Share

60. Hasil strategi

last update Huling Na-update: 2025-12-04 22:20:01

Koridor menuju ruang singgasana terasa lebih panjang dari biasanya. Suara langkah Rael dan Paman Halim menggema di antara dinding-dinding batu yang menjulang. Penjaga istana memberi hormat saat keduanya lewat mata mereka mengikuti Paman Halim sebagai komandan pasukan, tetapi sedikit lebih lama berhenti pada Rael, pria muda yang dikenal sebagai otak paling tajam di seluruh kerajaan.

Lampu-lampu minyak menerangi pintu besar berukir lambang kerajaan. Seorang prajurit mengetuk dua kali, kemudian mendorong pintu berat itu terbuka.

Raja sudah menunggu.

Ia duduk tegak, wajahnya tegas namun tampak kelelahan. Beberapa dokumen berserakan di meja kecil di samping singgasana, menandakan bahwa malam ini juga bukan malam yang tenang baginya.

“Masuk,” perintah Raja dengan suara rendah.

Rael dan Paman Halim memberikan hormat, lalu maju beberapa langkah. Paman Halim berdiri tegap, sementara Rael sedikit menunduk, matanya fokus dan tajam.

“Aku memanggil kalian karena laporan-laporan yang saling bertent
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   84. Ingatan lama

    Beberapa bulan kemudian, keseimbangan yang rapuh itu diuji oleh sesuatu yang lebih berbahaya daripada tekanan luar: **ingatan lama**.Sebuah pamflet muncul di pasar-pasar pagi. Kertas murah, tinta pudar, bahasanya sederhana—namun isinya tajam. Bukan tuduhan. Bukan fitnah terang-terangan. Melainkan cerita: tentang masa lalu Rael, tentang asal-usulnya yang bukan bangsawan, tentang keputusan-keputusan “dingin” yang menyelamatkan kas namun menutup bengkel kecil, tentang orang-orang yang pernah kalah agar banyak yang selamat.Orang-orang membacanya, lalu menaruh kembali pamflet itu. Tidak marah. Tidak membela. Mereka mulai **mengingat**.Rael membaca satu salinan, melipatnya rapi. “Ini bukan serangan,” katanya pada kepala pengawal. “Ini pengujian legitimasi.”“Perintah?” tanya pengawal.“Tidak ada penangkapan. Tidak ada bantahan resmi.” Rael menggeleng. “Biarkan orang menilai.”---Di Dewan, beberapa anggota gelisah. “Kita harus menjelaskan!” seru seorang bangsawan.“Penjelasan terdengar s

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   83. Refolusi

    Beberapa minggu berlalu. Istana tampak tenang, terlalu tenang—seperti danau setelah badai, permukaannya rata namun dasarannya masih bergerak. Rael tidak lengah. Ia tahu, kekuasaan yang kehilangan pusat akan mencari jalan baru untuk mengeras.Komisi independen mulai bekerja. Nama-nama lama kembali muncul, bukan dengan teriakan, melainkan dengan tanggal, angka, dan tanda tangan. Banyak yang jatuh pelan—dipindahkan, dipensiunkan, diasingkan ke jabatan tak berpengaruh. Tidak ada kepala dipancung. Rael memastikan itu. Ketakutan yang berlebihan melahirkan dendam; ia butuh kesunyian.Suatu pagi, Raja memanggil Rael ke taman dalam. Angin berdesir di antara pepohonan tua.“Kerajaan berutang padamu,” kata Raja tanpa basa-basi.Rael menunduk. “Kerajaan hanya membayar utangnya sendiri, Yang Mulia.”Raja tersenyum tipis. “Aku ingin kau menjadi Perdana Menteri.”Kata itu menggantung. Rael mengangkat kepala, matanya tenang. “Saya tidak akan menerimanya.”Raja terkejut. “Mengapa?”“Karena satu orang

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   82. Penyelidikan

    Pagi penyelidikan dibuka seperti pesta yang dipaksakan. Aula besar dipenuhi wajah-wajah tersenyum kaku, bangku disusun rapi, panji kerajaan digantung lebih rendah—seolah-olah kerendahan itu bisa menenangkan ketegangan. Pangeran Mahkota duduk di kursi pemimpin sidang, sikapnya anggun, suaranya hangat.“Atas nama rekonsiliasi,” katanya, “kita cari kebenaran bersama.”Rael berdiri di sisi, tidak menentang, tidak mendukung. Ia memilih menjadi bayangan di tepi cahaya.Satu per satu saksi dipanggil. Juru pelabuhan, perwira logistik, kepala gudang. Pangeran bertanya dengan lembut, mengarahkan—cukup halus untuk tampak adil, cukup cerdas untuk menghindari lubang. Beberapa jawaban mengambang. Beberapa berputar. Dewan mengangguk-angguk, lega melihat sidang berjalan “tenang”.Hingga Rael meminta bicara.“Yang Mulia,” katanya sopan, “izinkan saya mengajukan satu saksi tambahan.”Pangeran tersenyum. “Tentu. Transparansi.”Pintu samping terbuka. Seorang pria tua masuk dengan langkah berat—Jenderal H

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   81. Permainan yang baru dimulai

    Hari-hari berikutnya berjalan seperti air tenang yang menyembunyikan arus deras di bawahnya. Rael tidak lagi sering terlihat di aula besar. Ia memilih bergerak di ruang-ruang kecil: arsip lama, kantor pajak wilayah, barak pengawal, dan rumah-rumah bangsawan kelas menengah yang jarang disapa kekuasaan. Di sanalah simpul-simpul nyata kerajaan berdenyut.Suatu sore, di ruang arsip yang pengap, seorang penjaga tua menyerahkan buku besar berdebu. “Catatan sebelum reformasi pajak,” katanya. “Tak banyak yang mau membacanya.”Rael membuka halaman demi halaman, jarinya berhenti pada pola yang ia kenal: aliran dana kecil, rutin, tak mencolok—menuju rekening perantara yang sama. “Ini bukan pencurian besar,” gumamnya. “Ini jaring.”Malamnya, di rumah seorang bangsawan kecil bernama Lady Merien, Rael duduk tanpa pengawalan. Teh dihidangkan sederhana. Wajah Merien tegang.“Apa yang Tuan Rael inginkan?” tanyanya.“Kejujuran,” jawab Rael. “Dan keberanian yang sering terlupakan.”Merien tertawa hambar

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   80. Kehadiran

    Malam kian pekat ketika pintu ruang kerja Rael diketuk tiga kali—cepat, terukur. Itu sandi lama dari jaringan timur. Rael tidak langsung menyahut. Ia menutup peta, memadamkan satu lampu, menyisakan cahaya temaram, baru berkata pelan, “Masuk.”Seorang pria kurus dengan mantel abu-abu menyelinap, wajahnya tegang. “Tuan,” bisiknya, “Dewan Utara bergerak lebih cepat dari perkiraan. Besok pagi mereka ajukan mosi pembatasan wewenang bendahara istana. Nama Anda disebut.”Rael tersenyum tipis, bukan karena terkejut—melainkan karena yakin. “Berarti umpan kita termakan.” Ia berdiri, melangkah ke jendela. Dari sana, halaman istana tampak tenang, padahal di baliknya arus intrik berputar seperti pusaran. “Siapa yang mendorong?”“Lord Varek,” jawab utusan itu. “Didukung dua keluarga dagang pelabuhan.”“Dua keluarga yang utangnya menggunung pada kas kerajaan,” gumam Rael. “Baik. Sampaikan pada orang kita di pelabuhan: tutup keran kredit mereka. Jangan kasar. Cukup berhenti menolong.”Utusan itu ragu

  • BAYANGAN PENASEHAT AGUNG   79. Politik berhenti berteriak

    Pagi berikutnya datang tanpa tanda bahaya, justru itu yang membuat Rael semakin waspada. Istana terlalu rapi, terlalu patuh. Dalam politik, ketenangan yang sempurna biasanya berarti seseorang sedang menyiapkan kejutan.Rael baru saja duduk ketika Lorian masuk dengan wajah lebih serius dari biasanya. Tidak tergesa, tapi jelas menahan sesuatu.“Ada apa?” tanya Rael tanpa mengangkat kepala dari dokumen.“Permintaan audiensi pribadi,” jawab Lorian. “Dari Dewan Dagang. Bukan lewat jalur resmi. Mereka ingin bertemu Anda… tanpa Kaisar.”Rael berhenti membaca. Perlahan ia mengangkat pandangan. “Tanpa Kaisar,” ulangnya.“Ya.”Rael tersenyum tipis. “Menarik. Orang-orang yang biasanya bersembunyi di balik stempel sekarang ingin bicara langsung.”Ia berdiri. “Terima. Tapi di ruang terbuka.”Lorian mengerutkan kening. “Bukankah itu berisiko?”“Justru karena berisiko,” jawab Rael tenang. “Mereka ingin kesepakatan. Aku ingin saksi.”---Dewan Dagang datang lengkap. Enam orang, pakaian mahal, senyum

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status