Share

Bab 218

Author: Rizu Key
last update publish date: 2026-04-19 22:04:29

Ibra terdiam. Ia masih terlihat menahan keterkejutannya itu pada salah satu orang dekatnya. Mengetahui bahwa sahabat mendiang ayahnya telah berkhianat, membuatnya seolah tak percaya.

"Kita akan tahu setelah dia diproses oleh hukum," jawab Ibra dengan kedua tangan terkepal erat.

Aya menggenggam erat tangan Ibra. "Iya, Mas. Kita serahkan mereka pada yang berwajib."

Dengan mengangguk tanda setuju, Ibra menyimpan flashdisk tersebut dan juga surat dari Niko. Beruntung Ibra tidak menyalahkan Samuel b
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 235

    "Apa kamu baik-baik saja?" tanya Ibra sembari menatap sang istri yang kini duduk di depan meja makan."Aku baik-baik saja, Mas," jawab Aya sembari mencoba tersenyum. Meski ia masih saja merasa bingung dengan mimpi buruk yang semalam ia alami. Mimpi itu terasa begitu nyata, seolah pernah terjadi di masa lalu. Namun, mengapa mimpi itu tiba-tiba muncul?Ibra tidak tega meninggalkan Aya. Sementara ia harus segera pergi menghadiri sidang."Aku harus pergi. Jadi kamu baik-baik saja di rumah," ucap Ibra lembut.Aya kembali tersenyum. "Iya, Mas. Aku akan baik-baik saja."Sinar matahari pagi yang menerobos masuk melalui jendela besar ruang makan nyatanya tidak mampu mengusir kegelisahan yang menggelayut di pundak Ibra. Hari ini adalah puncaknya. Hari di mana kecurangan Hengki akan dibedah di depan meja hijau. Namun ia juga tidak ingin meninggalkan Aya.Pria itu segera berangkat dengan Samuel dan Sinta, serta tim IT ahli yang dipercaya. Tak lupa seorang pengacara ternama juga akan ikut mendamp

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 234

    Suara itu terdengar berat, penuh penekanan, dan terdengar sangat mendesak. Aya mencoba mencari sumber suara itu, namun pandangannya kabur.Di tengah kegelapan, ia tiba-tiba melihat sosok ibunya. Namun, sang ibu tidak tersenyum. Wajah ibunya pucat pasi, seperti kertas yang kehilangan warna, dengan butiran keringat dingin sebesar biji jagung mengucur di pelipisnya."Ibu...." lirih Aya penuh rasa kerinduan. Ibunya yang telah lama tiada, kini duduk di sebelahnya dan terlihat nyata.Saat menyadari Aya memanggilnya, sang ibu menoleh lalu tiba-tiba menerjang ke arahnya. Bukan untuk menyerang, melainkan memeluk Aya dengan sangat erat, begitu erat hingga Aya sulit bernapas.Tangan ibunya yang gemetar membungkam mulut Aya dengan rapat. Mata sang ibu membelalak ketakutan, menatap ke arah kegelapan di belakang mereka, seolah ada monster yang sedang mengintai mereka.Aya ingin berteriak, bertanya apa yang terjadi, namun suaranya tertahan di tenggorokan. Jantungnya berdegup ke

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 233

    Kembali di kantor Bagaskara Group, Ibra merasakan firasat buruk yang tiba-tiba muncul. Ia berdiri di dekat jendela kaca besar, melihat lampu-lampu kota yang mulai menyala. Pikirannya melayang pada Aya yang sedang hamil di rumah. Ia tahu, kemenangan ini mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.'Om Hengki bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja setelah dipojokkan,' batin Ibra. 'Jika dia merasa terdesak, apakah dia akan menggunakan cara yang paling kotor untuk menyingkirkanku?' tanyanya dalam hati.Ibra segera mengambil ponselnya dan menghubungi kepala pelayan di rumahnya. "Pak Santo, tolong perketat penjagaan di rumah. Mulai malam ini, jangan biarkan siapa pun yang tidak dikenal mendekati rumah atau sekadar bertamu, termasuk kurir atau tamu yang tidak membuat janji sebelumnya. Aku akan pulang sekarang.""Baik, Tuan," sahut Santo dari ujung panggilan.Panggilan segera berakhir. Ibra memasukkan ponselnya pada saku kemeja. Lalu pria itu berjalan keluar ruangan dengan la

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 232

    Ibra mencoba menggali informasi di dalam ingatannya sendiri. Namun pria itu tak juga menemukan apa pun. Hanya kebuntuan. Tak ada petunjuk soal alasan pengkhianatan Hengki sebagai mitra terbesar selain iri saja."Pak, saya akan segera mengirimkan hasil investigasi ke Anda." Suara Samuel membuyarkan lamunan Ibra yang tengah fokus pada pikirannya sendiri."Bagus, Sam. Terus dalami itu. Jangan biarkan satu detail pun terlewat," instruksi Ibra kemudian dengan tegas.*Sementara itu, di sebuah restoran privat yang terletak di lantai paling atas sebuah gedung mewah di pusat kota, suasana terasa sangat berbeda. Ketegangan menggantung di udara yang kini dihiasi aroma cerutu mahal.Di sudut sana, Hengki duduk dengan punggung tegak, meskipun raut wajahnya terlihat jauh lebih tua dan lelah akibat tekanan publik yang terus saja ia dapatkan pasca penyelewengan dana di perusahaannya terbongkar.Di sampingnya, Liam terus-menerus mengetukkan jarinya di atas meja, menunjukkan kecemasan yang tidak bisa

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 231

    "Semua kemungkinan itu ada, Pak," ujar Samuel. "Namun, fakta bahwa Pak Hengki dan Liam secara sadar melakukan sabotase digital dan plagiarisme menunjukkan bahwa ini adalah tindakan yang terencana, bukan sekadar reaksi spontan karena sakit hati. Jika memang ada kesalahpahaman, Pak Hengki seharusnya punya seribu satu cara untuk bicara baik-baik dengan Anda sebagai anak dari sahabatnya, bukan dengan cara menusuk dari belakang seperti ini." Samuel memberikan pendapatnya.Ibra menutup matanya sesaat. Ucapan Samuel masuk akal, namun nuraninya tetap terusik. Ia teringat kembali pada kegelisahan Aya di meja makan tadi. Perasaan familiar istrinya terhadap wajah Hengki menambah lapisan misteri yang belum terpecahkan. Namun, ia sendiri tidak yakin jika sang istri pernah bertemu dengan sahabat ayahnya itu."Apa mungkin waktu hari pernikahanku?" gumam Ibra pelan."Ya, Pak?" "Bukan apa-apa," lanjut Ibra. Pria itu kembali terdiam dalam pikirannya sendiri. 'Mungkin memang Aya bertemu dengan Om Hengk

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 230

    Suasana kantor pusat Bagaskara Group pagi itu terasa jauh berbeda dibandingkan beberapa hari sebelumnya ketika Ibra baru saja tiba. Kini ritme kerja yang profesional dan teratur mulai kembali terlihat. Para karyawan berjalan dengan langkah mantap, meski kewaspadaan tetap terpancar dari wajah-wajah mereka. Apa lagi masih ada beberapa wartawan yang masih ingin meliput kasus mereka di luar gerbang.Ibra melangkah masuk melalui pintu depan, disambut dengan tundukan hormat dari para staf. Di lantai sepuluh, tim IT tampak masih bekerja ekstra keras di balik layar monitor yang berderet. Lampu-lampu indikator server yang biasanya berkedip merah tanda bahaya, kini kembali stabil dengan warna hijau yang menenangkan.Ibra langsung menuju ruang kerjanya, di mana Samuel sudah menunggu dengan setumpuk berkas dan sebuah laptop yang terbuka."Selamat pagi, Pak Ibra. Keamanan sistem sudah pulih sepenuhnya. Tim kita kembali berhasil memblokir tiga upaya peretasan susulan dari alamat IP yang berbeda-bed

  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 87

    "Emmmhhh...." Lenguhan pelan itu terdengar. Aya membuka kedua matanya dan menoleh ke arah suaminya.Pagi itu, cahaya matahari merayap masuk melalui celah gorden yang sedikit terbuka, menerangi kamar yang mewah. Aya baru saja bangun. Tubuhnya memang terasa pegal luar biasa, namun tanggung jawabnya s

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 85

    "Ah, maaf...." cicit Aya yang tersadar akan tindakannya. Wanita itu menegakkan badannya dan melepaskan genggaman tangannya.Ibra hanya diam dengan ekspresi datar. Membuat suasana semakin canggung. Aya cepat-cepat menoleh ke jendela dan membiarkan dirinya memandangi lampu jalanan yang mulai menyala.

    last updateLast Updated : 2026-03-26
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 76 (18+)

    Aya memejamkan mata. "Nggak... Kita sudah pernah ke sini lagi, kan?" Ia menoleh menatap Ibra."Hm." Ibra memutar tubuhnya menghadap Aya. "Dan malam itu adalah malam pertama bagi kita berdua. Aku memberimu uang itu, dan kamu memberiku malam yang tidak pernah bisa kulupakan...."Aya membulatkan kedua

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Anak Rahasia Presdir Impoten   Bab 79

    "Apa ini?" tanya Ibra."Putra juga nggak tahu. Nanti minta tolong kasihin ke Bunda, ya, Yah?" jawab Putra."Memangnya bukan dari kamu?"Putra menggeleng pelan. "Bukan, Ayah. Ini hadiah dari Om Hendra."Ibra menatap hadiah kecil yang muat dalam genggaman tangannya itu dengan tatapa

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status