共有

Balas Dendam Istri Jenderal Qu
Balas Dendam Istri Jenderal Qu
作者: Andrea_Wu

Bab 1. Pengkhianatan

作者: Andrea_Wu
last update 公開日: 2025-12-24 20:40:31

"Nona Shen, Nona Shen!"

Aroma dupa cendana berpilin lembut di Paviliun Anggrek, menyelimuti tirai sutra yang bergoyang pelan tertiup angin sore. Shen Lihua tengah duduk di depan meja rias, jemarinya yang ramping menata benang sulam, ketika langkah tergesa tiba-tiba memecah ketenangan paviliun itu.

Seorang pelayan wanita bernama Luo Qingyu berlari masuk dengan wajah pucat, napasnya tersengal seolah baru saja dikejar sesuatu yang mengerikan.

"Nona Shen, ini gawat." Napasnya naik turun seiring degup jantungnya yang berpacu setelah berlari dari paviliun di sayap timur.

Wanita yang dipanggil oleh pelayan Luo itu adalah Shen Lihua, putri sah pejabat negara Shen Mo, sekaligus istri resmi Jenderal Qu Liang—pernikahan yang telah berlangsung selama tiga tahun atas titah langsung dari Kaisar.

"Qingyu," ucap Shen Lihua tenang, meski alisnya terangkat tipis. "Kenapa kau berlari seperti dikejar arwah? Mana tata krama yang kau pelajari selama ini."

Qingyu segera berlutut. Dadanya masih naik turun menahan kepanikan. Sekilas matanya melirik ke belakang, lalu kembali pada sosok Shen Lihua sebelum menunduk, jemarinya memilin ujung gaun dengan gugup.

"Nona… p-pelayan dari Paviliun Teratai… pelayan bernama Su Minshan, dia…"

Shen Lihua menghentikan sulamannya. Jantungnya berdebar keras. Dari raut wajah Luo Qingyu, ia menangkap gurat ketakutan yang sulit disembunyikan.

"Ada apa dengannya?"

Qingyu menelan ludah. Suaranya bergetar. Ia menatap Shen Lihua, namun kata-kata seolah terkunci di tenggorokannya—terbelenggu oleh kenyataan yang baru saja ia dengar.

"Luo Qingyu, jangan menguji kesabaranku!" Nada suara Shen Lihua naik satu oktaf. Ia tak lagi peduli pada sikap lembut yang dituntut oleh gelar kebangsawanannya; rasa penasaran itu telah mencapai ubun-ubun.

"Pelayan Su... Dia… dia hamil, Nona."

Benang sulam terlepas dari jemari Shen Lihua, jatuh ke lantai tanpa suara. Ia membiarkannya menggelinding hingga membentur kaki meja.

Mendadak, ruangan itu seketika sunyi.

Tangan Shen Lihua melemas, seolah seluruh tulang di tubuhnya luruh bersamaan.

"Siapa ayah anak itu?" tanya Shen Lihua pelan. Nadanya nyaris tak beriak, namun jemarinya perlahan mengepal di balik lengan jubah.

Qingyu menunduk lebih dalam. Ia ragu—antara harus mengatakannya atau menelan kebenaran itu seorang diri.

"Seluruh pelayan sudah tahu… Jenderal sering bermalam di Paviliun Teratai sejak tiga bulan lalu. Tabib kediaman juga telah dipanggil secara diam-diam." Luo Qingyu tak mengatakannya secara gamblang.

Namun, dari kata-kata itu saja, Shen Lihua sudah mampu menebak siapa ayah dari bayi yang dikandung pelayan Su Minshan.

Tiga bulan.

Wajah Shen Lihua tetap tenang, seolah kabar itu hanyalah angin lalu. Namun di balik ketenangan tersebut, dadanya terasa diremas begitu kuat. Ia telah menikah selama tiga tahun, meminum ramuan pahit setiap hari, menahan mual dan pusing demi satu harapan—seorang anak yang tak kunjung hadir di rahimnya.

Dan kini, seorang pelayan rendahan… lebih dulu mengandung darah sang jenderal.

Bibir Shen Lihua melengkung tipis. Bukan senyum—melainkan garis getir yang nyaris menyayat.

"Berapa usia kandungannya? Tabib mengatakan sesuatu, Qingyu?" gumamnya lirih.

"Tabib mengatakan jika usia kandungan pelayan Su, sekitar dua bulan."

Miris, sungguh miris.

Di saat ia berjuang meminum ramuan pahit itu, menunggu keajaiban datang, berdoa setiap malam pada para dewa agar rahimnya berkenan menerima kehidupan… suaminya justru bermain gila dengan seorang pelayan rendahan.

"Apa aku tidak seberguna itu, Luo Qingyu." Air mata mengalir di pipi seputih porselen milik Shen Lihua. Ia terduduk di lantai, tubuhnya rapuh tak berdaya.

Mendengar tangis pilu sang Nona, Qingyu baru berani mengangkat kepala. "Nona, apa kita perlu melapor pada Nyonya Tua Qu?"

Shen Lihua bangkit perlahan. Jubah putih gadingnya menyapu lantai. Langkahnya tetap anggun seperti biasa—tak ada yang berubah di mata orang lain. Namun di dalam hatinya, segalanya telah remuk oleh perbuatan sang suami.

"Tidak," katanya dingin.

Luo Qingyu menatap tak mengerti, bola matanya mengikuti sosok Shen Lihua yang tampak begitu rapuh malam itu.

Shen Lihua melangkah menuju jendela, menatap kolam teratai yang mulai layu dimakan musim gugur. Kelopak-kelopak bunga itu jatuh satu per satu ke permukaan air—seperti hatinya yang perlahan tenggelam.

"Tapi, Nyonya Tua Qu harus—"

"Jika aku mengatakannya sekarang," sambarnya pelan, "mereka hanya akan berkata aku iri karena tak bisa memberi keturunan."

Ia tertawa kecil—tertahan dan pahit. Rasa sakit di dadanya menusuk seperti dihujam belati.

"Mana mungkin begitu, Nyonya Tua Qu pasti akan menentang kehamilan pelayan Su. Anda adalah istri sah Jenderal Qu, Nyonya di kediaman Jenderal. Saya yakin beliau akan memihak pada Anda."

Namun Shen Lihua tetap diam. Ia terlalu takut untuk bersuara.

Ia dididik dalam keluarga terhormat dengan doktrin untuk selalu patuh pada suami dan keluarga besarnya.

Ia tak boleh menentang siapa pun, bahkan ketika dirinya benar.

"Nona Shen, jangan diam saja. Anda harus—"

"Apa Jenderal ada di sana?" Ia mengalihkan pertanyaan.

Detik itu juga, Luo Qingyu mengangguk.

"Apa dia terlihat—"

"Ya, aku bahagia, dan kau juga harus menerima kehamilan Su Minshan."

Shen Lihua langsung menoleh.

Ia mendapati suaminya berjalan masuk sambil memapah Shu Minshan. Wanita itu bersandar manja di bahu sang jenderal.

Saat itu juga, dunia Shen Lihua runtuh.

Hatinya berdenyut nyeri—seolah seluruh hidupnya hancur dalam satu tarikan napas.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 185. Ending

    Keheningan di tepi kolam itu tidak lagi terasa seperti jeda, melainkan titik balik dari dua takdir besar yang akhirnya saling menemukan. Tangan Shen Lihua masih berada dalam genggaman Lin Ye Su, namun kini bukan sekadar sentuhan hangat—melainkan ikatan yang tidak lagi bisa dipisahkan oleh jarak, status, ataupun rahasia yang selama ini mereka sembunyikan. Shen Lihua menatap pria di hadapannya dalam diam yang panjang. Cahaya bulan memantul di matanya, namun kali ini tidak hanya memantulkan ketenangan—ada sesuatu yang jauh lebih dalam, sesuatu yang selama ini ia tahan rapat bahkan dari dirinya sendiri. "Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Ru. Kau tahu, aku adalah Kaisar Yanqing. Aku—""Aku akan memaksa pangeran ketiga untuk naik takhta. Aku tidak mau saat kau melahirkan nanti, aku belum menjadi suamimu."Lin Ye Su benar. Kandungannya akan semakin membesar, dan dia akan melahirkan. Di fase ini dia membutuhkan Lin Ye Su sebagai pendamping. Lagipula, apalagi yang di acara. Semua sudah

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 184. Dilamar

    Keheningan yang menyelimuti aula Paviliun Seratus Ramuan pecah perlahan, bukan karena suara keras, melainkan oleh napas tertahan yang akhirnya dilepaskan satu per satu. Para tabib yang sebelumnya penuh keraguan kini menatap Shen Lihua dengan ekspresi yang sama—takjub, bahkan nyaris tidak percaya bahwa mereka baru saja menyaksikan sesuatu yang selama ini hanya ada dalam legenda. Beberapa di antara mereka saling berbisik, menyebut-nyebut teknik akupunktur tingkat tinggi yang nyaris punah, sementara yang lain menatap pasien yang kini telah sadar dengan mata yang masih sulit menerima kenyataan. Kepala Paviliun melangkah maju, janggutnya sedikit bergetar, bukan karena usia, melainkan karena gejolak emosi yang berusaha ia tahan. Tatapannya kembali tertuju pada Shen Lihua, kali ini tanpa sisa meremehkan. "Metode yang kau gunakan… bukan teknik biasa," ucapnya perlahan, seolah memilih setiap kata dengan hati-hati. "Jika bukan karena aku melihatnya sendiri, aku tidak akan percaya." Namun S

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 183. Menyembuhkan

    Para penjaga sempat terdiam sesaat setelah mendengar ucapan itu. Bukan karena percaya—melainkan karena terkejut dengan keberanian yang nyaris terdengar seperti kegilaan. Lalu, tawa mereka pecah lagi. "Memenggal kepalamu?" Salah satu penjaga menyeringai lebar. "Kau pikir nyawamu berharga sampai kami repot-repot memenggalnya?" Namun penjaga lainnya mengangkat tangan, menghentikan rekannya. Tatapannya meneliti Shen Lihua dari ujung kepala hingga kaki, seolah mencoba menimbang sesuatu yang tidak kasat mata. "Festival hampir dimulai," gumamnya. "Banyak tabib dari berbagai wilayah sudah datang… satu orang lagi tidak akan membuat banyak masalah." Ia menyipitkan mata. "Baik, tapi bukan kami yang akan menilaimu." Liang Zhen langsung menegakkan badan. "Nah, ini baru menarik. Kau Pasti bisa Yang Mulia Shen." "Nonaku memang hebat, dia itu tabib wanita terhebat di Daxia." Luo Qingyu lalu mengalungkan lengannya pada lengan Shen Lihua, dan hal itu membuat dada Liang Zhen berdebar-deb

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 182. Membuat Kebangkitan Di Yaxia

    Pria berjubah gelap itu mundur satu langkah lagi. Kali ini bukan karena perhitungan, melainkan karena naluri bertahan hidupnya berteriak keras di dalam dada. "Kalian…" suaranya serak, "Mustahil…" Shen Lihua tidak menjawab. Tatapannya tetap tenang, namun tekanan yang terpancar darinya tidak berkurang sedikit pun. Justru semakin dalam, seperti laut tanpa dasar. Lin Ye Su memutar seruling di tangannya, senyumnya tipis namun berbahaya. "Apa? Baru sadar bahwa kau salah memilih mangsa?" Liang Zhen, yang tadi begitu semangat, kini malah sedikit mundur lagi. "Aku rasa… kita tidak perlu membunuhnya, kan? Maksudku, dia sudah kelihatan mau pingsan begitu." "Diam, kau!" sahut Lin Ye Su singkat. Pria berjubah gelap itu menggertakkan giginya. Harga dirinya tidak mengizinkan dia mundur begitu saja. Namun instingnya berkata lain. "Aku…" Ia mencoba menenangkan napasnya, "Aku tidak tahu siapa kalian sebelumnya." "Dan sekarang kau sudah tahu," potong Shen Lihua datar. Hutan kembali sunyi. H

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 181. Kena Mental

    Dua sosok di belakang pria berjubah gelap itu melesat maju hampir bersamaan, gerakan mereka begitu cepat hingga hanya menyisakan bayangan samar di udara, seolah tubuh mereka tidak lagi terikat sepenuhnya oleh hukum kecepatan biasa, dan niat membunuh yang terpancar dari keduanya langsung mengunci Shen Lihua dan Lin Ye Su tanpa ragu sedikit pun. Liang Zhen langsung panik setengah mati. "Hei, hei, tunggu! Kita masih bisa bicara baik-baik, kan?!" serunya spontan sambil mundur terburu-buru, hampir tersandung akar pohon sendiri. Lin Ye Su mendesah panjang. "Diamlah, kau membuatku malu," ujarnya tanpa menoleh, nadanya santai seolah tidak ada dua pembunuh yang sedang berlari ke arah mereka. "Bagaimana aku bisa diam?! Mereka mau membunuh kita!" balas Liang Zhen dengan suara setengah berteriak. "Kalau begitu, jangan dibunuh," jawab Lin Ye Su enteng. "ITU JAWABAN MACAM APA?!" Namun sebelum Liang Zhen bisa terus mengomel, salah satu penyerang sudah tiba di hadapan mereka, pedang

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 180. Pertarungan

    Suasana hutan yang sempat tenang kembali berubah mencekam dalam sekejap. Udara terasa lebih berat dari sebelumnya, seolah dipenuhi tekanan tak kasat mata yang perlahan menekan dada siapa pun yang berdiri di sana. Tiga sosok yang muncul dari balik pepohonan itu melangkah perlahan, namun setiap langkah mereka terasa terukur dan penuh keyakinan, seperti pemburu yang sudah memastikan mangsanya tidak memiliki jalan kabur. Liang Zhen tanpa sadar mundur setengah langkah, tenggorokannya terasa kering, sementara matanya terus berpindah dari satu orang ke orang lainnya dengan gelisah."Hei, Putra Mahkota Lin. Kau tahu siapa mereka?"Lin Ye Su menatapnya malas. "Kau pikir aku peramal. Lagipula, kau ini seorang pria atau bukan. Apa pedangmu itu hanya sebagai hiasan? Memalukan."Liang Zhen tidak mau kehilangan harga diri. Dia maju ke depan, namun baru ditatap oleh salah satu dari mereka, dia sudah mundur, dan bersembunyi di balik tubuh Lin Ye Su. Pria yang berdiri di tengah tampak paling mencol

  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 88. Mengungkap Rahasia Kelam Masa Lalu

    Qu Liang melirik ke arah Su Minshan dengan tatapan penuh tanya. Sejak pertemuan mereka di Pasar Yunglong, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya—kata-kata Su Minshan terus terngiang, tak mau lenyap begitu saja. Begitu mereka tiba di Kediaman Qu, pria itu langsung menghentikan langkahnya. Tanpa

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 90. Menentang Aturan

    Shen Lihua terdiam di dalam kamar, jemarinya tetap menggenggam kuas, tetapi guratan tinta di atas kertas sudah lama berhenti. Ramuan yang seharusnya ia salin dengan teliti kini hanya menyisakan satu garis miring yang tak bermakna.Pikirannya melayang jauh.Kalung giok itu.Giok berbentuk setengah b

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 91. Kenangan Masa Lalu

    Suara pecahan porselen itu menggema di seluruh aula utama. Para pelayan yang berjaga di luar langsung berlutut, dahi mereka hampir menyentuh lantai marmer. Tak seorang pun berani mengangkat kepala. Kaisar Lin Shue berdiri dengan napas memburu. Tangannya masih sedikit gemetar setelah melemparkan c

    last update最終更新日 : 2026-03-29
  • Balas Dendam Istri Jenderal Qu   Bab 92. Terkuak

    Malam turun perlahan di Istana Yanqing.Permukaan kolam teratai memantulkan cahaya bulan yang pucat, berkilau seperti pecahan perak yang terapung di atas air. Angin berembus pelan, menggerakkan helai rambut Shen Lihua yang terurai di bahunya. Ujung lengan bajunya menyentuh permukaan air, menciptak

    last update最終更新日 : 2026-03-29
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status