แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: L.S
Adrian menatapku lekat-lekat. Sorot matanya bergejolak oleh emosi yang sama sekali tidak mampu kupahami.

"Apa yang baru saja kamu katakan?"

Mataku memerah dan dadaku naik turun dengan hebat.

"Aku bilang, Wesley pernah menculikku dan mengancamku dengan foto-foto telanjangku!"

Kepanikan jelas melintas sesaat di mata Wesley.

Namun Adrian hanya mengernyit, lalu menimpali dengan suara berat.

"Sudah cukup, Ferlin."

"Paman Wesley adalah orang yang sepanjang hidupnya hidup dengan jujur dan terhormat. Keluarga Erlangga juga nggak pernah melakukan perbuatan yang melanggar hukum."

"Jangan menuduh sembarangan."

Hatiku seolah ditusuk pisau.

Ternyata bahkan sampai saat seperti ini pun, Adrian tetap tidak memercayaiku.

Benar juga.

Dia memang tidak pernah berpihak kepadaku.

Air mata mengaburkan pandanganku. Aku lalu berbicara dengan suara serak.

"Tentu saja kamu nggak akan percaya."

"Di matamu, Ivana nggak pernah bersalah. Keluarga Erlangga juga selalu bersih."

"Sementara itu, aku akan selalu menjadi wanita gila yang suka membuat keributan dan kehilangan kendali."

Aku mengusap air mataku.

"Tapi, nggak apa-apa. Suatu hari nanti, aku akan merebut kembali keadilan itu dengan tanganku sendiri."

Adrian hanya menatapku tanpa berkata apa-apa.

Di sisi lain, Wesley benar-benar mulai panik. Ekspresinya sangat muram.

"Pengawal, kenapa masih diam saja? Bawa wanita gila ini keluar!"

Beberapa pengawal segera menerjang ke arahku.

Aku meronta sekuat tenaga.

"Lepaskan aku! Kalian semua bajingan!"

Adrian sedikit mengernyit, lalu mulai berbicara.

"Paman Wesley, neneknya baru saja meninggal. Emosinya sedang nggak stabil."

"Jangan ambil hati ucapannya. Antar dia pulang saja."

Wesley langsung mengangguk.

"Tenang saja. Aku nggak akan berdebat dengan orang yang mengalami gangguan jiwa."

"Kamu temani saja Ivana. Biar aku yang mengantar Nona Ferlin keluar."

Selesai berbicara, Wesley menoleh ke arahku. Tatapannya dipenuhi hawa dingin yang menyeramkan.

Aku diseret keluar rumah sakit dengan paksa.

Sepanjang jalan aku terus meronta. Namun, tidak ada seorang pun yang memedulikanku.

Baru setelah kami tiba di area parkir bawah tanah, Wesley menghentikan langkahnya.

"Nona Ferlin, kenapa kamu nggak pernah belajar dari kesalahanmu?"

Wesley menatapku dengan senyum menyeramkan.

Aku pun balas menatapnya tajam.

"Kalian cepat atau lambat akan menerima balasannya!"

Wesley tertawa.

"Balasan?"

"Di dunia ini, orang yang punya kekuasaan dan pengaruhlah yang menentukan aturan."

"Orang sehina dirimu, memangnya bisa melawanku menggunakan apa?"

Tak lama kemudian, beberapa orang berpakaian jas dokter berjalan mendekat.

Pria paruh baya yang memimpin rombongan itu melaporkan dengan hormat.

"Pak Wesley, semua prosedur rawat inap sudah selesai."

Wesley tersenyum tipis.

"Emosi Nona Ferlin sangat nggak stabil dan dia memiliki kecenderungan melakukan kekerasan. Dia perlu menjalani perawatan. Tolong jaga dia baik-baik."

Baru saat itulah aku menyadari niatnya. Wesley ingin memasukkanku ke rumah sakit jiwa!

"Kalian sudah gila? Aku nggak sakit!"

Aku mati-matian melawan. Namun, beberapa pria langsung menekan tubuhku hingga aku tidak mampu bergerak.

Wesley menatapku dari atas dengan penuh penghinaan.

"Ferlin, menurutmu sekarang masih ada orang yang akan memercayai perkataanmu?"

Wesley perlahan mengeluarkan ponselnya, lalu membuka sebuah album foto.

Foto-foto yang selama ini menjadi mimpi burukku langsung memenuhi layar.

Kepalaku berdengung. Wajahku seketika pucat pasi.

Wesley terlihat sangat puas melihat reaksiku.

"Foto-fotomu yang indah itu, aku masih menyimpannya dengan baik."

"Menurutmu, apa yang akan terjadi kalau sekarang juga kusebarkan semua ini ke internet?"

Seluruh tubuhku gemetar. Mataku dipenuhi amarah yang membara.

"Kamu benar-benar bajingan! Seluruh keluargamu berengsek!"

Plak!

Sebuah tamparan keras menghantam wajahku.

Kepalaku tersentak ke samping. Telingaku kembali berdenging.

Di sampingku, seorang suster sudah mengeluarkan sebuah suntikan.

Cairan bening di dalamnya memantulkan cahaya dingin di bawah lampu.

Aku benar-benar mulai panik.

"Lepaskan aku!"

"Tolong!"

"Aku nggak punya gangguan jiwa!"

Hanya saja, tidak ada seorang pun yang menggubrisku.

Semua orang menahanku dengan wajah tanpa ekspresi.

Jarum suntik itu perlahan mendekat.

Tepat saat ujung jarumnya hampir menusuk kulitku ....

Suara rem mobil yang mengerem mendadak memekakkan telinga. Bersamaan dengan itu, terdengar suara seorang pria yang tegas dan lantang.

"Biar kulihat siapa yang berani menyentuhnya!"

Seorang pria turun dari sebuah mobil mewah. Dia mengenakan mantel panjang berwarna hitam. Aura yang dipancarkannya begitu kuat hingga membuat orang-orang di sekitarnya nyaris sulit bernapas.

Namun saat pandangannya jatuh pada diriku yang sedang ditekan di lantai, tatapannya berubah menjadi begitu dingin hingga terasa mengerikan.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 19

    Pernikahan kami berlangsung dengan sangat megah.Peter seolah-olah menghadirkan semua hal terbaik yang ada di Kota Agenso untukku.Lorong menuju pelaminan dipenuhi hamparan bunga mawar.Lampu-lampu kristal berkilauan bagaikan hamparan bintang.Sementara itu, aku yang mengenakan gaun pengantin melangkah perlahan ke arahnya.Tiba-tiba aku teringat pada diriku bertahun-tahun yang lalu.Saat aku meninggalkan Kota Agenso seorang diri, bahkan untuk sekadar bertahan hidup pun terasa begitu sulit.Saat itu, aku merasa seolah seluruh dunia telah meninggalkanku.Aku sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari nanti, akan ada seseorang yang mencintaiku sedalam ini.Saat tiba giliran mengucapkan janji pernikahan, Peter yang biasanya begitu tenang pun terlihat sedikit gugup.Peter menggenggam erat tanganku, lalu berbicara dengan suara pelan."Sejujurnya, pada awalnya aku cuma mau mencari seorang istri yang cocok.""Seseorang yang cantik, pintar, bisa membawa diri, dan yang paling penting

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 18

    Tindakan Adrian benar-benar membuat Peter murka.Dia langsung berdiri, lalu menghantamkan tinjunya dengan keras ke wajah Adrian!Adrian sama sekali tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhuyung mundur karena pukulan itu dan seketika darah mengalir dari sudut bibirnya.Namun, Peter masih belum puas. Dia melangkah maju, mencengkeram kerah baju Adrian, sementara sorot matanya dipenuhi amarah yang nyaris tak terbendung."Kamu ini belum puas juga ya?""Dia mau menerima lamaranku atau nggak, tetap saja merupakan istriku!""Kamu sudah menyakitinya, tapi beraninya masih berdiri di sini?"Wajah Adrian sudah memar akibat pukulan itu. Namun, pandangannya tetap tertuju kepadaku.Saat itu, aku meraih tangan Peter."Sudahlah."Peter menoleh kepadaku. Kemarahan di matanya masih belum reda."Sayang, dia ...."Aku hanya menggeleng pelan."Jangan sampai orang yang sudah nggak penting merusak momen indah kita."Wajah Adrian langsung berubah pucat pasi.Sementara itu, aku mengulurkan tangan, mengambil cinci

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 17

    Aku menatap mata Adrian sejenak. Baru setelah itu aku menyadari, dia benar-benar serius.Aku langsung membalas dengan nada menyindir, "Adrian, meskipun kamu mau menjadi selingkuhanku, aku juga nggak sudi. Memangnya bagian mana dari dirimu yang bisa menandingi suamiku?"Bahkan setelah aku berkata sejelas itu, Adrian tetap tidak mau menyerah."Menurutmu, apa yang membuatnya begitu baik? Aku bisa belajar."Aku sempat tertegun.Adrian yang dulu selalu angkuh, dingin, dan merasa dirinya berada di atas segalanya ....Kini justru mengucapkan kata-kata seperti itu.Sayangnya, semuanya sudah terlambat.Aku menatapnya sambil berujar dengan sungguh-sungguh."Dia baik dalam segala hal karena dia adalah Peter. Kamu nggak akan pernah bisa menyamainya."Cahaya terakhir yang tersisa di mata Adrian akhirnya benar-benar padam.Sementara itu, kesabaranku juga sudah habis."Cepat pergi. Kalau kamu masih nggak mau keluar, aku akan memanggil orang."Namun bukannya pergi, Adrian justru mengulurkan tangan dan

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 16

    Adrian tanpa sadar melirik ke arahku.Di wajahnya, bahkan terlihat sedikit kepanikan.Saat berikutnya, dia segera berjalan cepat menghampiriku dan buru-buru memberikan penjelasan."Ferlin, jangan salah paham.""Dia adik sepupuku.""Dia akan segera menikah. Aku cuma menemaninya datang untuk mencoba gaun pengantin."Aku sedikit tertegun.Aku benar-benar tidak mengerti alasan Adrian merasa perlu menjelaskan semua itu kepadaku.Sesaat kemudian, aku tidak bisa menahan tawa."Adrian, sebanyak apa pun adikmu, memangnya ada hubungannya denganku?"Wajah Adrian langsung sedikit memucat.Sementara itu, aku sudah terlalu malas untuk terus memandangnya."Bisa tolong keluar? Aku mau mulai mencoba gaun pengantinku."Staf butik yang berdiri di samping kami juga terlihat canggung."Pak Adrian, gimana kalau Anda ...."Namun, Adrian seolah sama sekali tidak mendengarnya.Tatapannya jatuh pada beberapa gaun pengantin utama yang dipajang di samping.Makin lama, wajahnya terlihat makin pucat.Terutama ketik

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 15

    "Lagi lihat apa?"Tiba-tiba terdengar suara Peter yang jernih dari belakangku.Aku tersadar dari lamunanku, lalu mengulurkan tangan untuk menutup rapat tirai jendela."Bukan apa-apa.""Aku cuma melihat seseorang yang sudah nggak penting."Cahaya merah kecil dari ujung rokok di luar jendela seketika tertutup oleh tirai yang tebal.Seolah-olah, orang itu juga benar-benar telah terpisah dari kehidupanku untuk selamanya.Peter memelukku dari belakang, sementara dagunya bersandar di bahuku."Benaran sudah nggak penting?"Aku berbalik menghadapnya, lalu memegang kedua pipinya dan menciumnya dengan mantap."Ya. Bagiku, kamulah orang yang paling penting."Saat kata-kata itu terucap ....Untuk pertama kalinya, hatiku terasa begitu ringan.Seolah-olah akhirnya aku benar-benar telah mengucapkan selamat tinggal pada masa lalu.Sorot mata Peter seketika dipenuhi senyum.Saat berikutnya, dia langsung menggendongku dan menjatuhkanku kembali ke atas ranjang."Sayang, malam ini kamu pintar sekali meray

  • Angin Senja Membawa Pergi Kenangan   Bab 14

    Adrian menatap tangan kami yang saling menggenggam. Wajahnya perlahan berubah makin pucat."Mana mungkin ...."Peter terkekeh pelan.Tanpa ragu, dia langsung merangkul pinggangku dan menarikku ke dalam pelukannya, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa aku memang sepenuhnya miliknya."Pak Adrian, harus seperti apa lagi supaya kamu percaya bahwa kami ini benar-benar suami istri?"Peter mengangkat pandangan dengan santai, tetapi nada bicaranya terdengar sangat menyebalkan."Gimana kalau aku dan istriku langsung memperlihatkannya sekali di depanmu?"Aku hanya bisa terdiam.Wajahku sontak memerah. Aku pun segera memukul lengannya pelan."Peter, jangan bicara sembarangan!"Melihat diriku yang langsung salah tingkah, Peter justru tertawa makin puas.Dia meraih tanganku, lalu menunduk dan mengecup punggung tanganku dengan lembut."Kenapa malu? Bukannya hal seperti itu wajar dilakukan oleh suami istri?"Wajahku terasa makin panas.Sementara itu, raut wajah Adrian sudah berubah sangat muram.Tatap

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status