로그인Kedua gadis itu mulai makan tanpa kata. Suasana di meja makan terasa kaku dan hening, hanya berhias denting halus antara sendok dan piring kaca yang saling beradu. Ketegangan di antara mereka berdua seolah memanaskan udara di dalam ruangan tersebut.Hanya Panda yang sesekali mengangguk dan tersenyum pada Toni dan Teja. Tatapan matanya yang teduh serta gesturnya yang sopan memancarkan ketenangan tiada tara, sangat berbanding terbalik dengan Linda yang terus menunduk menyantap makanannya dengan raut wajah cemberut.Begitu selesai makan, Panda segera bangkit. Jemari lentiknya bergegas meraih termos herbal dan menggeser piring kosong di depannya. "Biar aku yang bersihin mejanya, Ja," tawarnya halus sembari menyunggingkan senyuman manis ke arah Teja.Namun Linda justru mendahului berdiri!Gerakannya yang mendadak membuat kursi yang didudukinya terdorong cukup keras ke belakang. "Aku aja!" sergah Linda cepat, tak rela membiarkan Panda mengambil perhatian dan simpati dari penghuni rumah
Saat pintu terbuka, Linda terlihat berdiri di sana. Gadis itu mengenakan pakaian kasual yang rapi, memegang tas kecilnya dengan wajah yang memancarkan kecemasan mendalam."Linda?! Kok pagi gini udah ke sini?" tanya Teja heran. Pemuda itu menggeser posisi berdirinya di ambang pintu, menatap kekhawatiran yang terpancar dari paras cantik sang tamu."Aku denger kamu kalah dari Suko, Ja. Aku kepikiran terus sama kamu. Makanya aku buru-buru ke sini," aku Linda jujur. Suaranya agak bergetar, menatap langsung ke dalam mata Teja tanpa berusaha menyembunyikan rasa gelisah yang menyita pikirannya sepanjang malam."Kamu nggak kenapa-kenapa, kan? Ada yang parah nggak lukanya?" tanya Linda khawatir sembari memeriksa sekujur tubuh pemuda berambut gondrong idolanya tersebut. Tangannya bergerak cepat memegang kedua lengan Teja, meneliti dari pundak hingga pergelangan tangan untuk memastikan tidak ada tulang yang patah atau terluka."Santai. Nggak kenapa-kenapa kok. Eh masuk yuk, ikut sarapan," aja
Merasakan memiliki kebebasan penuh atas fisiknya sendiri, Teja membulatkan tekad untuk mengambil langkah berani. Pemuda itu paham betul bahwa jurus yang diwariskan secara turun temurun dari leluhurnya memerlukan perombakan agar bisa mencapai level yang lebih tinggi.Ia pun memejamkan mata sejenak di tengah pelataran halaman belakang rumahnya yang masih diselimuti embun fajar tersebut. Bayangan pertempurannya melawan Suko diputar kembali di dalam ingatan dengan sangat mendetail. Teja mengingat betul bagaimana serangan Suko mampu menerobos pertahanannya, serta bagaimana gerakan tebasan tangan Suko meluncur tanpa kendala. Dari titik pemahaman itulah, Teja mulai mengeksekusi rekonstruksi gerakannya.Jurus-jurus itu adalah jurus sebelumnya yang ia modifikasi di bagian tertentu untuk menyempurnakannya. Pada jurus pendorongan telapak tangan yang semula berfokus pada kekuatan lurus ke depan, Teja menambahkan sedikit putaran pergelangan tangan dan alihan tumpuan pinggul. Perubahan kecil
Jika orang biasa butuh waktu lama untuk menempa fisik, tubuh istimewa Teja yang disokong warisan lilitan kain leluhurnya mampu meningkat lebih cepat. Rekayasa biologis yang terpacu oleh aliran energi murni Qi memangkas proses pembentukan jaringan otot yang normalnya memakan waktu berbulan-bulan menjadi hitungan singkat saja. Setiap sel, urat, dan pembuluh darah beregenerasi dengan luar biasa tanpa meninggalkan kerusakan mikro pada struktur organ dalamnya.Malam hari usai berolahraga optimal, Teja bisa merasakan tubuhnya yang lebih kekar dan lebih ringan dalam melangkah. Otot-otot di lengan, dada, dan tungkai kakinya memadat sempurna, membungkus tulang-tulangnya dengan kerapatan yang tak membuat kaku, melainkan justru memberikan kelenturan serta daya ledak tenaga yang kian terasa.'Hmm. Kalau sehari saja bisa seperti ini berarti dalam dua minggu tentu akan semakin luar biasa,' gumam Teja. Pemuda itu menggepalkan telapak tangannya di tengah keremangan malam, merasakan getaran daya t
"Kamu harus memahami batasanmu sendiri, Ja. Memaksakan otot membesar maksimal justru bakal merusak fisikmu. Memacu kerja jantung berlebihan juga nggak baik. Intinya, jangan berlebihan. Segala sesuatu yang berlebihan itu nggak baik!" nasihat Toni. "Baik, Yah. Aku bakal perhatikan itu," jawab Teja patuh. Pemuda itu menganggukkan kepalanya perlahan, menanamkan baik-baik setiap kata petuah dari sang ayah ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Ia sadar betul bahwa pengoptimalan jalur fisik dan jaringan otot ibarat pisau bermata dua yang sanggup meremukkan pilar kehidupannya sendiri jika tidak berhati-hati.Usai berbincang, Teja segera berganti pakaian olahraga dan melangkah ke halaman belakang rumahnya yang dilengkapi kolam renang pribadi. Area terbuka bernuansa asri itu dipagari oleh tembok tinggi yang menjamin privasi penuh, menyajikan keheningan ideal yang ia butuhkan untuk mulai membedah serta merombak batas kemampuan fisiknya secara mandiri.Hembusan angin sore bertiup lembut m
"Pria itu namanya Suko, Yah. Dia kakak seperguruan dari Denny," terang Teja pada sang ayah. Pemuda itu membenarkan posisi duduknya, bersandar pada sandaran sofa sembari memegang dadanya yang masih menyisakan rasa sesak akibat benturan pukulan tadi.Toni mengangguk dan menyimak. Raut wajahnya berubah semakin serius mendengarkan penuturan anak semata wayangnya tersebut. "Lanjutkan, Ja," pinta Toni perlahan."Dia berada di ranah bela diri tingkat tinggi tahap puncak dan penguasaan energi Qi tingkat dua," lanjut Teja. Suaranya terdengar agak berat saat mengakui keunggulan kapasitas bertarung lawan yang baru saja menghantamnya hingga luka dalam."Dan aku kalah, Yah. Aku tadi bisa saja habis di tangannya, tapi dia ngasih tantangan baru. Dia nyuruh aku meningkatkan kemampuan dan mengajakku bertanding ulang dua minggu lagi," ungkap Teja membeberkan kenyataan pahit yang dialaminya. Kepalan tangannya mengencang di atas lutut, menahan gejolak rasa malu dan kekecewaan yang merayapi batinnya.
Teja cepat-cepat meloloskan diri dari pelukan itu. Wajahnya merah padam antara malu dan sisa hangat hasrat setelah melihat paha putih Nana tadi. Ia mundur beberapa langkah. “Apa-apaan kamu, Na?!“ seru Teja salah tingkah. Namun Nana tak mengindahkan seruan itu. Mata beloknya tetap menatap lekat tan
“Nggak. Cuma mau numpang sarapan doang!“ dengus Nana kesal. “Ya jelas mau pijat dong, Tejooo!“ Teja masih sedikit linglung. Sekilas ia menatap ayahnya yang duduk di ujung ruang tamu seolah meminta pertimbangan. Toni justru terkekeh. “Pekerjaan pijat memijat mulai hari ini sudah sepenuhnya beralih
“Buat apa kamu teriak, Jaaa?!“ sentak Toni usai mengirimkan tendangannya. “Sakit dong, Yah, gimana sih?!“ raung Teja spontan. “Memangnya beneran sakit?“ pancing sang ayah lagi. Teja terdiam sejenak, kemudian meraba miliknya yang kini berukuran luar biasa, mencoba memastikan apa yang ia rasakan.
Ternyata bulan purnama yang dimaksudkan ayah Teja itu datang keesokan harinya. Di halaman belakang rumah yang tertutup tembok keliling, Teja dan Toni berdiri saling berhadapan. Mereka bertelanjang dada. Di bagian bawah, Teja hanya mengenakan lilitan kain warisan leluhur mereka. Sedangkan Toni yan







