เข้าสู่ระบบ"Butuh bantuan nggak? Hmm!" Arga yang memajukan tubuhnya dan memepet Mira yang bersandar pada tembok, berbisik pelan di telinganya. Degh! Bisikan pelan Arga, sukses membuat jantung Mira berdetak secara brutal. Wajahnya yang merah menjadi semakin merah. Bahkan tarikan napasnya terasa begitu berat. "Ga, jangan mainin aku," balas Mira seraya memejamkan mata. Ia menikmati embusan napas Arga yang terasa begitu hangat menyapu kulit leher dan daun telinganya. Sebelah tangannya yang berada di balik celana dalam cream berenda yang dipakainya perlahan melemas. Ia menarik pelan jarinya keluar dari liang sempitnya yang basah dan becek, lalu menyentuh pinggang Arga dan meremasnya agak kuat. Sementara itu, tangan Arga juga bergerak, menyentuh dan memegang pinggul Mira yang jauh lebih besar dari milik istrinya yang ramping. Lalu, ia mengangkat dress wanita itu agak tinggi hingga naik ke perut. Dan, perlahan menyentuh bagian atas vaginanya. "Pakai dua jari mana bikin puas dan sesek, Mbak. Tiga
"Akhh... Argantara! Please, jangan hajar di sana, aku nggak kuat!"Jerit kenikmatan yang keluar dari mulut Wulan membuat kedua lutut Mira melemas. Ia yang berdiri di balik pintu menyandarkan punggungnya pada tembok.Deru napas wanita itu memburu, membuat payudaranya yang besar brutal ikut naik turun.Mira menggigit ujung bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya memerah seperti udang rebus, sedangkan tangannya mencengkeram dan meremas bagian bawah perutnya dengan kencang."Aduh, ngeuh... gila, permainan Arga bisa bikin istrinya teriak lepas kayak gitu," gumam Mira.Merasa tak tahan, wanita itu mengangkat rok yang dipakainya. Ia lalu menelusupkan tangan kirinya ke balik celana dalam berwarna cream berendanya.Vaginanya kini terasa basah dan lembap hanya dengan mendengar suara desahan Wulan dan juga erangan Arga.Perlahan, Mira yang bersandar pada tembok biru mengusap-usap bagian atas vaginanya. Lalu menjepit klitorisnya sendiri menggunakan dua jari."Ugh, ngeh... terus, Ga. Enak banget rasany
"Jangan dibuka semua dong, Sayang. Nanti kalau Mbak Mira manggil aku, gimana?"Wulan yang duduk lemas dengan punggung bersandar pada tembok, melayangkan aksi protes pada Arga yang menarik lepas dress-nya melalui kepala. Ia takut Mira yang berada di luar memanggilnya.Namun, Arga yang yakin sekali jika Mira tak akan mengganggu permainannya dan Wulan, justru menggelengkan kepalanya. Ia tetap membuka habis kain yang melekat di tubuh sang istri hingga tubuhnya telanjang bulat seperti bayi baru lahir."Ga....""Hust, jangan kebanyakan protes! Atau kamu mau, aku panggil Mbak Mira biar gabung sama kita?!" ancam Arga, sampai-sampai Wulan langsung bungkam dibuatnya.Diancam, Wulan pun membiarkan Arga melakukan apa pun padanya. Ia diam dan bibirnya cemberut bebek.Setelah tubuh Wulan telanjang bulat, Arga pun menarik tubuhnya dan membaringkannya di atas kasur dengan kepala bertumpu pada bantal yang disusun agak tinggi."Rebahan di sini, Sayang!" kata Arga dengan suara tertahan.Wulan mengangguk
"Ngehh... Sa-sa-sayang, ada bos kamu, lho, di luar." Perkataan bernada pelan Wulan yang sengaja ditahan membuat Arga langsung menghentikan permainannya. Pemuda itu lalu menatap wajah memerah istrinya. Keningnya berkerut, alisnya bertautan, dan matanya menyipit. Sedangkan deru napasnya memburu dan dadanya naik turun dengan cepat. "Bosku, Mbak Mira maksud kamu?" tanya Arga. Suaranya yang serak kini bernada pelan. "Eum, iya. Perempuan yang waktu itu datang ke sini, ngasih kamu motor," kata Wulan dengan pelan. Lalu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seraya meremas erat pahanya sendiri. Setelah mendengar perkataan Wulan, Arga kembali memajukan wajahnya dan menggumul tubuh indah istrinya yang amat menggoda. Pemuda itu menciumi wajah dan leher Wulan, bahkan menjilat dan mengecup daun telinganya. "Ugh... udah dong, Ga. Didengar sama Mbak Mira," kata Wulan, meminta Arga menghentikan permainan gilanya. Bibir wanita itu memang menolak, tetapi tubuhnya justru berkhianat. Bahkan, ke
"Yang, di mana? Kok keluar sih? Kan aku udah bilang tadi, aku minta dikelonin!"Kalimat pertanyaan yang hendak dilontarkan oleh Mira seketika terjeda. Wanita itu menoleh dan menatap ke arah pintu kamar yang terbuka lebar, di mana asal suara serak Arga berada.Wulan yang duduk di hadapan Mira seketika menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah lantaran malu pada Mira yang mendengar perkataan Arga."Mbak Wulan....""Iya, Ga. Aku di depan!" sahut Wulan sembari bangkit dari duduknya. "Mbak, saya ke dalam dulu sebentar. Arga kebiasaan nyariin saya kalau bangun tidur!" katanya dengan wajah semakin memerah.Cepat-cepat, Wulan yang merasa malu pada Mira melangkah menuju kamar, menghampiri Arga yang bertingkah seperti bocah.Sepeninggalan Wulan, Mira mengusap pahanya sendiri. Mendengar suara Arga yang serak khas bangun tidur, Mira justru merasa jika suara pemuda itu terdengar begitu menggoda.Namun, panggilan 'Mbak Wulan' yang disebutkan Arga sebelumnya membuat Mira menjadi semakin yakin bahwa wa
Jam menunjukkan pukul sepuluh siang, Arga yang semalaman bekerja di klub, belum bangun dari tidurnya. Pemuda itu tampak begitu lelap di tengah-tengah kasur dengan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada. Kipas angin di kamar tersebut menyala dalam mode full. Sedangkan Wulan baru saja selesai mandi setelah berkutat dengan rutinitas biasanya di pagi hari. Mulai dari beberes, mencuci pakaian, dan juga menyiapkan menu masakan untuk Arga makan saat bangun tidur nanti. Di saat Wulan baru saja selesai mengikat rambutnya, pintu kontrakan tersebut diketuk-ketuk dengan pelan dari luar. Meskipun pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Wulan lantaran kontrakan tersebut begitu hening. Tuk, tuk! "Sebentar!" sahut Wulan sembari beranjak dari duduknya dan meletakkan sisir yang ada di tangannya ke lantai pinggiran kasur. Wanita bertubuh seksi dan berparas cantik itu keluar dari kamar. Ia berjalan menuju pintu dengan langkahnya yang lebar. Selanjutnya, memutar kunci lalu menarik gagang pin






