LOGIN"Menurutku, kamu pasti cocok memerankan tokoh protagonis wanita berkepribadian kuat," ungkap Amayra selagi sibuk mengetik analisanya menggunakan laptop. "Kudengar, belakangan ini dunia cerita dengan protagonis seperti itu sedang sangat populer."Ridhika hanya mengangguk tanpa kata. Dia juga mengetahui semua ini, tentang cerita seperti apa yang sedang tren dan banyak disukai. Saat ini, sedang menjamur sekali drama yang menceritakan tentang seorang wanita yang balas dendam pada pasangannya karena pihak lain itu berselingkuh atau memperlakukannya dengan sangat buruk. Penonton benar-benar menyukainya. Mereka bahkan ingin si protagonis wanita membalas dengan lebih kejam. Fakta yang cukup mengejutkan bagi Ridhika. Sebab, dia tidak menyangka bahwa akan ada saatnya stereotipe protagonis wanita murni dianggap membosankan, bahkan membuat frustasi. Padahal, tipe protagonis seperti ini adalah yang paling pertama tercipta dan sudah bertahan selama berabad-abad."Semua hal ada masanya, ya?" Pikirn
"Bagi protagonis wanita berkepribadian kuat, selama mereka bukan pihak yang memulai tindakan salah, maka perilakunya masih bisa ditelorensi. Membalas dendam, menginjak balik orang lain, semua ini masih diperbolehkan, asalkan sepadan dengan kejahatan yang dialaminya dan tidak lebih," jelas Ibu Binar sambil berkeliling kelas dengan buku teks pelajaran di tangannya. "Sedangkan, bagi protagonis wanita dengan kepribadian lembut, umumnya tindak kebaikan hatinya disarankan tidak berbatas. Kecuali, apabila sifat lembutnya itu hanyalah fasad yang digunakan untuk melindungi diri sendiri, maka batas kebaikannya disamakan dengan protagonis wanita kuat. Yakni, selama tidak melebihi tindak kejahatan yang diterimanya."Ridhika menyimak dengan sangat serius. Matanya hanya tertuju pada Ibu Binar, bahkan tubuhnya nyaris tidak bergerak. Satu-satunya hal yang kadang kala mampu merusak fokusnya hanyalah suara guntur yang saling bersahutan di luar.Pada saat, dia menoleh ke jendela yang sebagian besar men
Pagi itu, ketika Ridhika berjalan di lorong menuju Kelas Kebaikan Hati, semua anehnya tidak seburuk yang dia bayangkan. Padahal, dia sudah bersengaja tidak berjalan bersama Amayra, karena takut gadis itu dikucilkan. Akan tetapi, ternyata para siswa dan siswi tampak tidak begitu peduli. Mereka hanya melewatinya seolah dia tidak ada.Memang masih ada beberapa yang melirik dengan tatapan sinis, tetapi Ridhika tentu tidak mengindahkannya. Selama mereka tidak mengganggunya secara langsung, dia juga bisa berpura-pura seolah mereka adalah makhluk-makhluk tembus pandang.Setibanya di kelas, kursi yang biasa digunakannya tentu sudah diisi siswi lain, yang begitu melihat kedatangannya maka segera saja mulai berbisik-bisik dengan satu sama lain. Hanya tersisa dua kursi kosong, satu di samping Amayra yang tengah menatapnya seraya tersenyum lebar, sementara satunya lagi berada di pojok paling belakang ruangan.Ridhika tanpa diragukan lagi memilik kursi yang berada di belakang itu. Dia menyempatkan
"Wanita itu? Yang kamu lihat samar dalam potongan ingatanmu?" Tanya Amayra memastikan.Ridhika mengangguk. Dia sendiri bingung mengapa bisa merasa demikian. Padahal, seumur hidup, Ibu yang dia tahu adalah ... Ibu yang selalu menunggunya di rumah. Mengapa sepotong ingatan yang bahkan masih kabur saja mampu membuatnya meragukan siapa sosok Ibunya?"Kamu yakin wanita itu bukan tetangga atau sekadar orang lewat yang membantumu saja? Mungkin itulah mengapa kamu merasa dia seperti Ibumu, karena tidak asing."Kali ini, Ridhika menggeleng, "Aku dan Ibu tidak dekat dengan siapa pun di desa. Jangankan membantu, menyapa kami saja mereka enggan.""Kalau begitu, bagaimana kalau kamu coba ceritakan potongan ingatanmu itu padaku? Mungkin aku bisa ikut menilai, kira-kira kenapa kamu merasa wanita itu adalah Ibumu."Dari wajah Amayra, pandangan Ridhika beralih pada pemandangan di luar jendela. Membayangkan betapa miripnya awan mendung hari ini dengan awan yang ada pada hari dalam ingatannya. Yang tida
Beberapa waktu terakhir ini, langit yang menggantung di atas Griya Nayika terlihat lebih kelabu daripada biasanya, tetapi hujan tidak kunjung turun. Seolah awan-awan itu ada hanya untuk melengkapi suasana hati Ridhika yang mendung.Dia menghabiskan tiga hari belakangan dengan mendekam sendirian di dalam kamar. Widuri belum kembali ke akademi, sedangkan Amayra tidak diizinkannya untuk masuk. Untuk sementara, dia betul-betul mencoba menutup diri dari dunia dan menenangkan pikirannya. Sebab, meski tidak ingin mengakui, peristiwa terungkapnya identitasnya waktu itu tetaplah mengguncangnya sedemikian rupa.Ridhika memang sudah memutuskan untuk tidak peduli terhadap pandangan orang-orang. Namun, perlu penyesuaian lagi baginya agar mampu bersikap sesuai keputusan itu. "Ridhika." Suara Amayra terdengar dari balik pintu, disusul oleh beberapa kali ketukan pelan. "Aku membawakan catatan dari kelas-kelas kita beberapa hari ini untukmu."Ridhika menghela napas berat. Membayangkan bertemu dengan
"Siswi atas nama Ridhika Maya tidak memalsukan identitasnya. Pihak Akademi Natydharma sendiri yang mengundangnya untuk menjadi siswi Kelas Protagonis atas keputusan Adhyaksa. Hal ini tentu saja dengan catatan bahwa Adhyaksa sudah mengetahui keseluruhan informasi terkait Ridhika Maya sebagai keturunan antagonis Calon Arang."Suara Ibu Berlian yang sedang mengumumkan informasi terkait identitas Ridhika bergema ke seantero akademi. Semua siswa dan siswi yang telah menonton video identitas Ridhika dikumpulkan untuk berbaris di depan. Dari desas-desus para pengawas yang sibuk memastikan bahwa kabar tersebut tidak bocor ke luar, tampaknya para siswa dan siswi itu akan diberi peringatan."Ridhika, tidak apa," ujar Amayra dengan suara bergetar. "Ibu Berlian bilang, penyebar video itu akan dicari. Para siswa dan siswi yang merundungmu juga akan dihukum. Semua akan kembali baik-baik saja."Air mata Amayra beberapa kali jatuh tanpa bisa ditahan. Namun, orang yang ditangisi justru hanya berbarin
"Hati-hati," ujar pria tersebut. Suaranya rendah dan serak, seperti seseorang yang sudah lama tidak minum. "Maaf." Ridhika mundur beberapa langkah, lalu mengangguk sopan. Intuisinya berkata bahwa dia harus segera menjauh dan memang itulah yang ingin dilakukannya. Namun, keharusan untuk bersikap s
Ridhika diam mematung di depan Akademi Natyadharma yang kubah-kubah runcingnya menjulang seolah siap menembus awan. Napasnya tertahan untuk beberapa saat dan genggamannya pada pegangan koper bertambah erat. Mobil yang mengantarnya sudah lama pergi. Kini, tinggal dia berdiri sendiri di antara perk
"Kamu tidak akan perlu baju-baju ini, kalau sudah tinggal di Akademi, Ridhi." Ridhika tidak menghiraukan perkataan Ibunya tersebut. Alih-alih, tangannya terus bergerak mengemasi baju-bajunya yang didominasi warna hitam dan merah ke dalam sebuah koper berukuran sedang. Sejak pagi, telinganya sudah
"Heh! Minggir!" Bisik seorang pria pada sekelompok wanita yang sedang asyik berbincang-bincang di tengah pasar. "Ih! Kenapa, sih?!" "Iya, ganggu saja! Jalannya kan luas." "Ck! Minggir saja," nada si pria meninggi, dari gerak-geriknya tampak kepanikan yang susah payah disembunyikan. "Keturunan







