แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: L.S
Aku duduk sendirian di lorong rumah sakit. Entah sudah berapa lama berlalu. Aku sama sekali tidak bergerak.

Orang-orang yang paling kucintai meninggalkanku satu per satu.

Sementara itu, orang-orang yang telah menyebabkan kematian mereka masih hidup dengan baik.

Bahkan hidup bergelimang kemewahan dan menikmati kedudukan tinggi.

Kenapa?

Atas dasar apa?

Aku menangis hingga hatiku terasa hancur berkeping-keping. Aku menggertakkan gigi karena kebencian yang tak lagi sanggup kutahan.

Aku benar-benar sudah tidak bisa menahannya lagi. Tanpa berpikir panjang, aku langsung berjalan menuju ruang rawat VIP.

Aku harus mendapatkan penjelasan dari mereka!

Namun baru saja mendekat, aku sudah mendengar suara ayah Ivana, Wesley Erlangga, dari dalam kamar.

"Adrian, selama bertahun-tahun ini kamu benar-benar sudah banyak berkorban."

"Kalau bukan karena kamu yang selalu berada di sisi Ivana, kami benar-benar nggak tahu harus gimana."

Suara Adrian terdengar pelan dan tenang.

"Dulu, Kak Rafael meninggal karena menyelamatkanku."

"Sejak kematian kakaknya, Ivana menderita gangguan bipolar. Emosinya juga selalu nggak stabil."

"Menjaganya seumur hidup memang sudah menjadi tanggung jawabku."

Aku yang berdiri di luar pintu langsung tertegun.

Ternyata begitu.

Pantas saja selama bertahun-tahun ini, apa pun yang dilakukan Ivana, Adrian selalu melindunginya.

Hanya saja, kenapa Adrian harus membalas budi dengan mengorbankan keluargaku?

Aku mengepalkan tinju sambil bersiap menendang pintu. Namun sebelum sempat melakukannya, suara Wesley kembali terdengar disertai helaan napas panjang.

"Lalu, gimana rencanamu menghadapi Ferlin?"

"Bagaimanapun, kematian kedua orang tuanya memang ada kaitannya dengan Ivana."

"Sekarang, dia sudah pulang ke Negara Tortaz. Sepertinya dia nggak akan membiarkan masalah ini berlalu begitu saja."

"Yang paling kutakutkan adalah dia kembali mengguncang emosi Ivana."

Ruang rawat itu kembali hening selama beberapa saat.

Kemudian, Adrian berbicara dengan nada datar.

"Apa hubungannya dengan Ivana?"

"Kematian ibunya memang murni sebuah kecelakaan."

"Ayahnya juga sudah sakit parah. Sekalipun waktu itu Ivana nggak membuatnya marah saat mereka bertemu, cepat atau lambat dia tetap akan meninggal."

"Lagian semua itu sudah berlalu bertahun-tahun. Kalaupun Ferlin benar-benar ingin membawa perkara ini ke pengadilan lagi, kita juga nggak perlu takut."

Otakku seketika berhenti bekerja.

Ayahku ... meninggal karena dibuat marah oleh Ivana?

Kenapa tidak ada seorang pun yang pernah memberitahuku?

Kenapa?

Dalam sekejap, seluruh tubuhku mulai gemetar. Telingaku berdenging hebat.

Selama bertahun-tahun ini, kebencian dan penderitaan yang kupikul ....

Ternyata baru sebagian kecil dari kenyataan yang sebenarnya.

Sementara itu, orang-orang di dalam ruang rawat tersebut membicarakan kematian kedua orang tuaku dengan begitu enteng, seolah mereka hanya sedang membahas sesuatu yang sama sekali tidak penting.

Kebencian yang luar biasa menghantam dadaku. Aku benar-benar kehilangan kendali.

Brak!

Aku menendang pintu ruang rawat hingga terbuka.

Raut wajah Adrian langsung berubah drastis. Secara refleks dia memanggilku.

"Ferlin ...."

Aku langsung menerjang ke arah Adrian dan menamparnya keras-keras!

Kepala pria itu sampai tersentak ke samping.

Dengan mata merah dipenuhi amarah, aku langsung menyerbu ke arah ranjang pasien.

Ivana yang semula sedang bersandar di kepala ranjang sambil memejamkan mata langsung kutarik hingga bangkit.

"Kamu belum puas setelah membunuh ibuku? Ayah dan nenekku pun nggak kamu lepaskan!"

Aku mengangkat tangan dan hendak menamparnya.

Namun, pergelangan tanganku kembali dicengkeram erat.

Yang kulihat tetaplah Adrian.

Dia mengerutkan kening, lalu berbincang dengan suara yang terdengar berat.

"Ferlin, tenangkan dirimu."

Aku mendongak menatapnya. Air mataku terus mengalir tanpa bisa dihentikan.

"Mana mungkin aku bisa tenang?"

"Kalian sudah menghancurkan keluargaku!"

"Sekarang, nenekku juga sudah meninggal!"

"Adrian, aku akan melawan kalian habis-habisan!"

Ivana langsung menangis. Dengan gemetar, dia mencengkeram lengan ayahnya.

"Ayah ... aku takut banget .... Dia sudah gila ya ...."

Wajah Wesley pun langsung menjadi muram. Dia memberi perintah dengan nada dingin.

"Mana para pengawal? Bawa wanita gila ini keluar!"

Beberapa pengawal berpakaian hitam segera berlari masuk ke dalam ruang rawat.

Aku menatap Wesley dengan tatapan penuh kebencian, lalu melontarkan pertanyaan sambil menggertakkan gigi.

"Kenapa? Kalian mau melakukan hal yang sama seperti lima tahun lalu? Menculikku, lalu memaksaku difoto telanjang lagi?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 19

    Pernikahan kami berlangsung dengan sangat megah.Peter seolah-olah menghadirkan semua hal terbaik yang ada di Kota Agenso untukku.Lorong menuju pelaminan dipenuhi hamparan bunga mawar.Lampu-lampu kristal berkilauan bagaikan hamparan bintang.Sementara itu, aku yang mengenakan gaun pengantin melangkah perlahan ke arahnya.Tiba-tiba aku teringat pada diriku bertahun-tahun yang lalu.Saat aku meninggalkan Kota Agenso seorang diri, bahkan untuk sekadar bertahan hidup pun terasa begitu sulit.Saat itu, aku merasa seolah seluruh dunia telah meninggalkanku.Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang mencintaiku sedalam ini.Saat tiba giliran mengucapkan janji pernikahan, Peter yang biasanya begitu tenang pun terlihat sedikit gugup.Peter menggenggam erat tanganku, lalu berbicara dengan suara pelan."Sejujurnya, pada awalnya aku cuma mau mencari seorang istri yang cocok.""Seseorang yang cantik, pintar, bisa membawa diri, dan yang paling penting

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 18

    Tindakan Adrian benar-benar membuat Peter murka.Dia langsung berdiri, lalu menghantamkan tinjunya dengan keras ke wajah Adrian!Adrian sama sekali tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhuyung mundur karena pukulan itu dan seketika darah mengalir dari sudut bibirnya.Namun, Peter masih belum puas. Dia melangkah maju, mencengkeram kerah baju Adrian, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang nyaris tak terbendung."Kamu ini belum puas juga ya?""Dia mau menerima lamaranku atau nggak, tetap saja merupakan istriku!""Kamu sudah menyakitinya, tapi beraninya masih berdiri di sini?"Wajah Adrian sudah memar akibat pukulan itu. Namun, pandangannya tetap tertuju kepadaku.Saat itu, aku meraih tangan Peter."Sudahlah."Peter menoleh kepadaku. Kemarahan di matanya masih belum reda."Sayang, dia ...."Aku hanya menggeleng pelan."Jangan sampai orang yang sudah nggak penting merusak momen indah kita."Wajah Adrian langsung berubah pucat pasi.Sementara itu, aku mengulurkan tangan, mengambil cinci

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 17

    Aku menatap mata Adrian sejenak. Baru setelah itu aku menyadari, dia benar-benar serius.Aku langsung membalas dengan nada menyindir, "Adrian, meskipun kamu mau menjadi selingkuhanku, aku juga nggak sudi. Memangnya bagian mana dari dirimu yang bisa menandingi suamiku?"Bahkan setelah aku berkata sejelas itu, Adrian tetap tidak mau menyerah."Menurutmu, apa yang membuatnya begitu baik? Aku bisa belajar."Aku sempat tertegun.Adrian yang dulu selalu angkuh, dingin, dan merasa dirinya berada di atas segalanya ....Kini justru mengucapkan kata-kata seperti itu.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku menatapnya sambil berujar dengan sungguh-sungguh."Dia baik dalam segala hal karena dia adalah Peter. Kamu nggak akan pernah bisa menyamainya."Cahaya terakhir yang tersisa di mata Adrian akhirnya benar-benar padam.Sementara itu, kesabaranku juga sudah habis."Cepat pergi. Kalau kamu masih nggak mau keluar, aku akan memanggil orang."Namun bukannya pergi, Adrian justru mengulurkan tangan dan

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 16

    Adrian tanpa sadar melirik ke arahku.Di wajahnya, bahkan terlihat sedikit kepanikan.Saat berikutnya, dia segera berjalan cepat menghampiriku dan buru-buru memberikan penjelasan."Ferlin, jangan salah paham.""Dia adik sepupuku.""Dia akan segera menikah. Aku cuma menemaninya datang untuk mencoba gaun pengantin."Aku sedikit tertegun.Aku benar-benar tidak mengerti alasan Adrian merasa perlu menjelaskan semua itu kepadaku.Sesaat kemudian, aku tidak bisa menahan tawa."Adrian, sebanyak apa pun adikmu, memangnya ada hubungannya denganku?"Wajah Adrian langsung sedikit memucat.Sementara itu, aku sudah terlalu malas untuk terus memandangnya."Bisa tolong keluar? Aku mau mulai mencoba gaun pengantinku."Staf butik yang berdiri di samping kami juga terlihat canggung."Pak Adrian, gimana kalau Anda ...."Namun, Adrian seolah sama sekali tidak mendengarnya.Tatapannya jatuh pada beberapa gaun pengantin utama yang dipajang di samping.Makin lama, wajahnya terlihat makin pucat.Terutama ketik

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 15

    "Lagi lihat apa?"Tiba-tiba terdengar suara Peter yang jernih dari belakangku.Aku tersadar dari lamunanku, lalu mengulurkan tangan untuk menutup rapat tirai jendela."Bukan apa-apa.""Aku cuma melihat seseorang yang sudah nggak penting."Cahaya merah kecil dari ujung rokok di luar jendela seketika tertutup oleh tirai yang tebal.Seolah-olah, orang itu juga benar-benar telah terpisah dari kehidupanku untuk selamanya.Peter memelukku dari belakang, sementara dagunya bersandar di bahuku."Benaran sudah nggak penting?"Aku berbalik menghadapnya, lalu memegang kedua pipinya dan menciumnya dengan mantap."Ya. Bagiku, kamulah orang yang paling penting."Saat kata-kata itu terucap ....Untuk pertama kalinya, hatiku terasa begitu ringan.Seolah-olah akhirnya aku benar-benar telah mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu.Sorot mata Peter seketika dipenuhi senyum.Saat berikutnya, dia langsung menggendongku dan menjatuhkanku kembali ke atas ranjang."Sayang, malam ini kamu pintar sekali meray

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 14

    Adrian menatap tangan kami yang saling menggenggam. Wajahnya perlahan berubah makin pucat."Mana mungkin ...."Peter terkekeh pelan.Tanpa ragu, dia langsung merangkul pinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa aku memang sepenuhnya miliknya."Pak Adrian, harus seperti apa lagi supaya kamu percaya bahwa kami ini benar-benar suami istri?"Peter mengangkat pandangan dengan santai, tetapi nada bicaranya terdengar sangat menyebalkan."Gimana kalau aku dan istriku langsung memperlihatkannya sekali di depanmu?"Aku hanya bisa terdiam.Wajahku sontak memerah. Aku pun segera memukul lengannya pelan."Peter, jangan bicara sembarangan!"Melihat diriku yang langsung salah tingkah, Peter justru tertawa makin puas.Dia meraih tanganku, lalu menunduk dan mengecup punggung tanganku dengan lembut."Kenapa malu? Bukannya hal seperti itu wajar dilakukan oleh suami istri?"Wajahku terasa makin panas.Sementara itu, raut wajah Adrian sudah berubah sangat muram.Tatap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status