공유

Aduh, Pelan-Pelan, Bos
Aduh, Pelan-Pelan, Bos
작가: Renita April

Pendonor Asi

작가: Renita April
last update 게시일: 2026-05-29 14:52:24

"Kamu mau aku jadi pendonor asi? Kamu sadar nggak, Mas Teguh? Aku ini istrimu," ucap Karin.

Sama sekali tidak pernah terbayangkan bagi Karin ketika mendengar ucapan suaminya sendiri yang menginginkan dirinya menjadi pendonor asi bagi pria dewasa. Ia adalah istrinya dan menyusui itu sudah termasuk dalam hal yang berbeda.

"Bayarannya mahal. Satu bidang dihargai satu juta dan dua bidang jadi dua juta. Hanya sampai kenyang. Itu hanya perlu waktu satu jam atau satu gelas saja, kan? Kamu nggak perlu menyusui secara langsung. Cukup ditampung saja dalam gelas," ujar Teguh mengajari.

"I-Itu menjijikan, Mas." Nada Karin memohon. Ia tidak setuju apa pun bentuk metode pemberian asi itu.

"Menjijikan mana dari ditagih hutang oleh rentenir, hah?" Emosi Teguh tersulut. "Aku ini capek, Karin. Hutang bapakmu saja masih 100 juta dan bunganya setiap hari selalu berjalan. Siapa yang bayar selama ini? Aku! Belum lagi bayar rumah kontrakan. Kamu juga nggak mikir hutang rumah sakit? Kondisi kamu gara-gara asi itu. Anak kita sudah meninggal, asi itu terus keluar dan menyakiti tubuh kamu sendiri. Pikirkan itu."

Betul yang dikatakan oleh Teguh. Mereka punya hutang, kondisi keuangan rumah tangga yang krisis. Karin juga malu pada Teguh yang selama ini menampung hutang keluarga. Orang tua Karin sendiri telah menyebabkan kesengsaraan bagi rumah tangganya. Membawa lari surat tanah orang yang digadai sebesar 100 juta. Selama ini Teguh hanya mampu membayar bunganya saja. Jika terus-terusan begini, siapa yang tahu nantinya mereka juga bakal hidup menggelandang.

"Pikirkan itu," ucap Teguh lagi.

"Siapa yang harus kuberikan asi?" tanya Karin.

"Dia bos di tempat kerjaku. Dia menderita Lacto Comfort Syndrom. Aku sendiri juga tidak tahu apa artinya. Pokoknya dia ingin asi. Kalau kamu setuju, besok pagi aku bawa kamu menemuinya."

"Aku perlu memikirkannya lagi."

"Apa lagi yang kamu pikirkan, hah? Sebentar lagi penagih akan datang ke rumah kita. Kamu mau rumah ini diacak-acak lagi? Pokoknya malam ini harus ada keputusannya!" Teguh beranjak dari duduknya, ia keluar dengan membanting pintu dan berhasil membuat Karin kaget.

Perasaan Karin terluka karena desakan Teguh. Di satu sisi ia juga mengerti mengapa sampai suaminya melakukan ini padanya karena inilah satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Harta berharga tidak punya, bahkan untuk mengisi perut saja susah. Apa yang diharapkan dari gaji seorang kuli bangunan. Tidak seberapa dengan resiko besar. Ditambah masalah hutang sepertinya sudah pasti membuat kepala Teguh berdenyut. Sungguh Karin ingin membantu, tetapi ia tidak berpendidikan tinggi. Sebelum menikah, ia hanya bekerja sebagai penjaga toko kelontong.

Lama Karin memikirkam tawaran Teguh sembari melihat keadaan rumah dan dirinya sendiri. Buah kembarnya membengkak hingga menyebabkan Karin kesakitan. Ia mengambil gelas, lalu memerasnya sedikit demi sedikit untuk meredakan sakit.

Ini tidak bertahan lama karena nantinya akan kembali terisi penuh dan Karin harus memerasnya lagi.

Satu gelas terisi penuh. Lalu Karin memeras bagian satunya lagi. Sangat disayangkan bila harus dibuang begitu saja. Tapi siapa yang mau minum asi sebanyak itu?

"Sudah kamu pikirkan soal tadi?" Teguh muncul. Ditangannya terdapat dua bungkus mie instan. Hanya itu saja yang bisa dijadikan makan malam hari ini. Ia melihat dua gelas susu yang baru saja diperah. "Sangat sayang bila dibuang. Lebih baik di jual dan kita dapat uang untuk bayar hutang. Pikirkan itu, Karin."

Karin mengangguk. "Baiklah, aku setuju."

"Kamu serius?" Teguh mendekatinya. Ia tatap wajah istri tercintanya ini. "Aku dengar Bos Dewa sangat kaya. Dia mau ibu pendonor yang bersih dan di sana nanti kamu bakal dirawat."

"Apa aku tinggal di sana?" tanya Karin.

"Tidak. Kamu cukup datang di pagi dan malam hari saja. Siang harinya beliau bekerja. Bos Dewa bilang soal makanan tidak perlu khawatir. Dia mau asi berkualitas dan artinya dia mau merawatmu juga."

"Apa benar seperti itu? Aku boleh makan apa saja?"

Teguh mengangguk, ia peluk istrinya. "Besok pagi, kita ke rumah beliau."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Bala Lamarongan
lanjutkan dan pasti ini seru ceritanya
goodnovel comment avatar
Ule Lucci
cerita yg menarik
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 322

    Hari pertama sudah membuat kepala Karin pening. Ia jadi kagum pada pengusaha sukses yang sehari-hari menghadapi banyak kepala dengan isi pikiran dan hati yang berbeda-beda. Mulai sekarang hal-hal seperti tadi akan menjadi rutinitas Karin. Jika disuruh memilih, tentu saja Karin hanya ingin menjadi seorang wanita yang pekerjaannya hanya rebahan. Ia terkikik geli, padahal dulu bermimpi menjadi wanita karier. Sekarang sudah terwujud malah ingin rebahan lagi. “Nona lagi senang?” tanya Alexa. “Aku teringat masa lalu. Oh, ya, bagaimana penampilanku tadi?” “Sangat hebat.” “Di mana Paman Josh? Kenapa belum juga datang? Dia ingin menantangku, ya?” “Saya akan memeriksanya.” Alexa mengecek ponsel, lalu menghubungi suruhannya yang mengawasi Josh. “Suruh naik ke atas saja.” Sambungan itu diputus. “Nona, Paman Anda sedang menuju ke sini.” “Sudah berapa lama kamu bekerja di keluarga Evernight?” “Saya seorang yatim piatu. Tuan Alaric yang membawa saya ke keluarga Evernight dan melatih saya ban

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 321

    Untuk pertama kalinya kepala keluarga sekaligus pemimpin perusahaan menunjukan diri. Selama ini, kepala keluarga Evernight selalu mengendalikan semuanya dari balik layar. Itu dikarenakan kepala keluarga adalah perempuan, dan mereka selalu ditargetkan. Sekarang jelas berbeda karena keluarga Evernight telah memutuskan untuk menampilkan dirinya.Sudah seperti yang diduga jika jajaran direksi memandang ketua baru sebelah mata. Terlebih lagi Karin belum memiliki suami. Tidak ada pria yang mengajarkan dirinya. Dahulu, kepala klan selalu didampingi oleh suaminya karena dia lah yang menjalankan perusahaan, sedangkan ketua hanya memutuskan setuju atau tidak.Dalam beberapa tahun lalu, perusahaan mengalami kemunduran karena banyak dari suami ketua klan menyelewengkan dana. Pengkhianat makin berjamur di tubuh keluarga Evernight. Setelah ditangani oleh Alaric, kondisi keluarga Evernight maupun perusahaannya, meningkat. Justru karena itulah musuh mengincar putrinya sehingga Alaric harus kehilanga

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 320

    Ucapan Damian membuat Dewa kepikiran. Sudah lama ia tidak mendengar nama Karin untuk dibahas. Ia telah menghentikan pencarian ketika wanita itu tidak mau memberi kabar. Bukan Dewa tidak berusaha, ia terus melacak keberadaan Karin, bahkan perusahaan Evernight. Namun, mendapat informasi saja sudah seperti mencari jarum ditumpukan jemari. Orang-orang biasa tidak banyak yang tahu. Itu karena pemimpin asli tidak senang menampakkan diri. Frustasi? Ya, Dewa hampir saja hancur karena tidak menemukan kekasihnya. Sekarang haruskah ia kembali berharap? Ia memandang jas serta cincin pertunangan di atas meja. Dalam minggu ini, ia akan bertunangan dengan Olivia Hart. Dua keluarga telah setuju dengan penyatuan ini. Dewa juga mendapat keuntungan karena ia butuh koneksi dari keluarga Hart. Teluk York itu perlu ia kuasai. Rencananya Dewa akan membuat resort, restoran serta pabrik makanan beku. Ia telah mengincarnya selama tiga tahun ini, tetapi belum juga dapat. Ada yang bilang teluk York itu dikuasa

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 319

    Malam ini, Damian tidak bisa menikmati pesta. Ia juga menolak wanita-wanita itu mendekat, dan memilih pergi, meski beberapa teman menyebutnya tidak asik. Damian tidak peduli soal itu. Yang terpenting adalah apakah wanita itu benar-benar Karin atau bukan. Ia tidak mungkin salah lagi. Tiga tahun ini mana mungkin ia bisa lupa.Damian mengirim pesan kepada Dewa dan Leonard. Mengajak keduanya bertemu di tempat biasa. Mereka punya club privat yang digunakan untuk membicarakan soal bisnis atau sekadar nongkrong saja. Hubungan ketiganya semakin akrab.“Tuan Damian, saya di sini.” Tom telah hadir, ia dipanggil malam-malam begini. Entah apa lagi yang dibuat oleh atasannya ini. Semenjak Karin tidak ada, Damian memang menjadi pria liar. Selalu saja ada masalah yang melibatkan dirinya. Entah itu wanita atau bertengkar dengan seorang teman.“Cek cctv di club ini. Temukan Karin,” pinta Damian.“No-Nona Karin?” Tom tidak percaya bahwa ia masih bisa mendengar nama tersebut.“Apa kurang jelas? Aku baru

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 318

    “Aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Tuan Dewa. Aku sungguh tidak berani.” Wanita ini terintimidasi oleh ketiga orang wanita di depannya. “Oh, ya? Kamu pasti mendengar kabar pertunangan mengenai Nona Olivia Hart dan Tuan Dewa, tapi kamu masih saja mendekat. Dasar jalang. Hajar dia! Rusak wajahnya biar dia tidak berani muncul di depan Tuan Dewa.” “Kenapa kalian melakukan ini semua, hah? Aku sungguh tidak tahu soal pertunangan itu. Tuan Dewa hanya mengajakku makan malam, bukan berarti aku ini kekasihnya.” “Dia memberimu hadiah, dan kamu memamerkannya melalui media sosial. Itu namanya cari penyakit.” “Aku minta maaf, kumohon lepaskan aku.” Wanita ini menangkupkan kedua tangan memohon agar dilepaskan. “Kami juga tidak mau melakukan ini, tetapi Nona Olivia sangat marah.” Ketiga wanita itu tersenyum penuh arti, dan membuat korbannya semakin takut. “Tunggu apa lagi? Cepat rusak wajahnya.” Salah satu dari mereka memerintah kedua temannya. Salah satu pintu toilet terbuka, membuat s

  • Aduh, Pelan-Pelan, Bos   Bab 317

    Dulunya Karin tidak berani datang ke club, meski dibawa oleh kekasihnya. Karena menurutnya tempat ini tidaklah baik. Ya, setengah benar dan setengahnya lagi tidak. Club atas rata-rata dikunjungi oleh orang-orang kaya yang dipakai untuk melepas penat, bisnis, dan banyak hal lainnya juga. Sebab itulah, Karin datang ke club ini demi hubungan sosial. Sebagai ketua klan yang baru, ia harus banyak menjalin hubungan dengan orang-orang tertentu melalui jaringan yang namanya koneksi.“Saya sudah memesan ruangan khusus, Nona,” ucap Alexa.“Aku ingin di sini dulu.” Karin memilih untuk duduk di meja yang paling sudut. Ia melihat pengunjung bergoyang di lantai dansa. “Pesankan aku minuman.”Alexa mengangguk, lalu memanggil pelayan. Ia memesan minuman untuk Karin dan untuknya juga. Bekerja bersama Karin tidaklah terlalu harus menurut pada aturan. Karin memperlakukan bawahannya seperti seorang teman. Alexa boleh duduk di sampingnya.“Saya pesankan minuman yang sedikit mengandung alkohol.”“Apa aku h

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status