로그인Suasana restoran rooftop bintang lima di bilangan pusat kota Jakarta malam itu tampak begitu romantis. Kelap-kelip lampu gedung pencakar langit berpadu dengan alunan musik akustik yang lembut, menciptakan atmosfer yang sempurna. Di sudut meja dekat kaca besar, Ucup duduk dengan kemeja rapi terbaiknya. Di hadapannya, Andien tersenyum manis mengenakan dress pastel yang mempercantik penampilannya malam itu.Setelah badai emosional di rumah sakit beberapa waktu lalu, Ucup ingin mendedikasikan malam ini sepenuhnya untuk wanita yang telah menemaninya di masa-masa paling sulit."Makanannya enak, Bang?" tanya Andien lembut sambil memotong steak di piringnya.Ucup mengangguk, meski sebenarnya pikirannya tidak sepenuhnya berada di atas piring makanannya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena lapar, melainkan karena sebuah kotak beludru kecil berisi cincin berlian yang sudah sejak tadi bersemayam di dalam saku jasnya.Ucup menarik napas dalam-dalam, bersiap merangkai kata-kata terbaiknya. Ia
Tak lama kemudian, seorang perawat keluar dan mengizinkan perwakilan keluarga untuk masuk melihat kondisi Hana. Arief berniat melangkah maju, namun ia sadar diri. Ia menoleh ke arah Ucup dan Andien. "Kalian... masuklah dulu mendampingi Hana. Aku akan menunggu di sini sampai ia siap melihatku." Andien menatap Arief sejenak, lalu mengangguk penuh pengertian. Bersama Ucup, Andien masuk ke dalam ruangan untuk menemui Hana yang sedang beristirahat setelah perjuangan taruhan nyawanya. Di dalam ruangan bernuansa putih itu, Hana tampak terbaring lemah dengan wajah pucat, namun senyuman tipis menghiasi bibirnya saat ia mendekap erat bayi mungil yang kini tidur tenang di pelukannya. Andien langsung menghambur memeluk Hana dengan hati-hati, menangis haru sementara Ucup berdiri di sampingnya dengan mata berkaca-kaca. "Kamu hebat, Na... kamu hebat sekali," bisik Andien di telinga Hana. Hana tersenyum lemah, lalu menatap pintu kamar inap yang tertutup rapat dari kejauhan. Ada satu nama yang be
Suasana di depan ruang bersalin terasa begitu mencekam. Arief masih terduduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk dalam, merapal doa tiada henti, sementara Ucup berdiri mondar-mandir gelisah di sampingnya. Tiba-tiba, pintu ruang bersalin terbuka dari dalam. Seorang perawat keluar dengan tergesa-gesa membawa sebuah nampan peralatan medis tambahan. Andien yang berdiri paling dekat langsung melangkah maju untuk bertanya. "Suster, bagaimana keadaan di dalam? Apa semuanya baik-baik saja?" Sebelum perawat itu sempat menjawab, seorang pria berjas putih dokter dengan stetoskop melingkar di lehernya menyusul keluar dari balik pintu. Wajahnya tampak serius, bersiap memberikan instruksi darurat kepada keluarga pasien. Namun, begitu mata dokter muda itu menatap ke arah Andien, langkahnya langsung terhenti. "Andien...?" panggil dokter itu dengan nada tak percaya. Andien yang tadinya cemas mendadak terpaku. Ia mengerjap, menatap lekat-lekat wajah pria di hadapannya yang kini membuka masker
Hari-hari berikutnya di rumah kediaman itu diselimuti suasana yang jauh lebih hangat dan hidup. Kabar pertunangan Ucup dan Andien membawa angin segar, membuat senyuman lebih sering terukir di wajah Hana. Namun, di balik kebahagiaan pasangan itu, Hana tetap pada pendiriannya—menjaga jarak aman dengan Arief, meskipun sang mantan suami terus menunjukkan konsistensi yang luar biasa. Sore itu, Hana sedang duduk di ruang keluarga sambil membaca sebuah buku kehamilan. Di atas meja di depannya, sebuah bingkisan kecil berisi vitamin khusus dan salinan hasil USG terbaru tergeletak rapi—dikirimkan oleh Arief melalui kurir pagi tadi tanpa ada secarik kata pun yang memaksa Hana untuk membalas. Andien yang baru saja keluar dari dapur membawa dua cangkir teh mendudukkan diri di sofa sebelah Hana. "Rencana pernikahan kami mungkin tidak akan besar-besaran, Na," ucap Andien memulai obrolan, tersenyum kecil sambil menyeruput tehnya. "Yang penting sah dan Ucup sudah mantap melangkah." Hana ikut terse
Mendengar kata "meninggalkanmu", napas Ucup seakan tercekat. Malam itu berakhir tanpa jawaban pasti. Ucup terlalu terguncang oleh ancaman kehilangan Andien, sementara Andien memilih masuk ke kamar dengan raut kecewa yang teramat sangat.Keesokan harinya, Ucup yang diselimuti kebingungan dan rasa takut akhirnya menemui Arief di sebuah area taman kantor Arief. Ucup duduk menyandarkan punggungnya di bangku taman, memandangi dedaunan gugur dengan mata sembap."Dia minta kepastian, Rif..." desah Ucup pelan, suaranya sarat akan beban berat. "Dia bilang kalau aku tidak ada niat menatap pernikahan, dia bakal pergi."Arief yang sedang menggenggam cangkir kopi panasnya menoleh. Ia menatap sahabatnya yang selama ini selalu menjadi benteng penengah bagi hidupnya."Lalu kenapa kau tidak langsung melamarnya, Cup?" tanya Arief datar. "Kau mencintainya, kan?""Kau tahu sendiri traumaku, Rif," Ucup mengusap wajahnya kasar. "Dulu saat kondisi finansialku hancur, keluargaku berantakan. Aku punya anak da
Setelah Arief pamit dan melangkah pergi menembus senja, suasana teras belakang kembali hening. Kantong kertas berisi buah mangga muda dan sup herbal itu masih tergeletak rapi di atas meja.Andien mengambil kantong tersebut, lalu membawanya mendekat ke arah Hana. Ia meletakkannya dengan pelan, kemudian mendudukkan diri di samping sahabatnya.Hana memperhatikan bungkusan itu sejenak sebelum mengalihkan pandangannya pada Andien. Di dalam rumah, terdengar samar-samar suara Ucup yang sedang membereskan sisa kardus di area dapur."Andien..." panggil Hana pelan, memecah keheningan di antara mereka.Andien menoleh. "Iya, Na?""Kapan kamu akan menikah dengan Ucup?" tanya Hana lurus. "Kulihat... Ucup sangat mencintaimu."Pertanyaan itu membuat Andien terdiam seketika. Jemarinya yang saling bertaut di atas pangkuan tampak meremas pelan. Ada binar kebingungan sekaligus keraguan yang terpancar dari matanya."Aku juga tidak tahu, Hana," desah Andien pelan, menundukkan kepala. "Bang Ucup itu... dia
Udara di lobi hotel bintang lima itu terasa dingin, namun keringat dingin yang mengucur di pelipis Ucup jauh lebih dingin dari embusan AC central. Di hadapannya, Arif, sahabat karibnya sejak zaman bermain kelereng, menyodorkan sebuah benda kecil pipih yang diletakkan di telapak tangan. "Arif, a
"Kau gila, Rif. Benar-benar gila," desis Ucup setelah nafasnya kembali teratur. "Malam pertama itu sakral. Dan kau memintaku... menggantikanmu? Meniduri istrimu?"Arif menyandarkan punggungnya ke kursi kulit, matanya menatap tajam ke arah Ucup. "Sakral kalau dasarnya cinta, Cup. Tapi ini? Ini jebak
Hening menyergap kamar 918 setelah pengakuan jujur Ucup meluncur deras. Ketegangan yang tadinya dipicu oleh gairah, kini berganti menjadi ketegangan kalkulatif. Hana duduk di tepi ranjang, menyilangkan kakinya yang jenjang, sementara Ucup berdiri mematung di ujung tempat tidur, merasa seperti ter
Di bawah remang lampu kamar 918, napas keduanya memburu dalam irama yang tidak beraturan. Jarak di antara mereka telah terkikis habis, menyisakan ketegangan yang lebih panas daripada suhu pendingin ruangan yang dipasang di angka terendah. "Bagaimana? Mau mulai...?" bisik Hana. Suara itu begitu







