LOGINDan di keesokan harinya Ali pun benar-benar siuman tak lama setelah Roni kembali ke Indonesia, iya roni tak bisa lama tinggal di sana sebab cuacanya yang dingin karena salju sedang turun di sana.Mendapati Ali yang siuman, tentunya Liona sangat senang. Dia langsung memberitahu Papa dan Mama perihal tentang itu, membuat mereka juga ikut senang dan bahagia.Sesaat setelah dirinya siuman, Ali terkejut mendapati Liona memeluknya sambil menangis. Di sini Ali kebingungan apa yang sebenarnya terjadi, dia sama sekali tak mengingatnya.“Ali… hikhik… akhirnya kamu siuman juga. Aku takut sekali kamu akan pergi ninggalin aku. Ali, aku senang sekali kamu akhirnya bangun,” kata Liona sambil memeluk Ali.“Memangnya aku tidur berapa lama? Apa yang terjadi denganku?” tanya Ali penuh kebingungan.“Ali, kamu habis koma. Sudah beberapa hari ini kamu tidak sadarkan diri. Maafin aku, gara-gara aku nyawa kamu terancam. Aku takut sekali, Ali…” tangis Liona sambil mempererat pelukannya pada tubuh Ali yang mas
Di pagi harinya, di sebuah taman anak-anak terlihat Roni sedang menemani anaknya Arga dan cucunya Eren. kedua anak yang baru tumbuh itu begitu ceria bermain dengan Roni. Bukan hanya mereka saja di sana, tetapi banyak juga anak-anak lainnya yang ditemani oleh orang tua mereka. Ya, hari-hari Roni terus dihabiskan bersama anak dan cucunya. Awalnya tadi dia juga mengajak Alia, sayangnya Alia susah sekali pisah dengan mamanya sehingga tak bisa ikut dibawa oleh Roni.Sementara itu di rumah, Mbak Maya yang sedang menonton televisi ditemani oleh Lola langsung menanyakan soal Bara yang beberapa hari ini tidak pernah ia lihat.“Suamimu gimana? Baik kan? Apa dia terlalu sibuk akhir-akhir ini hingga tak pernah ikut denganmu pulang?” tanya Mbak Maya kepada menantunya.“Ah… iya, Ma. Bara memang sangat sibuk akhir-akhir ini. Urusan di Surabaya juga membuatnya sangat sibuk, saat ini bara sedang di surabaya mengurus bisnis disana” jawab Lola berbohong, tidak memberitahu bahwa suaminya sekarang sedang
Tidak lama kemudian Bara dan Liona pun tiba di rumahnya Riki. Tak disangka, ternyata rumah Riki begitu besar sesuai dengan perkataan Tuan Folio kalau Riki adalah putra seorang pengusaha sukses.“Inilah rumahnya, Kak. Tunggu sebentar ya,” kata Liona lalu turun dari mobil untuk menghampiri dua orang penjaga yang berjaga di depan gerbang rumah itu.“Maaf, apa Riki ada?” tanya Liona kepada kedua penjaga itu.“Oh iya nona, ada di dalam. Apa perlu saya panggilkan?” jawab penjaga itu dengan ramah, sebab setahu dia Liona adalah pacarnya Riki yang sering datang berkunjung ke sini waktu itu.“Kalau bisa gerbangnya dibuka biar saya bisa masuk,” ucap Liona. Penjaga itu pun mengangguk dan langsung membukakan gerbang agar mobil Bara bisa masuk.Liona kembali ke dalam mobil dan meminta Bara untuk masuk. Bara pun mengarahkan mobilnya masuk ke halaman rumah. Setelah itu mereka berdua turun dari mobil.Dengan sopan Liona mengetuk pintu rumah hingga salah satu pelayan membuka pintu.“Bisa bertemu dengan
Tidak lama setelah Ali tergeletak tidak sadarkan diri di jalan yang sepi itu, sebuah mobil putih melewati jalan tersebut. Untungnya, si pengemudi menyadari keberadaan Ali di sana. Ia melihat motor Ali di samping jalan dengan Ali yang tergeletak tak sadarkan diri di atas aspal. Segera orang itu turun dari mobilnya dan mengecek keadaan Ali.Dia terkejut melihat adanya bekas tembakan di bagian tubuh Ali. Dengan panik, orang itu langsung menelpon ambulans.Sementara di tempat lain, terlihat Bara sedang sibuk dengan dokumen-dokumennya di kantor yang sebentar lagi akan selesai ia tanda tangani. Tiba-tiba suara ponselnya berdering, membuatnya menoleh dan melihat nama Ali di layar ponselnya.“Ali? Tumben sekali,” kata Bara lalu mengangkat panggilan itu.“Iya Ali, ada apa? Tumben menelpon abang seginiannya?” tanya Bara, mengira Ali yang menelpon.Orang yang menemukan Ali tadi tidak tahu harus menghubungi keluarga Ali dengan cara apa karena ia tidak mengenalnya. Orang itu mencari ponsel Ali dan
Keesokan harinya, terlihat di suatu restoran Roni sedang melakukan pertemuan dengan salah satu klain bisnisnya yang berasal dari luar kota. Iya beginilah kesibukan Roni di tiap harinya melakukan pertemuan dengan klain untuk membicarakan rencana-rencana bisnis.Dan di saat Roni sedang fokus-fokusnya menjelaskan rencananya kepada klainnya itu, tiba-tiba ponselnya berdering. Dia langsung menghentikan pembicaraan yang dia bicarakan untuk menerima panggilan telepon, karena yang menelpon adalah Miya istrinya. Dan sesibuk apa pun Roni jika yang menelpon atau mengganggunya adalah salah satu istrinya, Roni langsung menanggapi mereka dan menunda kesibukannya.“Sebentar ya, saya mau menerima panggilan telpon,” ujar Roni, dan klain bisnisnya itu hanya bisa mengangguk walaupun sedikit terlihat di raut wajahnya kalau dia tidak menyukai adanya hal lain yang mengganggu saat membicarakan hal penting seperti saat ini.“Halo sayang, iya ada apa?” tanya Roni ke Miya yang menelponnya.“Begini Roni, kamu p
Di saat jam pulang terlihat Liona menunggu jemputan Ali. Tidak jauh dari tempat Liona menunggu, Riki di sana berdiri memantau. Sepertinya dia ingin tahu siapa suami Liona. Ya, dia dengar Liona diantar tadi pagi oleh suaminya. Pastinya dia akan dijemput juga, jadi Riki ikut menunggu ingin melihat seperti apa suami Liona.Sampai sekitar lima menitan menunggu, Ali akhirnya datang dengan mengendarai motor yang tadi pagi. Ali tiba di depan gerbang kampus, di sana Ali sudah melihat Liona yang sedang menunggu.Dengan wajah tersenyum, Liona bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Ali.“Maaf aku sedikit terlambat, tadi Elina rewel. Untung ada mama yang bantu nenangin dia,” kata Ali menjelaskan kenapa dia sedikit terlambat.“Gak apa-apa kok, aku juga gak lama nunggunya,” ujar Liona sambil menerima helm yang diberikan oleh Ali.Tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Ali dan Liona, Riki mendekat lalu menarik jaket yang dikenakan oleh Ali dengan cukup keras, membuat Ali tertarik dan motor yang
Tiba-tiba Ali meneteskan air mata di saat Liona sedang menatap wajahnya, sepertinya Ali sedang memimpikan sesuatu yang begitu menyedihkannya hingga membuatnya sampai meneteskan air mata. Liona yang sedari tadi menatapnya pun terkejut, ia menjulurkan tangannya hendak mengusap air mata itu. Dan, “Sa
"Bang akhrinya kau datang juga,"Sapa bayu ketika melihat roni datang juga dari tadi dia menunggunya."Ada apa bayu, sepertinya ada hal penting?" Tanya roni.Ini saya mau mengajak abang pergi ke warung kopi, anggap saja sebagai tanda terimakasih tadi malam membantu memperbaiki atap saya, saya gak mu
Keesokan Pagi Roni bangun dari tidur lelapnya yang panjang, dia langsung pergi mandi. Setelah selesai, ia bersiap untuk pergi ke kampus barunya, tempat ia diterima melalui program beasiswa. tepat Saat mengambil air minum di meja makan, ia mendapati sarapan yang sudah disiapkan oleh Maya. Sambil t
"Hei, apa yang kamu lakukan di sini? Jangan-jangan kamu mau mencuri?" seru seorang wanita mengagetkan roni. Roni langsung menjelaskan. "Bukan, Mbak. Saya hanya berusaha menghindari preman yang mengejar saya. Kalau tidak percaya, saya akan pergi sekarang." Wanita itu mengamati Roni yang tampak k







