LOGIN
Sebuah hotel mewah di Kota S.
Seorang gadis berlari menyusuri koridor dengan napas memburu. Wajahnya pucat dipenuhi ketakutan. Di belakangnya, beberapa pria berjas hitam terus mengejar.
"Hei! Jangan lari!" teriak salah satu pria.
"Keluarganya sudah menerima uang itu. Jangan sampai dia lolos!" bentak pria lainnya.
Gadis itu segera berbelok ke koridor sebelah. Dengan tangan gemetar, ia mencoba membuka setiap gagang pintu yang dilewatinya.
Setelah beberapa kali mencoba, salah satu pintu akhirnya terbuka.
Tanpa berpikir panjang, ia segera masuk lalu menguncinya dari dalam.
Gadis itu bersandar di balik pintu sambil mengatur napas. Ia menoleh ke sekeliling. Kamar hotel itu begitu luas, tetapi gelap gulita. Tidak tampak seorang pun.
"Semoga mereka tidak menemukanku..." bisiknya pelan. "Siapa sebenarnya mereka?"
Tok... tok... tok...
Suara ketukan pintu membuat tubuhnya menegang.
Ia mundur selangkah demi selangkah.
Tiba-tiba sebuah tangan besar menarik lengannya dengan kasar.
"Ah!"
Tubuhnya terdorong hingga jatuh ke atas ranjang empuk.
Seorang pria bertubuh tinggi menindihnya. Wajahnya tidak terlihat karena cahaya kamar begitu redup.
"Siapa yang mengirimmu?" tanyanya dengan suara dingin.
"T-Tuan... ada orang yang mengejarku. Tolong... biarkan aku bersembunyi sebentar," pinta gadis itu sambil berusaha melepaskan cengkeraman di pergelangan tangannya.
Pria itu, yang wajahnya tidak terlihat karena suasana kamar yang gelap, tiba-tiba mencengkeram leher gadis itu.
"Berani masuk ke kamarku, masih banyak alasan?" ucap pria itu dengan suara dingin.
"T-Tuan, aku tidak sengaja mendekatimu. Aku sedang dikejar seseorang," kata gadis itu sambil berusaha melepaskan diri.
Tiba-tiba tubuh pria itu terasa aneh. Suhu tubuhnya meningkat dan napasnya mulai tidak teratur.
"Sial... obatnya mulai bekerja," gumamnya.
Dari luar kamar terdengar suara teriakan.
"Di mana Chloe Shen? Cepat cari sampai dapat!"
"Tuan, tolong jangan sakiti aku. Aku benar-benar tidak sengaja mengganggumu," ujar gadis itu panik. "Aku dijual oleh keluargaku sendiri, jadi aku melarikan diri. Karena pintu kamar ini tidak terkunci, aku masuk untuk bersembunyi."
"Namamu Chloe Shen?"
"I-iya."
Pria itu menatapnya tajam. "Tidak peduli siapa dirimu, apakah kau dikirim oleh orang itu atau tidak..." ucapnya dingin. "Karena kau sudah datang ke sini, kau harus membantuku."Pria itu mencium bibirnya dengan brutal, kedua tangannya ditahan sehingga ia tidak mampu untuk melawan.
Gadis bernama Chloe Shen itu membelalakkan matanya. Ia tetap berusaha melawan dan menjauh, tetapi pria itu masih menahannya.
Malam itu, Chloe Shen tidak pernah menyangka bahwa pelariannya justru membawanya bertemu dengan seorang pria misterius yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Akibat efek obat tersebut pria yang tidak dikenal melampiaskan hasratnya pada gadis malang itu.
Chloe yang kesakitan hanya bisa menangis pasrah. Sementara pria tersebut melakukan aksinya dan mengabaikan tangisannya.
Keesokan harinya.
Pintu kamar terbuka. Seorang pria bersetelan rapi masuk dengan langkah cepat.
"Tuan Lu!" serunya melihat pria itu yang masih belum sepenuhnya sadar.
Beberapa saat kemudian, pria itu perlahan membuka matanya. Ia mengerutkan kening lalu bangkit duduk di ranjang.
Tatapannya langsung mencari ke sekeliling kamar.
"Dia sudah pergi..." gumamnya saat menyadari gadis itu tidak ada lagi di sana."Siapa dia?" tanya asistennya, Jack.
Ia terdiam sejenak, mengingat kejadian malam tadi. "Seorang gadis yang bersamaku semalam. Periksa CCTV hotel dan cari tahu semua latar belakangnya," perintahnya dingin.
Jack terlihat ragu.
"Tapi, bagaimana jika dia adalah orang yang dikirim musuh kita untuk menjebak Anda?""Cari tahu dulu kebenarannya."
Ia menarik selimut dari tubuhnya lalu berdiri. "Jika dia memang bagian dari rencana mereka, aku tidak akan melepaskannya. Tapi jika dia tidak terlibat... aku akan bertanggung jawab."Saat ia merapikan pakaiannya, matanya menangkap sesuatu di sisi ranjang.
Ada sebuah bercak darah kecil di sana. Ekspresinya langsung berubah serius."Ternyata dia masih perawan, kelihatannya aku salah paham padanya," ucapnya.
Jack menghampiri ranjang dan melihat sesuatu yang terjatuh di lantai.
Ia membungkuk lalu mengambil sebuah kalung kecil. "Tuan Lu, sepertinya kalung ini milik gadis itu," ujar Jack sambil menyerahkannya kepada atasannya.Pria itu menerima kalung tersebut. Ia membuka liontin kecil yang tergantung di sana.
Di dalamnya terdapat sebuah foto. Foto seorang gadis muda dengan senyum cerah yang terlihat penuh kebahagiaan."Chloe Shen...aku akan menemukanmu."
***
Mansion Keluarga Shen.
Chloe yang baru kembali ke rumah langsung menerima tamparan keras dari ayahnya.
Plak!
"Kurang ajar! Berani sekali kau kabur dari pertemuan semalam!" bentak pria paruh baya itu. Dialah Mike Shen, ayah kandung Chloe.
Di sampingnya, ibu tiri Chloe dan putrinya, Rinny Shen, saling bertukar pandang dengan senyum puas.
Chloe mengangkat wajahnya perlahan. Bekas tamparan itu masih terasa perih.
"Pa, Papa menjual putri Papa sendiri kepada pria lain. Apa Papa tidak merasa bersalah?" tanyanya dengan mata memerah."Perusahaan kita sedang membutuhkan dana. Hanya satu malam saja, kenapa kau tidak mau berkorban demi keluarga ini?" bentak Mike. "Lalu, apa gunanya aku membesarkanmu selama ini?"
Chloe tertawa pahit.
"Dia juga putri Papa." Chloe menunjuk ke arah Rinny. "Kenapa selalu aku yang dijadikan korban? Masalah perusahaan tidak ada hubungannya denganku."Sebelum Mike sempat menjawab, Rinny melangkah maju.
"Pa, sebenarnya sejak awal aku sudah bilang, biar aku saja yang berkorban. Papa sudah membesarkanku dengan penuh kasih sayang. Sudah seharusnya aku membalas budi Papa."Mike menatap Rinna dengan penuh kebanggaan.
"Lihat adikmu! Dia jauh lebih mengerti daripada dirimu. Tidak sepertimu yang hanya tahu melawan."
Mendengar pujian itu, sudut bibir Rinny terangkat tipis.
Saat itulah ibu tiri Chloe, Linda Mu. berpura-pura menyeka air matanya.
"Mike, sudah kuduga Chloe masih menyimpan dendam kepada kami berdua. Karena itulah dia tidak pernah mau membantu keluarga ini." Suaranya terdengar lirih. "Kalau kehadiran kami hanya membuatnya membenci keluarga ini, lebih baik aku dan Rinna pergi dari rumah ini.""Linda, jangan sedih. Selama aku masih hidup, tidak ada seorang pun yang bisa mengusirmu dari rumah ini," ujar Mike sambil menepuk bahu istrinya.
Tatapannya kemudian beralih kepada Chloe.
"Chloe, kenapa kau selalu membuat mereka menangis? Apa kau masih belum puas?" bentaknya.Chloe tertawa getir.
"Pa, mereka baru menangis sebentar saja, Papa sudah tidak tega. Lalu bagaimana denganku?" Air matanya mulai menggenang. "Papa tega menjualku kepada pria lain. Apa aku bukan putri Papa?"Mike terdiam sesaat, tetapi wajahnya tetap dingin.
Saat itulah Rinny tanpa sengaja melihat bekas kemerahan di leher Chloe.
Matanya langsung berbinar.
"Kak, itu... apa yang ada di lehermu?" tanyanya dengan suara dibuat-buat terkejut.Semua orang sontak menoleh ke arah leher Chloe.
Chloe panik dan buru-buru menutupi lehernya dengan tangan.
Rinny tersenyum tipis sebelum kembali bersandiwara.
"Kakak, semalam sebenarnya kau bersama pria mana?" tanyanya. "Bukankah Kakak menolak saat Papa memintamu membantu keluarga? Kenapa sekarang justru menyerahkan diri kepada pria lain?"Ucapan itu membuat wajah Mike berubah murka.
"Kurang ajar!"Plak!
Sebuah tamparan keras kembali mendarat di pipi Chloe hingga tubuhnya terhuyung.
"Kau benar-benar mempermalukan keluarga Shen!" bentak Mike dengan mata dipenuhi amarah.
Dalam perjalanan Jack terus melajukan mobilnya ketika ponselnya tiba-tiba berdering."Hallo?""Lokasi Tuan Elvin Lu sudah ditemukan. Saya kirimkan lokasinya sekarang juga!" ujar seorang pria dari seberang."Baik!"Jack segera menerima lokasi tersebut dan mengikuti petunjuk arah."Tuan, kita sudah mendapatkan posisi Tuan Elvin," kata Jack."Segera ke sana!" perintah Vincent yang duduk di kursi belakang."Baik, Tuan!"Beberapa saat kemudian.Mobil Vincent tiba di lokasi.Di depan mereka terlihat kecelakaan cukup parah. Sebuah mobil pribadi bertabrakan dengan mobil lain hingga bagian depannya ringsek. Kaca mobil pecah berserakan di jalan.Kemacetan terjadi di sepanjang jalan. Warga berkerumun di sekitar lokasi, sementara beberapa ambulans mulai berdatangan.Tim penyelamat sedang berusaha mengevakuasi para korban dari kendaraan yang rusak.Vincent segera turun dari mobil.Tatapannya langsung tertuju pada sebuah mobil yang bagian depannya hancur."Elvin!"Vincent berlari mendekat.Dari ba
"Apa kau yakin bisa merawatnya? Bayi ini baru dilahirkan dan harus berpisah dari ibunya," tanya Vincent sambil menatap bayi itu dengan iba."Tenang saja. Kami sudah menyiapkan pengasuh yang bisa menyusuinya. Aku dan istriku sudah menunggu kesempatan ini cukup lama," jawab Elvin.Elvin tersenyum melihat bayi dalam pelukan Vincent."Tapi kenapa, bayi ini sepertinya sangat menyukaimu. Tadi dia terus menangis, tetapi begitu berada di pelukanmu, dia langsung tenang."Vincent tidak menjawab. Tatapannya masih tertuju pada wajah mungil bayi tersebut."Apakah kau sempat bertemu dengan ibunya?" tanyanya kemudian."Tidak. Yang menyerahkan bayi ini mengatakan ibunya hanya seorang diri dan tidak mampu membesarkan anaknya. Karena itu, dia terpaksa menyerahkan bayinya kepada kami."Vincent terdiam.Tangannya perlahan mengusap kepala bayi itu."Kenapa perasaanku sangat sakit dan sedih saat melihat anak ini? Dan terbayang wajah Chloe Shen?"batinnya.***Di sisi lain, sebuah mobil berhenti di sebuah de
Klinik itu mulai sepi ketika Elvin tiba.Di luar, Vincent masih menunggu di dalam mobil sambil merokok dengan tenang. Jack duduk di kursi pengemudi, sesekali melirik ke arah pintu klinik.Sementara itu, Elvin menemui Linda seorang diri."Tuan Lu, Anda sudah datang," ujar Linda sambil menggendong seorang bayi laki-laki yang masih kemerahan.Elvin langsung menatap bayi itu."Nyonya, bagaimana keadaan bayinya?""Sangat sehat dan tampan. Tenang saja, ibunya kami rawat dengan baik selama kehamilan, sehingga bayi ini lahir dengan sehat dan kuat," jawab Linda dengan senyum meyakinkan.Elvin tersenyum ketika melihat bayi yang berada dalam gendongan Linda. Bayi itu sedang menangis tangannya bergerak-gerak seolah mencari sesuatu."Bagaimana kondisi ibunya?" tanya Elvin.Linda memasang wajah prihatin."Kasihan sekali. Dia tidak sanggup merawat anak ini. Suaminya meninggalkannya setelah mengetahui kehamilannya. Demi masa depan anaknya, dia terpaksa menyerahkan bayi ini kepada keluarga yang mampu
Sebuah mobil hitam berhenti di depan apartemen sederhana tempat Chloe tinggal.Vincent turun bersama Jack.Keduanya kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju lantai tempat apartemen Chloe berada.Sesampainya di depan pintu, Vincent menekan bel.Ting tong!Tidak ada jawaban.Vincent kembali menekan bel.Ting tong!Tetap tidak ada jawaban."Sepertinya Nona Chloe tidak ada di rumah," ujar Jack.Sebelum Vincent menjawab, seorang pria paruh baya yang merupakan pengelola apartemen berjalan mendekati mereka."Permisi, apakah Anda mencari Nona Chloe?"Vincent menoleh."Benar."Pengelola itu mengangguk."Nona Chloe sudah keluar sejak pagi.""Ke mana?" tanya Vincent."Berangkat bekerja. Tadi pagi saya melihatnya keluar dari apartemennya."Vincent mengerutkan kening."Apakah dia mengatakan sesuatu?""Katanya dia mendapat pekerjaan di luar kota dan harus pergi untuk beberapa waktu."Jack melirik Vincent."Apakah dia membawa banyak barang?"Pengelola itu menggeleng."Tidak. Hanya membawa satu tas.
Tiga minggu kemudian.Chloe yang sedang bersiap-siap untuk berangkat kerja tiba-tiba merasa mual.Ia segera menutup mulutnya dan berlari ke kamar mandi. "Uhuk..."Chloe berlutut di depan toilet dan muntah beberapa kali. Setelah itu, ia bersandar di dinding sambil mengatur napas."Kenapa akhir-akhir ini aku selalu merasa mual?" gumamnya.Ia mengambil air untuk membasuh wajahnya. Namun, baru beberapa langkah keluar dari kamar mandi, aroma kopi dari meja makan kembali membuat perutnya terasa tidak nyaman.Chloe langsung menutup hidung."Biasanya aku suka sekali aroma kopi..."Ia mengerutkan kening.Beberapa hari terakhir tubuhnya memang terasa aneh. Ia mudah lelah, sering pusing, dan selera makannya berubah.Wajahnya perlahan berubah."Sebentar..."Ia mulai menghitung hari dalam pikirannya."Haidku..."Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih cepat.Sebuah kemungkinan yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya perlahan muncul di benaknya.Chloe refleks menyentuh perutnya."Tidak mungkin..."Nam
Suasana di depan mansion seketika membeku.Wajah Rinny langsung pucat. Linda yang sejak tadi memasang wajah prihatin ikut terdiam, sementara Mike menatap Vincent dengan gugup."Tu... Tuan Lu, maksud Anda..." Rinny tergagap."Pria yang bersama Chloe malam itu adalah aku," jawab Vincent dingin. "Jadi, menurutmu aku adalah pria asing yang tidak dikenal kakakmu?""Tidak, Tuan Lu. Saya tidak bermaksud seperti itu. Saya hanya..." Rinny mulai panik, tetapi tidak mampu melanjutkan ucapannya.Vincent menatapnya tajam. "Kalau begitu, jelaskan. Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?"Rinny menelan ludah. "Saya... saya hanya mendengar dari orang lain.""Orang lain?" Vincent tersenyum tipis tanpa kehangatan. "Lucu. Kau begitu yakin Chloe mempermalukan keluarga, padahal sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi."Mike segera menyela, "Tuan Lu, mungkin ada kesalahpahaman. Chloe memang berada di tempat Anda malam itu, tetapi—""Dia masuk ke tempatku karena sedang melarikan diri," potong Vincent. "Dan se







