แชร์

135. Pasar Tradisional

ผู้เขียน: Velune Nyvaris Miratha
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-05 17:42:10

Cukup melelahkan untuk Elena hari ini, yang tengah sibuk membawa barang belanjaan Amerta di sebuah pasar tradisional yang baru saja buka kemarin.

Awalnya, Elena menolak keras karena enggan berdesakan. Ia juga ingin menghabiskan waktunya di dalam kamar di rumah Zalen, dan bermalas-malasan sebelum nanti mengurus bisnis lagi.

Namun, Zalen justru menitahnya dengan keras. Ia berkata, sekaligus belajar menjadi calon istri yang baik.

"Apa-apaan calon istri yang baik?! Nanti jika aku menjadi istri siapa pun, aku tidak mau memasak! Aku mau memesan saja, aaaahh!" gerutu Elena.

Bibirnya maju beberapa senti, alisnya menukik dengan tatapan sinis yang ia layangkan pada pengunjung lainnya. Sesekali, Elena akan mencubit lengan Amerta untuk meminta pulang.

Namun, wanita itu acuh. Amerta tetap fokus memilih bahan-bahan baku dan memborongnya. "Diamlah, Elena!" desisnya, saat cubitan Elena semakin kuat.

Elena menghentakkan kaki, matanya sudah berkaca-kaca karena menahan rasa panas, sesak, dan beris
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   138. Salju Pertama Bersama Jay?

    Kamar yang sebelumnya bernuansa terang dengan warna-warna merah muda, hijau muda, biru muda, dan putih ini, berganti menjadi lebih gelap. Cat ditutupi oleh wallpaper dinding, yang bercorak berwarna merah, hitam, dan sedikit emas sebagai garis hias. Lampu-lampu tidur dengan elemen langit, seperti awan dan bulan sabit. Ia juga menghias cermin dengan bunga-bunga palsu, bahkan mengganti karpet dengan yang berbulu. Seprai cokelat, yang sepasang dengan selimutnya, masih membalut tubuh Elena. Wanita itu masih tidur dengan nyaman, dan berniat bangun lebih siang hari ini. Matanya terasa sangat berat, setelah seharian menata ruangan. Isi lemarinya juga sudah berubah, didominasikan oleh pakaian berbulu, dan pakaian yang ukurannya besar. Aroma ruangan yang sebelumnya seperti mawar, berubah menjadi seperti tanah basah setelah hujan. Bahkan tirai penutup jendela dan balkon, juga diganti menjadi warna hitam. Tidak jauh berbeda dengan kamar Zalen, yang suasananya juga berubah drastis. Sebelu

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   137. Merubah Isi Rumah

    Kini, Elena berdiri di sebuah kursi untuk membantunya memaku dinding. "Mam! Ambilkan paku, di sana!" titah Elena dengan suara keras. Hal itu membuat Zalen memukul bokongnya, walau tetap menjalankan perintah sang anak. "Jaga nada bicaramu, Bocah!" tegurnya. Elena hanya tertawa pelan, lalu kembali fokus memasang paku di beberapa bagian tembok untuk tempat hiasan dinding. Keringat mengucur dari keningnya, meski pendingin ruangan sudah berada di suhu paling rendah. Amerta sendiri sibuk memilah barang-barang lama, yang sudah Zalen pisahkan. Rencananya, Amerta akan tinggal di sini selama musim dingin. Karena Zalen dan Amerta sudah bersahabat sangat lama, dan Amerta sedang memiliki masalah dengan keluarganya. Elena menghela napas pelan. "Kenapa tidak palai pengerat saja seperti biasa, Mam? Aku seperti hidup di pedesaan kalau harus seperti ini," gerutunya. Zalen yang sedang ikut memilah barang, langsung berdecak. "Percayalah, hal ini berguna untuk masa depanmu, Elena," sahutnya. Sang

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   136. Keperluan Musim Dingin

    "Mami, mau ikut? Apa kau masih punya banyak pekerjaan?" tanya Elena. Zalen menggeleng pelan. "Mami ikut, banyak yang harus kita beli nanti, dan Mami tidak yakin kau bisa memilihnya."Hampir saja Elena memekik tidak terima, namun Amerta lebih dulu turun dengan pakaian yang sudah berganti. Ketiganya berangkat dengan mobil terpisah, Elena satu mobil bersama Zalen. Karena kata Zalen, mereka akan belanja banyak dan tidak yakin hanya cukup satu mobil. Elena jadi membayangkan, apa saja yang akan dibeli sang ibu hingga akan memenuhi dua mobil? Kemarin, Zalen memang sempat memisahkan beberapa pakaiannya dan Elena yang sekiranya sudah tidak terpakai. Lemari mereka juga hampir kosong, bersisa beberapa dress dan piama satin saja. Kaus-kaus ketat pun dipisahkan, katanya untuk diberikan pada anak-anak buah Zalen di bar. Sekitar lima belas perjalanan, mereka sudah sampai di mall milik Alberto. Tentu saja, Amerta langsung disambut oleh prianya itu di pintu masuk. Seolah lupa dengan kehadiran Z

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   135. Pasar Tradisional

    Cukup melelahkan untuk Elena hari ini, yang tengah sibuk membawa barang belanjaan Amerta di sebuah pasar tradisional yang baru saja buka kemarin. Awalnya, Elena menolak keras karena enggan berdesakan. Ia juga ingin menghabiskan waktunya di dalam kamar di rumah Zalen, dan bermalas-malasan sebelum nanti mengurus bisnis lagi. Namun, Zalen justru menitahnya dengan keras. Ia berkata, sekaligus belajar menjadi calon istri yang baik. "Apa-apaan calon istri yang baik?! Nanti jika aku menjadi istri siapa pun, aku tidak mau memasak! Aku mau memesan saja, aaaahh!" gerutu Elena. Bibirnya maju beberapa senti, alisnya menukik dengan tatapan sinis yang ia layangkan pada pengunjung lainnya. Sesekali, Elena akan mencubit lengan Amerta untuk meminta pulang. Namun, wanita itu acuh. Amerta tetap fokus memilih bahan-bahan baku dan memborongnya. "Diamlah, Elena!" desisnya, saat cubitan Elena semakin kuat. Elena menghentakkan kaki, matanya sudah berkaca-kaca karena menahan rasa panas, sesak, dan beris

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   134. Sebagai Rekan Kerja

    Hari ini, Elena sudah siap dengan pakaian formalnya. Ia memakai kemeja merah tertutup, dibalut blazer hitam. Dengan bawahan rok senada, yang panjangnya di atas lutut. Jadwal Elena sekarang adalah menemui klien barunya, untuk membuka bisnis restoran tradisional di sini. Karena setelah kepergian Elena, Zhangbu memiliki tren makanan baru. Anak-anak muda berlomba mencari restoran atau tempat hiburan, yang menyajikan suasana tradisional. Mereka menyadari, betapa pentingnya ketenangan di tengah-tengah kepadatan Ibu kota. Elena yang sudah membangun restoran tradisional di Zevallus dan memiliki beberapa cabang, membuat klien itu tertarik menjalin kerja sama. Klien itu tidak lain adalah Riven, manjan majikannya. Elena sangat bersamangat untuk bertemu Riven, dengan perubahannya. Ia tidak sendiri, melainkan bersama Zalen yang juga ikut andil dalam kerja sama ini, sebagai klien lainnya. Sepasang anak dan ibu itu berangkat menggunakan mobil pribadi, yang baru dibeli Zalen minggu lalu. Merek

  • Ah! Jangan Berhenti, Tuan Riven!   133. Mempersiapkan diri

    Setelah sampai di kediaman Zalen, Elena langsung pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Kemudian, merapihkan barang-barang bawaannya sebelum turun untuk ikut makan bersama. "Mam, aku benar-benar lelah hari ini. Aku juga bertemu dengan Riven dan Jay," ujarnya menceritakan hal-hal yang ia temukan dengan antusias. Zalen menggigit keras paha ayam cabai di tangannya, rasanya masih geram ketika mendengar nama 'Riven', apalagi saat disebutkan oleh sang anak. Amerta yang melihat itu, lantas tertawa. "Asal kau tau, Elena. Mamimu ini masih sangat dendam pada Riven, karena membuat hidupmu penuh drama," katanya. Elena yang sebelumnya memasang raut antusias, langsung meredup dan dengan cepat bangkit dari duduknya untuk memeluk Zalen yang masih cemberut. "Ummm, Mamiii. Maaf, ya. Tapi aku masih suka sama Riven, Mam, dia terlihat lebih baik," ujarnya membujuk. Zalen hanya mendengus, dan melanjutkan acara makannya tanpa menjawab bujukan Elena. Ia membiarkan sang anak mengecup pipinya b

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status