."

Istriku pun bergegas pergi ke kamar dengan panik.

Mungkin karena sedang mendekap tubuh adik iparku yang begitu empuk, sisi jahat dalam pikiranku tiba-tiba meledak. Begitu istriku pergi, entah kenapa aku malah iseng meremas bagian belakangnya lagi beberapa kali.

Begitu aku menyentuhnya, aku menyadari sesuatu yang luar biasa. Wajah adik iparku yang bersandar di bahuku tampak sayu, tatapan matanya seolah mulai kehilangan kesadaran karena sudah tidak tahan lagi.

"Jangan, Kak ... jangan pegang aku lagi, aku nggak kuat ...."

Istriku sedang sibuk merapikan tempat tidur di kamar sebelah, tapi adik iparku malah membisikkan kata-kata yang memancing imajinasi seperti itu.

Aku merasa sangat bergairah sampai sulit menahannya. Sambil menatap wajah kecilnya yang memerah, tanganku tanpa sadar menyelinap masuk melalui pinggang piyamanya.

Tepat saat aku hampir menyentuh bagian yang paling sensitif, adik iparku mengembuskan napas panas dan bergumam, "Kak, jangan, kamu ...."

Drrrttt ... drrrttt ....

Di saat kritis seperti itu, ponsel adik iparku yang tergeletak di ruang tamu tiba-tiba berdering.

Aku sebenarnya enggan melepaskannya, tapi adik iparku berbisik dengan panik, "Kak, aku 'kan lagi pura-pura pingsan jadi nggak bisa angkat telepon. Kamu ... cepetan kamu ambil bajuku di kamar mandi sekarang."

Tubuhnya yang lemas tampak gemetar hebat. Sambil menahan malu dengan wajah memerah, dia melirik ke arah bayangan istriku di kamar dengan perasaan was-was.

Tentu saja aku tidak mau pergi.

Namun, adik iparku menatapku dan berbicara dengan cepat, "Kak, tolongin aku dong. Kamu 'kan udah puas meluk, dekap, sama raba-raba aku, udah menang banyak banget. Ya udah ... nanti aku kasih deh izin buat beneran pakai aku ...."

"Apa? Kamu serius? Nggak bisa, aku nggak boleh khianatin kakakmu."

Melihat ekspresi malunya, aku mencoba menggelengkan kepala.

Meski dalam hati merasa sangat berat untuk menolak, aku tetap berusaha tegar.

Siapa sangka, adik iparku justru mulai merayu dan bermanja-manja.

"Kak, ayolah bantuin aku. Aku pengin pengalaman pertamaku itu sama orang yang bisa dipercaya. Kalau Kakak nggak mau bantu, ya udah aku cari cowok berandalan aja di luar sana."

Tadinya aku sempat ragu. Begitu mendengar ucapannya, mataku langsung melotot.

Aku meyakinkan diri kalau ini memang demi menolongnya. Merasakan tubuhnya yang terus bergesekan denganku, gairah di dalam diriku pun makin berkobar.

"Itu ... nanti bakal Kakak bantu deh biar kamu nggak penasaran lagi."

Setelah mengatakannya, aku tidak tahan lagi untuk kembali mendekapnya erat dan meremas bagian belakangnya berkali-kali.

Hal itu membuat adik iparku terus-menerus memohon ampun padaku.

"Jangan buru-buru, Kak. Cepetan amanin baju aku dulu, terus bopong aku ke kamar. Kakakku bentar lagi selesai beresin kasurnya."

Mendengar ucapannya membuatku merasa makin tertantang.

Aku membaringkan adik iparku sejenak di depan pintu, lalu bergegas kembali ke kamar mandi.

Selembar celana dalam yang basah itu mengeluarkan aroma yang sangat khas.

Segera aku masukkan benda itu ke dalam saku, lalu kembali ke depan pintu untuk menggendong adik iparku lagi.

Begitu sampai di kamar adik iparku dan melihat istriku, ada sedikit rasa bersalah yang muncul di hatiku.

Namun, saat merasakan kelembutan tubuh adik iparku kembali, rasa bersalah itu langsung sirna digantikan oleh gairah yang membara.

Otakku berputar cepat mencari alasan dan langsung angkat bicara.

"Sayang, kondisi adikmu agak mendingan. Katanya dia mau makan mi, kamu tolong buatkan buat dia ya."

Adik iparku langsung berakting seolah baru saja siuman dengan suara yang terdengar lemah.

"Laper banget ... laper ...."

Istriku sama sekali tidak menaruh curiga dan langsung beranjak pergi menuju dapur.

"Weni, kamu istirahat yang benar ya, Kakak buatkan mi sekarang juga."

Begitu mendengar suara kucuran air dari dapur, aku segera merebahkan Weni ke tempat tidur dan mengeluarkan celana dalamnya yang basah tadi.

"Weni, Kakak nggak nyangka kamu se-sensitif itu. Cuma gara-gara mimpi aja celana dalammu bisa sebasah ini. Sini Kakak cek, apa tubuhmu juga ikut basah."

Wajah adik iparku seketika berubah merah padam.

"Kak, Kakakku 'kan ada di dapur. Kita begini rasanya mendebarkan banget ya."

Mendengar aktivitas istriku yang sayup-sayup terdengar dari luar ditambah melihat wajah Weni yang tampak sangat menggairahkan, aku tidak bisa menahannya lagi.

Kedua tanganku langsung memegang kakinya, mengangkatnya ke bahuku, lalu menyibakkan rok piyamanya ke atas.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Adik Iparku Memohon Aku Mengampuninya   Bab 6

    Melihat Weni keluar dari kamar, wajah Tika seketika berubah ceria. Dia menunjuk ke arahku dan berseru."Cepetan keluarin buktinya! Aku mau David angkat kaki dari sini tanpa bawa harta sepeser pun!"Dia pasti mengira kalau adik iparku sudah berhasil merekam video skandal denganku, makanya dia begitu bersemangat menyetujui perceraian ini.Weni mendekat lalu duduk di sampingku. Aku membuka ponselku sendiri dan menggoyangkannya di depan wajah Tika."Buktinya ada di sini, ambil saja kalau mau."Begitu melihat rekaman dirinya sendiri yang sedang memamerkan tubuh tanpa busana di video itu, mata Tika langsung melotot lebar."Gimana mungkin? Ka ... kalian ...."Setelah sadar dari keterkejutannya, Tika buru-buru merampas ponsel dari tanganku dan menghapus video tersebut sampai bersih.Dia menarik napas lega, lalu menunjuk hidung Weni sambil memaki."Sialan kamu Weni! Berani-beraninya kamu berkhianat dan belain orang lain. Lihat saja, bakal aku kasih pelajaran kamu hari ini!"Sambil mengumpat, di

  • Adik Iparku Memohon Aku Mengampuninya   Bab 5

    Kepalaku masih terasa berat, sisa-sisa mabuk semalam belum hilang sepenuhnya. Begitu merasakan ada sesuatu yang lembut, aku langsung mengira itu istriku yang sedang mendekat.Secara refleks aku membalikkan badan dan memeluknya erat dalam dekapanku.Aku bahkan sempat meremas bagian depannya beberapa kali.Namun, saat meremasnya, aku merasakan ada yang aneh. Kenapa ukurannya terasa jauh lebih besar dari yang biasanya?Teksturnya juga terasa sangat lembut sekaligus kenyal.Sensasi nyaman itu membuatku tidak tahan untuk kembali mencengkeramnya berulang kali.Tiba-tiba aku mendengar suara rintihan dari sosok di pelukanku. Suaranya terdengar tidak biasa.Suara itu jauh lebih manja dan menggoda dibandingkan suara istriku.Saat aku perlahan membuka mata dan berusaha melihat dengan sisa kesadaran yang ada, cahaya bulan dari balik jendela memperlihatkan kalau sosok di dekapanku bukanlah istriku, melainkan adik iparku!Aku tidak tahu istriku pergi ke mana, tapi adik iparku ini entah bagaimana sud

  • Adik Iparku Memohon Aku Mengampuninya   Bab 4

    Karena masalah ini utamanya melibatkan tetangga sebelah, polisi hanya menanyakan beberapa hal kepada kami lalu segera pergi.Begitu mereka sudah tidak ada, adik iparku buru-buru menghampiriku. Dia menatapku dari atas sampai bawah dengan tatapan yang sangat khawatir."Kakak nggak apa-apa, 'kan?"Aku menggelengkan kepala. "Tenang saja, aku nggak apa-apa kok."Mata adik iparku tampak berkaca-kaca. "Kalau tadi nggak ada Kakak .... Kak, makasih banyak ya buat yang tadi."Istriku juga memperhatikan kami berdua dengan cemas. Setelah mendengar penjelasan adik iparku tentang kronologi kejadiannya, dia pun merasa sangat ngeri.Setelah kejadian menegangkan itu, adik iparku jadi tidak selera makan. Kami pun akhirnya kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat.Tengah malam aku terbangun karena ingin ke kamar mandi, tapi aku mendapati istriku tidak ada di sampingku.Apa mungkin dia lagi ke kamar mandi?Aku bangkit dan keluar dari kamar. Saat melewati kamar adik iparku, aku mendengar suara orang

  • Adik Iparku Memohon Aku Mengampuninya   Bab 3

    Sepasang kaki adik iparku tampak gemetar hebat, dia sepertinya juga merasa sangat bergairah.Reaksinya itu membuatku makin bersemangat, apalagi tatapan matanya yang penuh gairah membuat tubuhku rasanya hampir meledak.Aku pun menempelkan tubuhku erat-erat padanya."Weni, nanti suaranya pelan-pelan saja ya, jangan sampai kakakmu dengar."Tepat saat aku hendak mencicipi gairah muda adik iparku, tiba-tiba terdengar suara gaduh dari arah jendela.Ada seseorang yang berusaha melompat masuk lewat sana."Dasar perempuan jalang! Beraninya kamu selingkuh di belakangku! Aku nggak akan lepasin kalian berdua, aku laporin polisi sekarang juga ....""Huhuhu ... tolong jangan lapor polisi, aku mohon ...."Dari sebelah terdengar suara makian seorang pria dan tangisan seorang wanita.Melihat ada bayangan orang yang bergerak di luar jendela, aku tersentak kaget dan buru-buru turun dari tubuh adik iparku.Weni pun perlahan mulai tersadar dari suasananya, dia segera merapikan pakaiannya dan menunjuk ke ar

  • Adik Iparku Memohon Aku Mengampuninya   Bab 2

    Gara-gara aku memeluknya, aku merasa suhu tubuh adik iparku makin panas saja.Dia langsung menyandarkan tubuhnya di bahuku, membuat bagian dadanya yang menonjol itu tertekan ke tubuhku, rasanya jauh lebih kenyal daripada punya istriku.Tanpa sadar aku kembali meremas kuat bokong kencangnya. Seketika itu juga tubuh adik iparku seolah lemas tak bertulang seperti lumpur yang bersandar padaku.Mulut kecilnya mengembuskan napas panas, lalu dia berusaha keras membisikkan sesuatu tepat di telingaku."Kak, sebenernya ... sebenernya aku nggak demam. Aku ini masih perawan, makanya aku sensitif banget sama laki-laki. Tadi malam aku mimpi basah, terus pas Kakakku mau ke kamar mandi, aku ... pakaian dalamku udah basah kuyup dan lagi aku taruh di atas mesin cuci. Kakak ipar yang baik, masa aku biarin Kakakku lihat pakaian yang kayak gitu?"Mendengar penjelasan lirih di telingaku, ditambah lagi saat ini tanganku bebas meremas bokongnya yang membuat dia gemetar hebat, aku pun memercayainya.Adik ipark

  • Adik Iparku Memohon Aku Mengampuninya   Bab 1

    "Gawat Mas, cepetan sini! Weni apa jangan-jangan sakitnya udah parah ya sampai jadi aneh? Tadi 'kan aku habis kamu mainin lama banget tuh, pas aku mau ke kamar mandi karena udah nggak tahan, dia malah ngalangin dan nggak bolehin aku masuk."Aku yang masih di kamar sambil membayangkan tubuh seksi istriku tadi langsung tersadar begitu mendengar ucapannya, lalu segera keluar dengan perasaan yang masih setengah sadar.Istriku mengenakan gaun tidur hitam bertali tipis yang tadi dia pakai untuk menggodaku, potongannya sangat pendek dan melekat ketat membungkus tubuh mungilnya.Begitu melihatku muncul, wajah istriku tampak cemas dan dia segera mendekat, membuat bagian dadanya yang menonjol di balik kain tipis itu tertekan kuat ke tubuhku."Mas, coba deh lihat, aku rasa Weni gila. Aku mau ke kamar mandi tapi dia terus-terusan melarang, malah pakai dorong dan marah-marah segala. Tadi aku sempat pegang dahinya, ternyata panas banget. Apa mungkin dia demam sampai kehilangan kesadaran ya?"Istriku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status