เข้าสู่ระบบ"Kamu… apa mau kamu sebenarnya, Des?!" tanya Teja dengan suara bariton yang dalam dan bergetar halus.Pemuda berambut gondrong itu memandangi figur Desy yang masih bersimpuh pasrah di depannya. Sepasang mata keemasan Teja menatap lekat paras ayu yang basah oleh linangan air mata tersebut, mencoba mencari celah kepalsuan di balik kepasrahan total sang gadis.Desy mendongak, menatap lurus ke dalam manik mata Teja tanpa sedikit pun rasa ragu yang tersisa."Tak peduli Mas sudah punya pacar atau belum, tapi tolong perbolehkan aku menghabiskan sisa usiaku untuk berbakti kepadamu, melayanimu maksimal di ranjang dan di luar ranjang, menjadi wanitamu di belakang layar, paling rahasia tanpa perlu orang lain tahu," tutur Desy dengan intonasi suara yang amat halus, namun sarat akan penekanan jiwa yang benar-benar tulus serta jujur.Kalimat yang meluncur jujur dari bibir mungil sang gadis seketika memukul batin Teja. Sebagai pria perkasa yang terbiasa dikelilingi oleh wanita-wanita cantik kelas
"Anu… boleh nggak kalau aku kerjanya sama Mas Teja aja?" tanya Desy malu-malu.Suara halus sang gadis bergetar pelan di tengah keheningan kamar yang sejuk. Desy meremas jemari tangannya di atas paha, menundukkan kepala dengan rona merah yang kian pekat menyapu pipi tirusnya yang seputih salju."Kerja sama aku?" Teja mengernyitkan keningnya, menatap gadis muda itu dengan raut penuh keheranan."Kayaknya kurang cocok deh, Des. Perusahaan yang aku punya itu bergerak di bidang investasi. Ada juga yang di bidang pengamanan," urai Teja memberikan pertimbangan rasional. Binar mata keemasannya memandangi sosok Desy yang masih begitu awam dan belum pernah berkecimpung di tengah hiruk-pikuk dunia korporasi modern."Bukan kayak gitu, Mas," sahut Desy cepat seraya menggelengkan kepalanya pelan."Lalu?""Aku mau mengabdi sama Mas Teja," bisik Desy tulus, mendongak menatap lurus ke dalam manik mata keemasan sang pemuda.Teja terkekeh kecil, mencoba menetralisir suasana yang mendadak berubah menjad
Pintu kamar Teja diketuk dari luar.TOK! TOK!Suara ketukan halus dan ragu-ragu itu memecah keheningan kamar tidur Teja yang tenang. Teja yang sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang seraya menyelaraskan sirkulasi Murni Qi di dalam tubuhnya seketika membuka mata. Pemuda berambut gondrong itu menegakkan tubuh, menyunggingkan senyum tipis, lalu melangkah tegap menuju pintu.Gagang pintu kayu berputar halus, dan daun pintu terdorong ke dalam.Begitu pintu benar-benar sudah terkuak lebar, sepasang mata keemasan sang pemuda melebar kaget. Hawa Murni Qi di dalam dadanya bergetar halus tanpa disadari tatkala pemandangan di hadapannya menyapa indra penglihatannya secara mendadak.Di ambang pintu itu tengah berdiri seorang wanita dengan kulit yang bersih dan lembut, hidungnya tirus bangir, rambutnya tergerai panjang dan masih agak basah usai keramas. Di tubuhnya melekat kemeja Teja yang terlihat kebesaran di tubuh mungilnya.Sosok gadis jalanan yang beberapa jam lalu berbalut pak
"Mbakk! Kamu pikir aku hantu? Aku benar-benar Desan, adikmu. Aku sudah sembuh, Mbak!" seru Desan riang seraya memamerkan senyum lebarnya yang polos.Desy masih berdiri membeku di depan kompor. Tangan halusnya yang gemetar memegang erat buntut wajan, sementara matanya tak berkedip memandangi sosok adiknya yang kini berdiri bugar, tanpa ada lagi jejak demam tinggi yang selama sepuluh hari terakhir menggerogoti nyawanya.Teja melangkah menyusul ke dapur. Langkah kaki tegap pemuda berambut gondrong itu bergema halus di atas lantai keramik, menyusul ke area dapur bersih dengan ukiran senyum tipis yang amat menenangkan."Desan sudah sembuh, Desy," ungkapnya santai."Mas… Kamu tabib? Dokter? Apa dewa yang turun ke bumi? Ini kayak mimpi, Mas!" ucap Desy tersengal-sengal, tak lagi mampu menahan emosi haru yang meledak di dalam dadanya.Desy langsung menjatuhkan lututnya ke lantai dan merengkuh tubuh kurus adiknya untuk ia peluk erat-erat. Air mata kebahagiaan menetes deras membasahi bahu polo
Proses pengobatan dimulai. Teja menarik napas dalam-dalam, menenangkan seluruh aliran darah di dalam dadanya hingga ruang klinik itu terasa makin hening. Dengan gerakan pelan dan berhati-hati, pemuda berambut gondrong itu merendahkan tubuhnya di samping ranjang pasien.Teja mendekatkan telapak tangannya di atas dada Desan dengan jarak udara sekitar setengah jengkal dan tidak menempel langsung.Kedua telapak tangan kekarnya melayang stabil di udara. Di balik kulit telapak tangannya, sirkulasi hawa Murni Qi tingkat tujuh yang hangat meluap pekat, menciptakan pusaran energi tak kasat mata yang mulai memanaskan atmosfer di sekitar ranjang tempat bocah kurus itu terbaring.Mata batinnya mulai membayangkan cahaya aura keemasan memasuki dada Desan, disusul perbaikan internal menggunakan energi Qi itu.Mata keemasan Teja berkilat redup di balik kelopak matanya yang setengah terpejam. Dalam pandangan batinnya, aliran energi spiritual milik Teja menembus kulit dada Desan bagaikan pendar sin
Deru mesin V8 twin-turbo berkapasitas besar itu kembali mengalun halus, membelah keheningan malam kota Surabaya yang kian larut. Sedan Maserati Quattroporte GTS V8 hitam itu bergerak lincah menembus jalanan protokol, meninggalkan kawasan kumuh kolong jembatan yang kini tinggal bayangan di kaca spion.Di kursi penumpang depan yang dilapisi kulit mewah, Desy duduk merapat. Kedua lengan halusnya merengkuh erat raga kecil Desan yang kurus kering dan masih terlelap dalam gigilan demam tinggi. Desy tak henti-hentinya mengusap dahi panas sang adik, sesekali pula melempar tatapan haru dan tak percaya ke arah Teja yang mengemudi di sampingnya.Teja membawa mobilnya melesat cepat ke arah klinik pengobatan miliknya.Jemari kekar Teja memutar lingkar kemudi dengan tenang. Binar mata keemasannya menatap lurus ke depan, memastikan rute terdekat menuju tempat tujuan mereka.Dulu, bangunan itu adalah rumahnya bersama sang ayah tercinta. Namun, sejak asosiasi bela diri Surabaya dan Sidoarjo menghad
Nana yang tak pernah melihat Teja berkelahi menjadi khawatir. “Jo, kabur aja yuk. Hitungan ketiga kita langsung masuk mobil dan tancap gas!“ bisiknya pelan di telinga Teja. Namun Teja justru menggeleng dan mengerlingkan mata. “Kamu diam saja dan tetap di posisimu. Biar aku yang ngurus ini,“ jawab T
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.







