Beranda / Romansa / Ah! Sentuh Aku Lagi, Om / Siapa Aldean Devantara?

Share

Siapa Aldean Devantara?

Penulis: Wisha Berliani
last update Tanggal publikasi: 2025-11-11 16:31:32

Suara itu… rendah, tegas, dan begitu familiar.

Celine menegakkan kepala, napasnya tercekat.

Matanya langsung bertemu dengan sepasang mata gelap di depannya.

Dan seketika, dunia seolah berhenti.

Jantungnya berdetak cepat bukan karena hampir jatuh, tapi karena orang yang menolongnya adalah Aldean.

“O-Om Dean…” gumamnya lirih, hanya cukup untuk didengar oleh mereka berdua.

Ia hendak mundur, tapi genggaman Aldean di pinggangnya belum sepenuhnya lepas.

Pria itu baru melepaskan perlahan setelah memastikan Celine benar-benar berdiri tegak dan aman.

“Kamu kok bisa di sini, Cel?” suara Aldean terdengar lagi, tenang dan dalam, tapi tetap berwibawa. “Ada perlu apa?”

“A-Aku mau wawancara magang,” jawab Celine cepat, berusaha menstabilkan suaranya meski jantungnya masih berdebar kencang.

Aldean menatapnya lama. Pandangannya seolah menelusuri wajah Celine, penuh kehati-hatian. Campuran antara terkejut dan sesuatu yang tidak ingin ia tunjukkan.

Namun sebelum ia sempat bicara lagi, langkah sepatu terdengar mendekat dengan cepat.

“Ah, Tuan Aldean!”

Suara Surya memecah keheningan. Ia bergegas menghampiri dengan senyum rapi yang terlalu dipaksakan. “Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung. Hari ini kita ada rapat bersama. Semoga semuanya berjalan lancar.”

Aldean tak langsung menanggapi. Tatapannya bergeser sejenak ke jam di pergelangan tangannya, jarumnya menunjukkan pukul sebelas lewat dua puluh lima menit.

Masih ada waktu.

Ia menatap singkat pada asistennya yang berdiri tak jauh. “Evan.”

“Ya, Tuan?”

Evan segera mendekat, siaga.

“Tolong tangani Tuan Surya untuk sementara. Aku ada urusan lain,” ucap Aldean datar. Suaranya tenang, tapi punya bobot yang tak bisa dibantah.

“Baik, Tuan.” Evan mengangguk cepat.

Surya sempat membuka mulut, namun belum sempat berbicara lebih jauh, Aldean sudah berbalik.

Tangannya terulur menyambar tangan Celine dengan gerakan lembut namun tegas.

Celine terkejut. “Eh—Om Dean, kita mau ke mana?!”

“Udah, ikut aja.” Nada suara Aldean tetap rendah, tapi tegas. Tak memberi ruang untuk membantah.

Celine berusaha mengikuti langkah panjang pria itu menuju lift di ujung lorong. Jantungnya berdebar, wajahnya memanas, apalagi genggaman tangan Aldean terasa hangat dan mantap, menariknya tanpa memberi kesempatan untuk berpikir.

Suasana di lobi mendadak sunyi.

Semua karyawan menatap pemandangan itu dalam diam—seorang gadis muda baru saja digandeng langsung oleh Aldean Devantara.

Surya terpaku. Senyum ramah yang tadi dibuat-buat perlahan menguap, berganti raut tak percaya.

Sementara Shasa menatap tajam, matanya berkilat dingin. Jari-jarinya mengepal, kuku hampir menembus kulit telapak tangannya.

‘Celine...’ batinnya murka. ‘Kamu pikir kamu siapa? Berani-beraninya tampil kayak gitu di depan semua orang—apalagi di depan Tuan Aldean. Tunggu aja. Aku pastiin kamu bakal nyesel.’

Lift VIP menutup perlahan, menelan siluet mereka berdua di balik pintu logam yang berkilat.

Dan bersamaan dengan itu, udara di ruangan terasa jauh lebih dingin.

.

.

Di dalam lift, suasana terasa sunyi. Hanya ada suara lembut mesin yang naik perlahan di antara mereka.

Celine masih mencoba mengatur napasnya. “Om… tadi kenapa tiba-tiba—”

Aldean menatapnya sekilas. Tatapannya dalam dan tenang, tapi cukup untuk membuat Celine menelan ludah.

“Kamu sadar sekarang jam berapa?” suaranya rendah, nyaris seperti teguran.

“E-eh, sebelas dua puluh delapan…” jawab Celine pelan, melirik jam di pergelangan tangannya.

Aldean mengangguk kecil, sudut bibirnya terangkat samar. “Dan wawancaramu dimulai jam berapa?”

“Sebelas tiga puluh…” bisik Celine makin lirih.

“Nah.”

Nada Aldean tegas, tapi tidak meninggi. “Lain kali jangan buang waktu untuk hal yang nggak penting.”

Celine menunduk, pipinya memanas. “Aku nggak bermaksud—”

“Aku tahu.”

Aldean memotong tenang, lalu kembali menatap ke depan. “Kalau mau sukses di dunia kerja, biasakan datang lima belas menit lebih awal. Jangan datang mepet waktu begini. Ingat, Cel... dunia profesional nggak menunggu siapa pun.”

Kata-kata itu membuat Celine diam. Tapi entah kenapa, alih-alih merasa ditegur, ada sesuatu di dadanya yang justru terasa hangat. Ada nada perhatian di balik ketegasan itu—dan justru itu yang membuat jantungnya berdebar tak karuan.

“Ya ampun, Om Dean galak banget…” gumamnya pelan, mencoba mencairkan suasana.

Aldean tak menjawab. Tapi dari raut wajahnya yang nyaris tak berubah, jelas ia sedang menahan senyum kecil.

Ting!

Suara lift terdengar. Pintu terbuka perlahan.

Aldean melangkah lebih dulu, langkahnya mantap dan berwibawa. “Fokus di wawancaramu. Jangan pikirin yang lain,” ucapnya, datar tapi terdengar protektif.

Celine mengangguk cepat. “Baik, Om.”

“Jangan cuma bilang baik. Buktiin.”

Celine spontan berhenti. “Emangnya Om Dean siapa? Sok nyuruh-nyuruh gitu,” protesnya setengah kesal, setengah gugup.

Aldean menoleh sekilas. Tatapannya sulit diterjemahkan—tenang, dalam, dan penuh kendali. Tapi bukannya menjawab, ia hanya menatap Celine beberapa detik… lalu tersenyum tipis tanpa sepatah kata.

Ia berbalik, melangkah santai ke arah ruang wawancara.

Celine mengerutkan dahi, masih belum paham, tapi akhirnya ikut berjalan di belakangnya.

Begitu mereka tiba di depan ruangan itu, semua orang yang ada di sana—para staf, HR, dan asisten—serempak berdiri.

“Selamat siang, Tuan Aldean,” sapa mereka hampir bersamaan sambil menunduk sopan.

Celine membeku di tempat.

Matanya membulat, menatap pria di depannya yang kini menoleh perlahan dan menatap balik dengan pandangan tenang namun berwibawa.

Jantungnya serasa berhenti berdetak. Bibirnya bergetar pelan saat gumaman kecil lolos tanpa sadar.

“Loh… kok mereka semua hormat banget? Apa jangan-jangan… Om Dean—”

*****

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 257

    Melihat Amira yang histeris dengan wajah sok nelangsa dari atas kursi roda, Kayra melangkah perlahan mendekati ibu kandungnya. Celine dan Aldean tidak menahannya justru mereka memberikan kepercayaan penuh pada Kayra.​Begitu Kayra berdiri tepat di hadapannya, Amira cepat-cepat meraih tangan kiri Kayra dengan jemarinya yang terborgol. Wajahnya yang kusam sengaja dipasang selayaknya seorang ibu yang teramat menderita.​Namun, saat pandangan Amira jatuh pada lengan kanan Kayra yang tergantung lemas dan terbungkus rapat di balik arm sling, matanya seketika membelalak.“Ya Tuhan... Kay! Tanganmu... kenapa tanganmu bisa seperti ini, Nak?!” tanya Amira dengan nada suara yang sengaja dibikin bergetar panik, memegang arm sling itu dengan wajah sok terkejut.​Kayra menarik pelan tangan kirinya dari genggaman Amira. Wajahnya tetap tenang, tanpa ada sedikit pun raut kesedihan atau kerapuhan di sana.​“Cuma luka kecil pas kecelakaan kemarin,” jawab Kayra santai, begitu ringan seolah bukan masalah

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 256

    Suasana di ruang makan mendadak menjadi hening. Celine memandang Kayra dengan tatapan cemas. Perlahan, tangan kirinya mengusap lembut punggung sahabat yang kini menjadi putri sambungnya itu—menyalurkan kekuatan sekaligus ketenangan yang utuh.​Kayra menundukkan pandangannya, menatap sisa roti di piringnya. Memori tentang Amira—ibu kandung yang tega memanfaatkannya, memutarbalikkan fakta, menghasutnya untuk membenci Celine, hingga menyebabkan tangan kanannya kini lumpuh—berputar keras di benak gadis itu.​“Nak,” panggil Aldean lagi. Suaranya teramat lembut dan penuh pertimbangan, menyiratkan kasih sayang seorang ayah yang tak ingin menyakiti anak semata wayangnya lagi. “Papa nggak akan memaksa. Kalau kamu belum siap, atau kamu nggak mau melihat wanita itu lagi, Papa yang akan urus semuanya. Kamu nggak perlu ikut.”​Kayra mengepalkan tangan kirinya erat-erat di atas pangkuan. Ia menarik napas panjang, meresapi kehangatan ruang makan ini—kehangatan dan rasa aman yang baru ia dapatkan da

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 255

    Di seberang telepon, suara Evan terdengar sangat formal namun terselip nada mendesak. ​“Maaf mengganggu waktu Anda, Tuan. Saya harus melaporkan kalau pukul sepuluh pagi ini adalah sidang pertama untuk kasus Nyonya Amira, Surya, dan Maya.” ​Aldean terdiam sejenak. Sepasang mata elangnya menggelap sempurna, memancarkan aura dingin yang seketika membuat suhu di dalam kamar utama itu terasa anjlok drastis. Tangan kanannya mengepal kuat, sementara otaknya langsung memutar kembali ingatan tentang segala kelakuan bejat ketiga orang itu. ​“Urus semuanya dengan hukum yang maksimal, Evan,” jawab Aldean, suaranya terdengar begitu berat, dingin, dan tidak terbantahkan. “Pastikan pengacara kita tidak memberi mereka celah sedikit pun untuk lolos. Aku mau mereka membusuk di penjara.” ​“Baik, Tuan. Semuanya sudah dikondisikan sesuai perintah Anda,” sahut Evan cepat. Namun, asisten pribadi itu tidak langsung menutup telepon. Ada jeda ragu sejenak sebelum ia kembali bersuara. “Tapi ada satu hal lag

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 254

    Belum sempat Celine menyelesaikan protesnya, Aldean sudah menyambar bibirnya tanpa ampun. Namun, baru beberapa kali lumatan— Dringgg!!! Dringgg!!! Aldean mendadak memembeku. Ciumannya seketika terputus. Di atas nakas, tepat di samping ranjang mereka, ponsel milik Aldean berdering dengan suara yang kelewat nyaring, memecah keintiman di antara mereka yang baru saja terbangun kembali. Layar perangkat itu menyala terang, bergetar dengan begitu lantang seolah sengaja menantang sang pemilik. Aldean masih mengukung tubuh Celine di bawahnya, memejamkan matanya rapat-rapat dengan rahang yang mengeras menahan kekesalan yang teramat luar biasa sampai ke ubun-ubun. Napasnya berembus kasar dan berat tepat di wajah sang istri. Melihat ekspresi suaminya yang mendadak drop dan menahan dongkol setengah mati karena diganggu di momen krusial, Celine yang tadinya panik seketika menahan tawa. Perempuan itu menggigit bibir bawahnya agar tidak meledakkan tawa kemenangan di depan wajah sang suami.

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB 253

    Setelah hantaman gelombang nikmat itu, mereka berdua seketika membeku bersama dalam posisi saling mendekap erat, meresapi sisa-sisa denyutan kl!maks yang perlahan menyapu seluruh raga mereka dengan kehangatan yang luar biasa memabukkan. Napas Aldean memburu kasar di ceruk leher Celine, sementara tangan kirinya dengan lembut mengusap helaian rambut istrinya yang basah oleh keringat dan berantakan di atas bantal. Keheningan kamar utama kembali terasa begitu intim, hanya menyisakan suara napas keduanya yang perlahan-lahan mulai kembali teratur. Aldean perlahan menarik keperkasaannya dari milik istrinya dengan hembusan napas lega, membiarkan cairan madu cinta mereka mengalir perlahan membasahi sprei. Pria itu segera meraih tisu di atas nakas dan membersihkan seluruh sisa-sisa permainan panas itu. Setelah semuanya bersih, Aldean berbaring di sebelah Celine dan langsung menarik tubuh lemas istrinya ke dalam pelukan hangat di balik selimut tebal, membiarkan kepala Celine bersandar nyaman di

  • Ah! Sentuh Aku Lagi, Om   BAB. 252

    Celine mencengkeram erat bahu kokoh Aldean saat ciuman suaminya menuntut jauh lebih dalam. Aldean melumat bibir manis istrinya dengan ritme yang teramat dominan, seolah ingin menghapus sisa kepanikan akibat interupsi Kayra tadi, menggantinya dengan gelora gairah yang kembali tersulut pekat. Ketika Aldean akhirnya memberi ruang untuk napas mereka terlepas, Celine terengah dengan mata sayu yang memerah alami. “Mas... jangan sekarang, ih. Nanti kalau Kayra balik lagi gimana... ahh—” Kalimat Celine terputus menjadi desahan halus saat jemari kokoh Aldean merayap turun, menyusuri pinggang ramping istrinya dengan usapan yang menghantarkan sengatan panas. “Dia nggak akan kembali, Sayang. Anak kita sudah menetapkan target untuk bulan depan,” bisik Aldean rendah, suara baritonnya yang serak terdengar begitu seksi di depan telinga Celine. Pria itu merunduk, membiarkan bibirnya menjelajahi rahang tegas Celine, lalu turun menghujani leher jenjang istrinya dengan kecupan-kecupan basah yang m

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status