LOGINIsabella Swan, berkorban demi pria yang dicintainya. Dirinya, menggantikan kekasihnya itu sebagai tersangka pembunuhan. Kepercayaan dan cintanya dikhianati. Bahkan, kekasihnya berselingkuh dengan saudarinya. Hal itu, membuat Bella terjebak dibalik jeruji. Tidak ada yang menolongnya, bahkan mereka semua berusaha agar dirinya mendekam dan membusuk di sana. Bella keguguran di balik jeruji. Hidupnya seakan di neraka, tetapi rasa benci memberikan kekuatan untuk bertahan hidup. Pengorbanannya itu, membawa Bella ke hadapan Benedict Knight. Pengusaha kaya dan terkenal arogan. Pria yang kehilangan kekasih, karena kecelakaan yang membuat Bella meringkuk dibalik jeruji. Rasa benci membuat Ben semakin terobsesi kepada Bella. Membuatnya selalu memperhatikan setiap langkah wanita itu, baik dibalik maupun di luar jeruji. Bau busuk tidak akan mampu disembunyikan selamanya. Akan tiba saatnya, bau itu menguar. Perlahan dan pasti, kebenaran mulai terungkap. Rasa benci, perlahan berubah menjadi cinta. Membuat kehidupan Bella yang seakan di neraka, berubah total.
View MoreThe morning air outside La Petite Bean was brisk, but the warmth inside wrapped around anyone who stepped in like an old friend’s embrace. From the outside, the café looked simple—a small, worn sign, chipped at the edges, swayed in the breeze.
Inside, the rich aroma of freshly brewed coffee blended with hints of vanilla and cinnamon. Sunlight streamed through foggy windows, casting a soft glow on the worn wooden floors and mismatched furniture. Bookshelves filled with old novels and local art lined the walls, making it feel like a cosy living room that welcomed everyone.
“Mary, table four needs an extra shot in their Americano,” called Gale from the back.
“Got it,” she replied. Gale Bryan, the owner, worked quietly behind the counter. His gray hair peeked out from under a faded baseball cap as he moved with the ease of someone who’d been doing this for over fifty years. He wasn’t much for talking, but his kindness showed in the way he brewed coffee.
Mary Jane Carter stood behind the counter, apron tied neatly around her waist and her hair pulled into a messy bun. She had a quiet beauty, the kind you noticed slowly—in the curve of her smile or the warmth in her hazel eyes. At five-foot-four, she didn’t stand out, but she had a quiet determination. She knew what she wanted and wouldn’t stop until she got it.
Life hadn’t been easy for Mary Jane. She worked multiple jobs, saving every penny she could. Her parents had always supported her dreams, but there was never enough money to back them up. So, Mary Jane worked. Hard.
Today was no different. The morning rush had started early, and she moved through it with practised ease—taking orders, pulling espresso shots and chatting with regulars. But her mind was elsewhere. She loved La Petite Bean, but it was just a stepping stone. She had bigger dreams that were never far from her thoughts.
As she handed a regular his usual, she caught a glimpse of herself in the reflection of the counter. She looked tired—dark circles under her eyes, her hands aching from the long hours. But she didn’t mind. She loved the work.
Gale had owned the shop for as long as anyone could remember. People came for the coffee, but they stayed for the atmosphere. As Mary Jane poured another espresso, she found herself thinking about what her own café would look like. Small, homey, but with her own personal touch.
“MJ, you have to cover for me tonight,” called Betty, her best friend. Betty was rushing in as usual, her latest plan involving whatever guy she was seeing this week.
“Please? I swear this one’s different,” Betty pleaded, flashing a playful grin.
Mary Jane sighed, raising an eyebrow. “You say that every time, Bet.”
“This time I mean it!” Betty winked. “Come on, I’ll owe you big time.”
“Fine, but you better not bail on me next week.”
“You’re the best!” Betty called, already halfway out the door.
With Betty gone, Mary Jane returned to her tasks. The lunch rush hadn’t started yet, so she took a moment to lean against the counter and let her mind wander. She’d been saving every penny she could, but it never felt like enough. Rent was high, and though Gale paid her fairly, getting ahead seemed impossible.
Sometimes, when she saw the well-dressed businessmen and women glide in, phones glued to their ears as they ordered lattes without even looking up, she wondered how it felt to live their life. It seemed like they had it easy, like their casual wealth allowed them to breeze through the world while she worked twice as hard just to keep up.
As if on cue, a group of young professionals walked in, their conversation full of business jargon. Mary Jane took their order, forcing a smile.
“Did you hear? Cogsworth Enterprises is expanding again,” one of the women said, her tone filled with awe. “Ethan Cogsworth is a genius. He’s revolutionizing the industry!”
Mary Jane barely registered the name, but it was enough to catch her attention. Ethan Cogsworth. Of course, she’d heard of him. The Cogsworth family was practically royalty in the city, their name attached to every major development. Ethan, the youngest, was constantly in the news—whether for his latest business move or being spotted at glamorous events with a different woman each time.
She didn’t know much about him, but she didn’t need to. People like Ethan lived in a different world, one she had no interest in entering. The rich were always out of touch with reality. She’d worked too hard to get caught up in their lives.
Still, their conversation lingered as she made their drinks. “Ethan this, Ethan that”. To Mary Jane, he was just another spoilt rich guy.
As the afternoon wore on and the sun dipped lower, casting long shadows across the café floor, Mary Jane’s feet and back ached but she pushed through. There was always more work to be done, and she never left things unfinished.
With the lunch rush slowing, only a few regulars remained, tucked into corners with books or laptops. Mary Jane leaned against the counter, wiping her hands on her apron as she took in the quiet room. She loved this time of day, when the café was peaceful and she could hear herself think.
One day, she’d have her own café. A place that felt like home to everyone who walked through the door. And it would be hers, built with her own two hands.
But for now, she had another shift to work.
David bukanlah pria suci, walaupun memiliki impian yang mulia. David sudah begitu sulit mengendalikan diri, terhadap setiap rayuan yang dilancarkan oleh Bella. David tahu, dirinya hanya akan menjadi bagian dari rencana balas dendam wanita ini. Mirisnya, peran yang dipikul hanyalah sebatas teman kencan bagi Bella, tidak lebih.Apakah dirinya mampu menjalani hubungan seperti itu? Apakah dirinya mampu melanggar semua norma yang dijunjung tinggi selama ini? Yang terpenting adalah, bagaimana dirinya menjalani hidup pada saat Bella meninggalkannya?Bella mempererat pelukan dan memperdalam ciumannya. Bibir pria ini amat berbeda dengan bibir Ben. Bella menyukai rasa David, bahkan ingin rasa pria ini yang tertinggal pada dirinya.Pertahanan David luluh lantak. Ya, anggap saja ini bagian dari petualangan yang tidak berarti.Malam itu, Bella menerima David dengan penuh sukacita. Perlakuan David yang begitu lembut dan memuja dirinya, membuat B
Anehnya, kedua orang tuanya sama sekali tidak menghubungi. Namun, hal itu lebih membuat David merasa khawatir. Seakan, ada sesuatu yang direncanakan oleh kedua orang tuanya itu.TING TONG!Bel apartemennya berbunyi."Sial!" gerutu David dan bangkit dari sofa. Dirinya tahu, ayah dan ibu tidak akan tinggal diam. Mereka pasti datang untuk membicarakan apa yang terjadi tadi.Namun, David akan mengusir mereka pergi. Bagaimana mereka tidak mengerti, bahwa dirinya butuh waktu sendirian.Dengan kesal, David membuka pintu kasar."BUKANKAH SUDAH KUBILANG-"Teriakan David terhenti saat melihat siapa yang berada di depan pintu apartemennya.Bella langsung melangkah masuk dan memeluk pria itu. Seperti perkiraannya, memeluk pria ini terasa begitu tepat dan nyaman. Seakan apa yang menggerogoti jiwanya seketika sirna, ditelan kehangatan pria itu.David mengangkat kedua tangannya ke atas. M
Bella menundukkan wajahnya. Setidaknya dengan begitu, dirinya tidak perlu melihat wajah buruk pria itu. Lift berhenti dan pintu terbuka. Ben menarik kasar dirinya keluar dari lift. Sepanjang koridor, dapat dikatakan Bella diseret. Dengan sepatu setinggi ini, membuat Bella sulit menyamakan langkah kaki lebar pria itu.Beberapa kali, Bella hendak terjungkal. Namun itu tidak terjadi, sebab cengkeraman Ben begitu kuat.Bella tidak tahu ini lantai berapa, dirinya bahkan tidak peduli. Dirinya masih membutuhkan pria ini. Saat langkah ini diambil, Bella tahu jelas tidak ada jalan mundur. Kecuali, dirinya melepaskan rasa dendam dan kebenciannya. Namun, itu tidaklah mungkin.Ben memasukkan kartu dan mendorong pintu kamar hingga terbuka lebar. Lalu, dengan satu tarikan kuat, menarik Bella masuk ke dalam dan melepaskannya. Tubuh Bella limbung dan menabrak dinding kamar itu. Ben membanting pintu kuat hingga tertutup dan melangkah maju, menutup jarak di anta
Langkah kaki David terhenti. Tatapannya terkunci pada sosok yang berada di hadapannya. Sosok memukau yang melangkah pasti ke arahnya. Gaun merah itu ikut bergoyang mengikuti hentakan langkah kaki indah itu. Yang sesekali akan menyelinap keluar dari belahan gaun yang begitu tinggi.Semua itu dilihat David dalam gerakan lambat. Seketika suasana di sekitarnya menjadi hening. David hanya mampu mendengar suara detak jantungnya sendiri. Yang perlahan dan pasti, itu berdetak semakin kencang.Bella mengunci tatapannya, hanya kepada pria itu. Selain untuk menghindar dari Crystal, Bella juga ingin membuktikan perubahan dirinya. Apakah dirinya mampu mencium David di tengah ruangan yang ramai ini? Bahkan, di hadapan kedua orang tua pria itu? Bagaimana jika, David mendorongnya? Tidak, Bella tidak akan mengizinkan hal tersebut terjadi.Setelah menjadi seorang wanita dewasa, penuh percaya diri dan sadar akan kemolekannya, Bella yakin, dirinya tidak akan mampu


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore